Annisa

Annisa
marah nya Yoga



"Yoga... "


Yoga terkejut Nisa menyentuh lengan nya...


"yoga aku... "


Nisa begitu saja mendekat, menyentuh tengkuk Yoga dan mencium bibir nya,


untuk beberapa detik mereka terhanyut,


namun Yoga cepat sadar setelah merasa Nisa membuka kancing kemeja nya..


Yoga melepas ciuman mereka, memandang wajah Nisa yang terlihat memerah,


"Yoga.. "


Nisa mendekat lagi, namun Yoga menahan nya,


"Nisa, Jimmy memberi mu obat. kamu jadi begini"


"aku ga tau, tiba tiba saja muncul rasa begini"


Nisa mencium Yoga lagi, kini lebih terburu buru melanjutkan lagi membuka kancing baju Yoga.. Yoga mencengkram pergelangan tangan nya..


"Nisa kamu sadar.. "


Nisa malah menggeleng..


Nisa tetap saja mendekat lagi..


"Nisa..... "


Yoga membentak nya dengan keras..


Nisa terdiam, ia menangis,.


"Yoga aku harus gimana??? " Nisa terlihat sangat panik, Yoga memeluk nya, menenangkan Nisa


"sialan si Jimmy, lihat saja nanti"


buru buru melanjutkan laju mobil nya..


jarak rumah Yoga lebih dekat dari rumah Jimmy tadi. Yoga membawa Nisa pulang ke rumah nya...


"kenapa ke sini?? aku mau pulang.. "


"ayo Nisa ini harus di tuntas kan... " ucap yoga..


Nisa menggeleng saat Yoga meminta nya untuk turun dari mobil..


namun Nisa kalah..


ia menurut kini.. Yoga membawa nya ke kamar nya.. menyalakan air agar memenuhi bathtub,


Yoga meminta Nisa untuk berendam.. ia mengguyur kepala Nisa dengan shower


"Yoga stoppp"


Nisa teriak..


dua orang pelayan di rumah Yoga saling lirik, menduga duga apa yang terjadi di dalam sana, tuan nya membawa wanita, dan itu baru hari ini Yoga lakukan ..


"semoga dosis nya tidak tinggi Nisa ini akan membantu untuk menghilangkan obat itu"


Nisa menggigil


"Yoga aku kedinginan .... stop Yoga.. "


Yoga menghentikan shower,


ia menatap Nisa yang sangat basah...


"apa sudah hilang? " Yoga berjongkok,


Nisa mengangguk, ia menangis,


"kamu tau kenapa dulu aku ngelakuin hal itu sama kamu Nisa? itu karna efek obat itu.


mungkin dosis obat yang kamu minum tidak terlalu tinggi,


tapi saat itu obat aku ga bisa hilang dengan di guyur begini... "


Yoga marah, nada nya meninggi membuat Nisa menunduk takut, Nisa ingat lagi malam naas itu,


"kenapa kamu pergi ke sana?


untung tadi siang aku pura pura tidur saat kamu Terima telpon dari Jimmy, aku ngikutin kamu dari rumah waktu Jimmy jemput..


kamu percaya sama dia begitu aja?


pergaulan di luar negri sangat bebas ga seperti kita di sini Nisa, dimana mereka bisa gonta ganti pasangan se mau mereka, kamu ga mikir ke sana hah?? "


Nisa semakin menunduk, ia malah sesegukan menangis dan efek dari rasa dingin nya..


Yoga diam.. ia merasa bersalah sudah marah pada Nisa..


"ayo bangun.. "


Yoga menyodorkan tangan nya, Nisa meraih nya, ia berdiri..


"bilas pakai air hangat, di sana sabun sama shampoo nya.. " Yoga keluar kamar mandi.. tak lama ia kembali..


Nisa meraih handuk piyama nya,


Yoga pergi, Nisa mendengar ia menutup pintu..


merutuki kebodohan nya, Nisa menangis lagi..


"ben bawakan baju baru buat Nisa cepat"


"baik bos.. harus di bawa kemana nanti baju nya? " tanya beny bingung


"ke rumah ku.. cepat jangan banyak bicara"


"siap bos... "


Yoga meminta pelayan nya membuatkan susu hangat, Yoga sendiri sedang sibuk dengan HP nya.


"bawa ke atas bi, berikan pada Nisa suruh ia habiskan mumpung hangat"


"baik Pak"


Beny sedikit lama.. Yoga sudah menelpon nya beberapa kali saat ia datang..


"lama sekali sih?? "


"maaf bos. saya bingung pilih baju nya"


pelayan tadi telah kembali..


"bi.. maaf berikan ini pada Nisa, suruh ganti baju ya"


"siap pak"


Yoga menelpon Randy,


mengatakan semua nya, ia meminta izin mungkin Nisa akan menginap malam ini di rumah nya.


"awas kalau terjadi sesuatu, akan aku cari kamu ke lobang semut sekali pun Yoga"


Rendy mengancam.. walau ia sudah sedikit percaya pada Yoga, tapi Rendy harus tetap waspada..


"saya janji.. tolong beri kabar sama ibu, takut ibu khawatir" ucap Yoga.


Rendy di sebrang sana meng iya kan..


ia sedang ada tugas di luar kota,


setelah satu jam Yoga meninggalkan Nisa,


ia berniat menjenguk nya..


susu di gelas sudah habis,


Yoga melihat Nisa berdiri menghadap foto nya sendiri di kamar Yoga yang tercetak besar itu,


Yoga masih menyimpan nya, Nisa tau itu foto lama nya saat masih kerja di bank dulu..


"kenapa masih ada di sini Yoga? “ Nisa tau Yoga datang,


"selama nya akan tetap di sana Nisa.. aku bilang kan aku masih sayang kamu.. "


tidak seperti tadi di kamar mandi,


suara Yoga kini begitu pelan..


"itu pengobat hati kalau aku sedang begitu rindu sama kamu"tambah Yoga lagi


Nisa berbalik..


Yoga melihat mata nya sembab..


"lupakan lah Yoga,


cari wanita lain.. aku ga pantes buat kamu... "


"aku sudah coba Nisa, tapi aku gagal"


"apa aku harus pergi supaya kamu lupa sama aku? “ ucap Nisa


" lakukan lah.. kalau kamu ga mau dekat sama aku.. tapi aku ga janji bisa lupain kamu"


Nisa terdiam..


"tidurlah di sini, aku udah telpon bang Rendy, dan ngasih kabar sama ibu kalau kamu di sini "


Nisa merasa tidak enak hati,


"kamu tidur di mana? "


"jangan pikirkan,


aku bisa tidur di mana saja"


Yoga pergi.. menutup pintu kamar nya sendiri.. ia akan ke ruang kerja nya saja, tenggelam dengan pekerjaan yang tertunda tadi siang seperti nya lebih baik...


Nisa mencoba tidur,


hidung nya mencium aroma tubuh Yoga di bantal,.. "mas... aku harus gimana? maaf aku melakukan hal tadi di mobil pada Yoga"


Nisa akhirnya tertidur. terbuai dengan sisa sisa parfum yang Yoga pakai menempel di bantal nya..