Annisa

Annisa
entah dimana



Nisa hampir terjatuh saat terlepas tangan nya dari Riana, ia merasa kepala nya pusing


"Nisa kamu ga apa apa? "


Nisa menggeleng lemah, ia duduk kembali, Riana mengikuti nya..


"berita terbaru pemirsa, saya berada di lokasi jatuh nya pesawat pagi tadi,


team basarnas Indonesia di bantu dengan Australia malam ini berhasil mengangkat puing atau patahan dari bagian ekor pesawat,


seperti di ketahui menurut saksi, ada dentuman cukup keras yang menimbulkan gelombang ke dasar laut yang berasal dari pesawat,


empat orang nelayan menjadi saksi jatuh nya pesawat yang memang sudah mengeluarkan asap pekat di udara tersebut,


selain puing dan patahan pesawat team basarnas juga menemukan lima orang penumpang pesawat yang di nyatakan sudah meninggal" sang reporter wanita itu dengan lugas berbicara,


mata Nisa menerawang ke layar TV, ia tak percaya apa yang baru saja ia dengar, Riana menangis lebih keras menyebut nama Yoga putra nya, Tama yang sedang berbicara dengan ayah Nisa langsung masuk mendengar teriakan Riana..


Nisa dengan gemetar mengangkat telpon di HP nya..


"hallo ibu Nisa"


"ya ben.. " Nisa sudah gemetar, ia takut mendengar informasi bahwa 5orang yang berhasil di temukan, salah satu nya Yoga..


"ibu, informasi yang baru saja saya Terima, team menemukan 5 orang pada awal nya.. namun bertambah sekarang jadi 9 orang,


dan salah satu nya adalah... pak Doni bu... "


"astagfirullah....


Yoga bagaimana ben?? apa ga ada kabar lagi?? “


" belum bu, jenazah kebetulan masih utuh, karna kejadian baru tadi pagi, jadi begitu jelas dapat di kenali, saya mau urus dulu keluarga pak Doni ya bu"


"ya ben.. kasih terus info.."


"siap bu"


Riana dan Tama memandang Nisa, menunggu informasi yang Nisa dapat..


"jenazah pak Doni, IT yang ikut bersama Yoga di temukan mah" ucap Nisa lemah.


"ya Allah.... " Riana menangis lagi, ia meratapi nasib putra nya...


"bagaimana Yoga pah? dia pasti kedinginan,, dia pasti ketakutan di sana.. "


Tama tidak bisa menjawab apa apa atas pertanyaan istri nya..


karna malam semakin larut, dan belum ada lagi info dari Beny, Riana dan Tama memutuskan untuk pulang ke rumah Yoga..


Riana memandang foto putra nya di kamar Yoga yang terlihat bahagia menggendong razky di pangkuan nya, Nisa pun ada di sebelah nya,


itu foto saat mereka merayakan ulang tahun Razky kemarin..


"maafin Mama Yoga,


Mama berharap kamu baik baik saja,


walaupun mungkin sangat tipis kemungkinan nya, apa lagi dengan di temukan nya Doni dalam keadaan meninggal..


Mama menyesal sayang, ga bisa cegah kamu pergi.. Mama sedang sibuk di rumah mempersiapkan pernikahan mu,


rencana nya memang hari ini Mama mau datang ke sini, meninjau langsung persiapan,


acara nya 5hari lagi Yoga,


Mama merasa bersalah pada Nisa juga Razky"


***


Nisa meninggalkan ruang keluarga,


ia merasa lelah. kepala nya begitu sakit,


Razky di bawa oleh ibu ke kamar nya.


tubuh nya boleh saja dalam posisi tidur,


tapi pikiran nya entah kemana, mata nya memandang foto mendiang suami nya,


mata nya kembali basah,


"mas.....


kenapa Allah ga pernah memberi kesempatan buat aku bahagia lebih lama??


Allah kirim kamu buat aku, tapi Allah begitu cepat ambil kamu juga...


mungkin setelah ini aku ga akan percaya lagi tentang suatu hubungan..


wajarkah itu aku rasakan mas?, aku malah berpikir apa aku pembawa sial untuk lelaki yang dekat dengan ku? “


***


uhukkk. uhukkkk


Yoga terbangun, dada nya begitu sesak, seperti mimpi yang sangat menakutkan, ia terbangun dengan nafas tersengal,


uhukkk uhukkkk


nafas nya belum stabil, ia mengingat kembali saat pesawat sudah mulai hilang kendali,


jeritan dan teriakan para penumpang membuat keadaan semakin mencekam.


Yoga menatap sekitar, ia ada di sebuah kamar,


dadanya terasa begitu sakit, Yoga kelelahan karna mencoba berenang kemana pun ia bisa,


namun entah lah.. ia tidak ingat apa apa lagi setelah itu..


seseorang datang,


ia masih terlihat belum berumur 15tahun,


entah bahasa apa yang ia gunakan Yoga tidak mengerti, tapi setelah anak laki laki itu bicara, seorang kakek tua datang, ia tersenyum.


kakek itu berbicara, namun demi Allah Yoga tidak mengerti, ia hanya mengerti bahasa Inggris saja,


kakek itu memberikan Yoga segelas air, Yoga tidak tau air apa, tenggorokan nya memanglah kering, Yoga menerima nya dan mengangguk,


melirik anak lelaki muda tadi, anak itu tersenyum dan mengangguk.


Yoga meminum nya, namun belum juga tertelan, cairan itu begitu terasa pahit di lidah.. Yoga batuk batuk lagi,


Yoga mencari sesuatu di kamar itu. bagaimana dia harus berkata tentang keadaan nya.. ia ingin tau dimana ia sekarang,


Yoga menemukan kertas... begitu saja ia teringat tentang sebuah pesawat,


Yoga sebisa mungkin membuat pesawat dari kertas itu..


kakek dan anak muda tadi entah berkata apa, ia bingung melihat Yoga,


Yoga tersenyum.


ia berhasil membuat pesawat berukuran kecil..


Yoga menunjukan nya pada kakek,


ia memeragakan pesawat terbang, lalu jatuh,


si kakek tersenyum, ia mengangguk,


menarik tangan Yoga pelan, menuju suatu ruangan..


Yoga melirik kesana kesini, rumah ini sangat lah sederhana, namun ada sebuah TV kecil mungkin berukuran 14 inch yang terlihat sudah tua..


anak lelaki itu menyalakan nya.. mengarahkan semacam antena karna gambar belum berhasil membaik..


sekejap Yoga melihat seperti gambaran pesawat di tv itu. itu semacam berita...


Yoga bersemangat, ia membantu anak lelaki itu memperbaiki antena, sampai gambar bisa cukup terlihat walaupun membuat mata sedikit sakit..


sudara TV itu mulai jelas.. Yoga mendengar bahasa penyiar berita itu menggunakan bahasa yang sama dengan kakek, mungkin ini berita lokal,


kakek mengangguk sambil menunjuk TV..


Yoga memeragakan bahwa diri nya benar korban pesawat tersebut.


kakek itu langsung bangkit. ia memanggil lelaki muda itu, entah apa yang mereka bicarakan.. namun lelaki itu terlihat bersiap, kakek bahkan memberikan bekal air minum dan beberapa potong makanan.


"apa kah ia akan pergi? tapi kemana? apakah lama? " Yoga yang masih merasa lemah pun di tambah bingung, kakek meminta nya untuk kembali beristirahat dengan tangan nya menunjuk nunjuk tempat tidur,


Yoga mau tidak mau harus meminum kembali ramuan yang kakek berikan sampai habis walaupun terasa sangat pahit.


"ya Allah, ini dimana?


Nisa pasti tau pesawat mengalami kecelakaan, maaf sayang.. aku harusnya dengerin apa yang kamu bilang tentang pantrangan calon pengantin yang berpergian jauh,


semua pasti khawatir" Yoga menatap langit langit kamar yang seperti nya sangat terawat,


rumah ini tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman, seperti nya pun kakek hanya tinggal dengan lelaki muda tadi.