
Hari berlalu, pagi selalu datang, walaupun kini berbeda..
nisa melamun, ia belum beranjak dari tepat tidur nya..
hari ini Beny mengajak nya untuk datang ke rumah duka IT mereka yang wafat dalam kecelakaan pesawat telah di serahkan oleh pihak maskapai pada keluarga,
"ben, aku rasa aku belum siap, bisakah kamu mewakili??? “ nisa mengirimkan pesan..
" ibu istirahat lah.. inshaAllah keluarga alm. pak Doni memaklumi, dan kebetulan pak Tama akan ikut bu"
"syukur lah ben.. sampaikan permintaan maaf ku ya pada keluarga ya"
"baik bu... "
hari ini hari ke tiga semenjak kejadian na'as itu, korban banyak yang di temukan, walau dalam keadaan tidak bernyawa.. Nisa maupun Riana harap harap cemas menunggu kabar.
dari pihak WO menghubungi Riana, karna mereka mendapatkan kabar klien mereka mendapatkan musibah,
"tunggu kabar ya, saya harus membicarakan ini dengan keluarga besar"
Riana tidak mau memutuskan masalah ini sendiri, karna ia tau Nisa masih optimis tentang nasib Yoga.
"Nisa sayang... " Riana menelpon nya
"iya ma"..
" emh.. pihak WO telpon Mama barusan, mamah bingung mau jawab apa.. "
Nisa sempat terdiam,
Riana mendengar nya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan berat
"Nisa minta jangan ada yang di batalkan ya ma, walaupun sampai hari H pernikahan,, biar semua berjalan seperti biasa, sampai Nisa benar benar mendapat kabar tentang Yoga"
Nisa mendengar Riana menangis di sebrang sana.. Riana tidak mau mematahkan semangat Nisa, ia menyetujui nya
"baiklah sayang, Mama ikut kamu ya"
"makasih ma"...
anak muda itu kembali, setelah hampir seharian ia pergi, Yoga ingin sekali bertanya kemana dia, tapi bagaimana cara nya mereka bahkan tidak bisa berbahasa Inggris.
kakek membuat semacam ramuan, ia mendekat pada Yoga, meminta ijin untuk mengolesi luka luka di wajah dan tubuh Yoga dengan ciptaan nya, Yoga membuka baju, punggung nya banyak memar kebiruan,
ramuan itu terasa dingin sebelum nya, namun saat yoga memakai baju nya kembali, ramuan itu berubah menjadi hangat, dan tubuh nya terasa sangat nyaman,
Yoga tersenyum menganggukkan kepala nya..
anak muda itu menyiapkan makan,
ia menggoreng ikan, seperti nya hasil tangkapan nya saat tadi pergi, di tambah seperti bumbu kecap juga daun daunan mungkin seperti lalapan,
mereka semua makan, Yoga baru merasakan makan sesederhana ini namun entah terasa sangat nikmat
hari berlalu, ini hari ke 4, Yoga semakin gelisah, pernikahan nya dua hari lagi, tapi dia belum ada tanda tanda kembali, dan komunikasi sangat terbatas,
suara pintu rumah kakek di ketuk. Yoga mendengar keramaian di luar.. ia keluar kamar.. kekek membukakan pintu dan menyalami tamu nya yang datang..
mereka berbicara dengan bahasa khas mereka,
Yoga melihat lelaki yang datang terlihat sangat rapih penampilan nya.. berbeda dengan kakek yang memakai sarung,
"sir, can you speak english?? " tanya lelaki itu,
Yoga seketika merasa lega, akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa ia ajak bicara,
"yes sir can you help me?" ucap Yoga,
lelaki itu tersenyum,
"it's my job why I came here"
Yoga meminta untuk di antarkan pulang bagaimana pun cara nya karna ia harus menikah dua hari lagi,
syukurlah, Yohanes tau tentang kecelakaan itu. ia akan membantu yoga pulang, namun perjalanan akan panjang karna alat transportasi di desa ini sangat terbatas,
yoga menyanggupi nya, asalkan ia bisa pulang,
Yohanes dan kakek yang baru Yoga tau bernama Johan sangat senang jika dia bisa membantu, cucu nya lah yang pergi ke pusat desa memanggil Yohanes untuk membantu Yoga,
Yohanes membantu Yoga berkomunikasi dengan kakek, mengucapkan banyak terimakasih, Yoga bingung harus menebus jasa kakek dengan apa, jika saja waktu nya tidak terbatas.
Yoga akhirnya pamit, ia memeluk kakek dengan sang cucu,
pejalanan dari rumah kakek ke pusat desa saja memakan waktu 5 jam menggunakan mobil Jeep milik Yohanes, setelah itu mereka akan pergi menggunakan kapal kecil untuk ke pulau pusat.
**
Razky tiba tiba demam, ia sangat rewel dan terus menangis, Nisa baru merasa kesulitan hari ini menghadapi putra nya, tidak ada yang bisa menyembuhkan tangisan nya,
ibu menelpon Riana,
mungkin dengan Oma nya Razky akan tenang,
namun nihil setelah Riana datang dengan Tama pun Razky tetap tantrum,
entah ide dari mana, Nisa membuka galeri HP nya, menemukan foto Yoga bersama Razky, Nisa menunjukan foto itu pada putra nya,
Razky masih menangis pada awal nya, Nisa menggulirkan layar HP nya, disana ada video saat Razky dengan Papa nya,
"sayang.. Papa" ucap Nisa, ia membawa Razky duduk, dengan masih sesegukan Razky meraih HP Mama nya, ia menepuk nepuk layar, dan tersenyum setelah nya..
Riana tak kuasa melihat itu semua,
"apakah Razky rindu Papa nya?? “ tanya Riana pada Tama,
Tama mengangguk,
mengusap lengan Riana di pelukan nya,
Nisa menahan tangis, Razky berhenti menangis ia begitu fokus pada HP nya, ia menangis saat video itu berhenti
" kamu kangen Papa nak?? “
Nisa menciumi kepala putra nya, entah sudah berapa kali video itu di putar, sampai Razky pun kini tertidur..
"Nisa.. " Tama memanggil nya,
"iya pa" semua keluarga berkumpul,
Tama beberapa kali melirik istri nya, ia sebenarnya tidak tega mengucapkan hal seperti ini pada Nisa,
"Nisa, sudah 5hari, dan Yoga belum di temukan,
pernikahan kalian juga seharus nya dua hari lagi, Papa bukan ingin menutup semua nya, namun kemungkinan sangat kecil Nisa"
"Papa mau membatalkan pernikahan? “ telak Nisa langsung tepat sasaran,
Nisa tersenyum,
" maaf pa, jika Papa merasa Yoga sudah tidak ada, tapi engga sama Nisa, ga akan ada yang di batalkan, proses pernikahan akan tetap di gelar, jika Papa keberatan tentang biaya Nisa akan membayarnya semua"
"bukan itu masalah nya Nisa, tapi Yoga belum di temukan, dan jika semua tetap berjalan, bagaimana jadi nya " Tama sangat sulit menjelaskan nya, Riana hanya diam ia juga kehilangan kata kata nya,
"keputusan Nisa udah bulat, jika Papa, Mama atau yang lain ny keberatan silahkan mudur, tapi Nisa engga" Nisa bangkit dari duduk nya, ia membawa Razky,
"maaf Nisa mau tidurin Razky di kamar"
Nisa pergi meninggalkan keluarga nya,
mereka pun semua terdiam, mau bagaimana lagi???