
perjalanan begitu terasa lama sekali,
di tambah memang benar jarak yang di tempuh lumayan jauh, ±3jam perjalanan Nisa dan Rendy tempuh,
mereka sudah sampai kini di rumah sakit, ke ada an di sana cukup ramai, karna beberapa korban kecelakaan di bawa ke rumah sakit ini,
"suster, kami keluarga pasien yang bernama Adnan, ruangan nya dimana ya? “ Rendy bertanya pada resepsionis,
" korban kecelakaan ya pak? " jawab suster itu
entah kenapa kata kata itu sangat menyakiti hati Nisa
"iya Sus" jawab Adnan
"sebentar pak, mas tolong antarkan ini keluarga atas nama Bpk Adnan"
ucap suster pada seorang perawat laki laki.
"silahkan ibu, Bpk, lewat sini.. "
tidak membuang waktu, Rendy dan Nisa mengikuti, ruangan cukup jauh dan seperti di ujung letak nya perawat itu berbelok dan menuju sebuah pintu.. Nisa menengadah kan wajah nya, melihat nama ruangan di atas pintu yang perawat itu buka..
"kamar mayat"
"bang... " Nisa memegang lengan kakak nya.
"ibu, bapak silahkan"
"ini maksud nya apa, ko kita di bawa ke sini? “ Nisa sangat marah pada perawat itu
" maaf Bu, apa ibu belum tau?
bpak Adnan meninggal di tempat saat kecelakaan"
"apa?? “ suara Nisa melemah, Rendy memeluk nya
" jangan dulu percaya dek. sebelum kita lihat langsung, siapa tau kebetulan nama nya sama"
Nisa tau abang nya membohongi nya, ia melihat di video mobil suami nya ringsek parah
"kamu kuat? " tanya Rendy lagi
Nisa mengangguk, ia ingin memastikan kebenaran nya
perawat itu menunjukan sebuah blankar, seseorang terbujur kaki di atas nya,
Nisa mendekat, meraih begitu saja kain putih penutup tubuh di bagian wajah,
Nisa mencelos, tubuh nya seketika terasa tak bertulang, ia mencengkram ranjang di yang suami nya tiduri..
Rendy membuang wajah nya, ia menangis juga, benar Adnan di sana,
"massss" suara Nisa terdengar begitu menyayat, sangat lemah,
di raih nya wajah sang suami yang sudah memucat, Nisa menempelkan pipi nya di pipi Adnan..
"mas maafin Nisa....
kenapa mas pergi?
kenapa ga Nisa aja yang pergi?
mas tau Nisa ga bisa hidup tanpa mas??
mas janji akan selalu temenin Nisa,
kita baru saja nikah mas,
mas tega ninggalin Nisa sendirian lagi"
Rendy menutup bibir nya dengan kepalan tangan,
"ya Allah, astagfirullah, Nisa... kenapa harus begini nasib mu"
ia menangis, tak kuasa melihat adik nya begitu banyak menerima cobaan, mereka baru saja bahagia, apa lagi ini ya Allah
Nisa memeluk jasad suami nya,
ada beberapa luka di wajah Adnan,
Nisa sangat pelan mengusap nya,
ia tau, sakaratul maut itu menyakitkan katanya, Adnan sedang ber istirahat setelah melewati masa sakaratul maut nya.
"mas pasti kesakitan kan?
Nisa menyesal kenapa Nisa ga ikut pergi, mungkin kalau kita pergi berdua, Nisa akan ikut mas pulang"
Rendy tak tahan, ia meraih bahu adik nya,
"dek.. sudah, ikhlaskan mas Adnan,
kasian dia kalo kamu nangis gini pasti ga tenang"
"Nisa mau ikut mas Adnan bang, Nisa ga bisa hidup tanpa dia abang tau itu kan?? “
Rendy membawa Nisa untuk ia peluk, tubuh nya sangat lemah, Rendy memapah nya keluar,
ia menelpon Herry yang ternyata sudah berada di depan rumah sakit,
Herry sedang berada di luar kota saat kejadian,
ia dan kang yopi datang,
yopi menunduk, menatap Nisa, Nisa melamun, matanya begitu sembab
Herry pergi menyelesaikan administrasi,
"tadi bang Adnan nelpon saya, katanya lagi di rumah bang Tama, saya mau datang, tapi bang Adnan bilang nanti dia akan ke warung bu Ratih dan bertemu di sana saja,
bang Adnan akan menyampaikan salam dari Nisa untuk bu Ratih"
Nisa mendengar itu,
"jadi mas Adnan sudah selesai dengan kakak nya Tama?
ia kecelakaan saat hendak arah pulang? "
mas ga ngabarin aku,
ketika sampai di rumah kak Tama atau hendak pulang,
Nisa ter ingat lagi kata kata Adnan saat hendak berangkat. bagaimana ia mengucapkan kata terimakasih pada Nisa,
siapa sangka itu akan menjadi kata kata terakhir nya,?..
"Nisa..... "
suara wanita terdengar dari arah samping Nisa m noleh,
Riana dan Tama di sana..
ia mendekat memeluk Nisa, Nisa tidak merespon,
"Nisa, mamah ga nyangka ini terjadi, Adnan baru saja pulang dari rumah, kita berbincang seperti biasa nya"
" Nisa ngerasa bersalah udah ijinin mas Adnan pergi,. " Nisa terus menatap ruangan di depan nya, Adnan sedang di urus, di mandikan lalu di kafani,
"Nisa semua nya musibah sayang" ucap Riana
Tama mendekat berjongkok di hadapan Nisa,
Nisa menatap nya, Nisa paling tidak suka melihat Tama banyak kemiripan di sana.
Nisa memejamkan mata nya,
"pah, tolong menjauh lah, aku ga bisa liat papah begitu, aku serasa melihat mas Adnan"
Tama melirik istri nya,
Riana mengangguk, menyetujui apa yang Nisa katakan..
dengan berat hati Tama bangkit,
ia pun merasa terpukul, adik satu satu nya telah tiada. banyak yang tadi Tama bicarakan besama Adnan.. terlepas dari masalah yang lalu. ia rindu pada adik nya yang dulu se sering mungkin bertemu,..
Adnan telah siap,
mobil ambulans pun telah siap,
"Nisa. mau di makam kan dimana Adnan? kami di sini punya pemakaman keluarga" ucap Tama
"Nisa minta ijin membawa mas Adnan pulang pah, agar Nisa bisa se sering mungkin datang berkunjung"
Tama tidak bisa menolak, Nisa istri nya.
sesorang datang dengan tergesa-gesa,
"Nisa" sedikit berteriak yoga cepat cepat datang.
Nisa memandang nya sedikit takut, ketika yoga mendekat, Riana memegang lengan nya, ia tau putra nya belum bisa move on dari Nisa,
"apa yang terjadi, bener om Adnan kecelakaan? “
Nisa hanya mengangguk, Rendy di belakang nya waspada,
pintu ruangan terbuka, Adnan telah di bawa keluar, Nisa menatap abang nya, Rendy memeluk adik nya itu, menguatkan nya
" maassss"..
Herry, yopi telah bersiap. ia akan ikut dengan Rendy membawa mobil Rendy,
Rendy harus menjaga Nisa, ia akan ikut di ambulan,
mereka hendak pergi,
Riana menggenggam tangan Nisa,
"boleh mamah ikut sayang? "
Nisa mengangguk,
Riana dan Tama langsung bersiap,
"yoga mamah minta jangan ikut, kamu di rumah ya? “
" mah yoga mau ikut kenapa ga boleh? yoga juga mau liat Razky"
mereka berdebat.. Riana tidak mau situasi di sana nanti menjadi canggung karna kehadiran yoga,
"nak, mengerti lah" Riana memohon pada yoga.
yoga mengalah juga, ia mengangguk..