Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 99



Nadira dan Naufal baru saja tiba di tempat penitipan anak, dan Fauzan yang awalnya menunggu dengan tenang di teras lantas berlari menghampiri keberadaan dua orang yang telah dinantikannya.


"Fauzan, tidak perlu berlari," ujar Naufal seraya berlutut dan menangkap tubuh adik kecilnya itu. "Apakah dirimu sudah berpamitan dengan Ibu Anna sebelum berlari kemari?"


Fauzan hanya menganggukkan kepalanya. Ia yang begitu semangat untuk bertemu dengan Nadira sekaligus berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, menjadi anak yang lebih dulu berpamitan pulang dengan ibu pengurus. Ia menolak untuk ditemani menunggu di teras, sebab ia percaya bahwa kakaknya tidak akan membuatnya menanti lama.


Fauzan lekas menyudahi pelukannya dengan Naufal. Kemudian bocah itu menghampiri Nadira dan meminta gadis itu untuk berjongkok di hadapannya. "Kak Na, maafkan Fauzan untuk permasalahan kemarin, ya? Fauzan yang memaksa Kak Naufal untuk berkunjung ke rumah Kak Na, tetapi sayangnya justru kedatangan kami berdua malam itu membuat Kak Na terganggu." Fauzan terlihat merasa bersalah. Wajahnya sendu dan sembab, kentara sekali jika semalaman anak lelaki itu menangis.


Nadira segera merengkuh tubuh Fauzan ke dalam pelukannya. Kemudian tak lama setelahnya ia segera melerainya untuk memberikan beberapa kecupan di wajah bocah kecil itu. "Kemarin itu sama sekali bukan kesalahanmu, Sayang. Kakak dan teman-teman Kakak hanya merasa tertekan dengan tugas yang menumpuk dan banyak sekali hingga tanpa sadar menjadi gampang sekali marah." Lalu tangan Nadira bergerak menuju surai hitam Fauzan untuk memberikan elusan lembut di sana. "Jika keadaannya tidak seperti kemarin, tidak ada tugas menumpuk yang menyulitkan kami, sudah pasti kemarin wajahmu ini sudah habis kami ciumi bergantian. Karena siapa yang dapat menolak wajah tampan dan lucu ini?"


Naufal tersenyum di tempatnya. Ia melihat bagaimana Fauzan mulai mengudarakan tawanya ketika Nadira berusaha menghiburnya. Semalam, anak itu benar-benar menangis sepulang dari rumah Nadira. Ia mengira, kedatangannya membuat Farhan marah kepada semua orang, dirinya, kakaknya, dan juga Kak Na kesayangannya.


"Maafkan Kak Farhan, ya? Apakah Fauzan berkenan memaafkan kesalahannya?" tanya Nadira.


Fauzan menganggukkan kepalanya seraya menerbitkan senyum manisnya. "Fauzan telah memaafkan Kak Farhan, tetapi apakah Kak Na tidak sakit hati karena dimarahi olehnya semalam? Fauzan sungguh mengkhawatirkan keadaan Kak Na."


"Tidak." Nadira menggelengkan kepalanya. "Kak Farhan adalah teman dekat Kak Na. Kami akan saling menyayangi dan tidak akan saling menyakiti, sama seperti kita saat ini."


Naufal sontak membuang muka ketika mendengar perkataan Nadira yang satu itu. Kekesalannya terhadap Farhan membuatnya tidak terima apabila Nadira masih mengatakan hal baik-baik tentang lelaki tersebut. Namun, ia pun tak kuasa mencaci Farhan selain di dalam hati. Ia tak ingin Nadira justru membalik membencinya. Ia tak ingin kehilangan gadis itu dari hidupnya meski tak jelas apa alasannya.


"Sebagai ucapan permintaan maaf yang lebih resmi, Fauzan ingin mengajak Kak Na berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, kemudian akan Fauzan traktir ayam goreng tepung yang dijual di gerai sana, bagaimana?" tanya Fauzan dengan antusias.


Nadira menganggukkan kepalanya dengan antusias juga. Memangnya siapa yang dapat menolak ajakan bocah manis nan menggemaskan seperti Fauzan?


***


"Urus anakmu yang benar, Dania! Dia terlihat menderita padahal sudah bersama ibu kandungnya!"


Tina yang baru saja tiba di rumahnya seketika dikejutkan dengan gema suara ayahnya. Entah sejak kapan Hadi berada di sana, dan berdebat dengan Dania. Tina yakin ini menjadi kali pertama Hadi menginjakkan kaki ke rumah itu setelah perpisahan yang penuh huru-hara kala itu. Sebelumnya, Hadi selalu menolak ketika Tina memintanya untuk datang. Namun, ada apa dengan sekarang? Untuk apa ayah kandungnya datang?