
"Kesya berbohong, dan aku sudah merekam semuanya tadi," ucap salah satu siswa yang langkahnya perlahan menembus kerumunan.
Hampir seluruh pasang mata di kantin tersebut memperhatikan sosok yang menjadikan perannya sebagai adiwira yang akan menyelamatkan Nadira dari drama yang dibuat oleh Kesya. Dia adalah Wildan, dan Nadira cukup mengenal lelaki tersebut, sebab Wildan adalah salah satu pengurus Osis dengan jabatannya sebagai Bendahara.
"Bisa kamu tunjukkan rekamannya?" Naufal menginginkan kebenarannya saat itu, dia ingin menghukum Kesya jika benar-benar kenyataannya gadis itu yang bersalah.
Wildan mengangguk dengan yakin, lalu sesaat kemudian lelaki tersebut mengeluarkan Canon LEGRIA FS36 miliknya, dan langsung ia tunjukkan sebuah adegan di mana Kesya adalah penyebab kegaduhan di kantin. Di dalam kamera video tersebut, Naufal dapat melihat jelas perbuatan Kesya yang tiba-tiba saja datang menghampiri meja Nadira dan memulai segala perdebatan yang memuakkan.
"Simpan video ini baik-baik, jika perlu kirimkan salinannya pada laptopku di ruang Osis," tutur Naufal dengan tenang. "Kita akan tunjukkan video ini pada Bapak Kepala Sekolah, nanti," imbuhnya.
Tubuh Kesya semakin gemetar hebat, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Arif. Hanya lelaki itu satu-satunya benteng yang dia punya, hanya Arif yang dapat ia andalkan untuk melindunginya dari amukan Sang Ketua Osis. Sangat menyeramkan, suasana yang semula ia buat mencekam untuk Nadira, justru berbalik lebih menyeramkan dan menyelimutinya.
"Baik, Naufal." Wildan mengangguk pelan, kemudian berlalu meninggalkan kerumunan untuk menuju ruang Osis yang telah menjadi tujuannya.
Naufal menatap tajam seorang gadis yang berada dibalik tubuh kekar Arif. Dia benar-benar murka, karena menurutnya perbuatan Kesya dapat mengancam reputasi sekolah jika saja ada yang berniat melaporkan kasus perundungan tersebut pada pihak yang berwajib.
"Jadi yang kamu katakan permintaan pertemanan, adalah dengan kekerasan?" Naufal memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, ia merasa bahwa permasalahan tersebut harus menemukan titik terangnya, mulai dari motif dan sanksi yang akan ia jatuhkan.
"Naufal, bukan seperti itu maksudku, tapi-" Kesya telah tersudut seharusnya ia mengaku bukannya kembali menuntut. Dia memang benar-benar bodoh, emosi dan tingkah laku buruknya sudah menjebaknya saat itu.
"Di video tadi, suaramu memang tidak terdengar jelas, akan tetapi gerak-gerik mu jelas menunjukkan kebenarannya. Dua kali memberi ancang-ancang untuk mencelakai, lalu menyiramkan segelas jus jeruk pada wajah Nadira dan yang terakhir tamparan," Naufal memberi jeda sejenak, kemudian kembali berkata, "apa seperti itu caramu meminta pertemanan?" sambungnya.
"Mereka bertiga biadab! Mereka memancing emosiku terlebih dahulu, lalu apakah salah hukumnya jika aku membalasnya?" Kesya merasa tertantang, hingga mengeluarkan suara keras cukup memberinya kelegaan.
"Tidak seperti itu caranya berbohong, Kesya." Naufal menggelengkan kepalanya seraya terkekeh kecil. "Kamu yang memulainya, kamu yang menghampiri meja mereka terlebih dahulu, lalu kamu yang banyak berbicara di sana, dan kubu mereka hanya diam mendengarkan ocehan mu yang entah tentang apa," imbuhnya.
"Naufal, apa kamu mulai tertipu dengan wajah lugu mereka?" Kesya beranjak dari tempat perlindungannya, dan melangkah mendekati Naufal. "Jangan percaya padanya, percaya padaku, ya," sambungnya membujuk.
"Jangan bicara apa-apa lagi, karena hari ini juga keputusan hukumanmu akan keluar," ucap Naufal memperingatkan, dan hal itu berhasil membuat wajah Kesya berubah menyedihkan dalam seketika. "Kemudian untuk semuanya silakan bubar, karena jam kesembilan akan tetap ada pelajaran!" sambungnya bertujuan pada seluruh kerumunan.
Naufal meninggalkan kantin tersebut untuk kembali ke ruang kebesarannya. Tugasnya sekarang adalah mengurus video perundungan tadi, sebelum disetorkan kepada Kepala Sekolah, lalu merundingkan hukumannya. Hari itu membuatnya sangat lega, di mana rasa penasarannya dapat ditebus dengan kenyataan yang luar biasa. Naufal tidak lagi memedulikan ide-idenya yang hilang kala diganggu seorang siswa yang datang mengadukan kasus perundungan, karena aksinya nanti saat menunjukkan bukti perundungan yang Kesya lakukan, akan memberikan pengaruh yang lebih baik untuknya.
...----------------...
"Apa kamu baik-baik saja?" Arif menangkup wajah Kesya yang telah basah, ditatapnya dengan lekat netra yang terus meluruhkan air mata.
"Naufal akan menghukum ku, Arif," ucap Kesya di sela-sela tangisnya.
"Jangan pikirkan tentang itu," Arif menghapus cairan bening yang terus meluncur bebas membasahi pipi Kesya. "Aku akan membantumu agar mendapatkan keringanan," imbuhnya.
"Aku tidak ingin dihukum, Arif! Aku tidak mau dipermalukan!" Kesya benar-benar kacau, dan Arif memutuskan untuk mendekap tubuh gadis di hadapannya untuk memberikan ketenangan.
...----------------...
"Aw" Nadira saat itu telah duduk di atas brankar UKS. Luka di bibirnya sedang diobati oleh Farhan, dan anehnya hal itu sama sekali tidak menimbulkan kecanggungan.
"Tahan sedikit, ya. Tamparan yang Kesya berikan cukup keras, sampai bibirmu sobek seperti ini," ucap Farhan, tanpa mengalihkan pandangan dan tangannya yang masih fokus memberikan antiseptik pada bibir Nadira.
"Kesya ganas sekali, pipiku sampai nyeri dibuatnya," keluh Nadira.
"Iya, aku dapat melihatnya. Pipimu merah, mungkin akan membaik jika di kompres es batu," jawab Farhan. "Aku sudah meminta Tina untuk membelinya di kantin, mungkin sebentar lagi dia akan datang," sambungnya.
Hening, sebab UKS tersebut sangat sepi tanpa adanya petugas PMR yang seharusnya sedang melakukan piket berjaga. Entah kemana perginya para relawan yang telah dijadwal untuk menjaga UKS. Hanya ada Nadira dan Farhan, dan mereka hanya berdua. Semuanya tampak aman-aman saja, karena mereka berdua hanya murni bersahabat, dan kemungkinan terbesarnya seperti itu.
Tidak ada tanda-tanda munculnya benih cinta seperti yang ditayangkan di sinetron-sinetron kebanyakan. Nadira dan Farhan tampak seperti dua orang yang memang hanya ditakdirkan sebatas sebagai sahabat. Segala perhatian yang Farhan berikan terlihat tulus tanpa ada maksud lain, atau dorongan dari perasaan yang mungkin masih labil. Semacam cinta, rasa seperti itu layak dikatakan labil untuk remaja putih abu-abu, dan Farhan seperti tidak memiliki rasa itu, atau sengaja disembunyikan olehnya. Apa pun kenyataan nanti, semua itu akan menjadi urusannya, urusan pribadi Farhan.
"Ada luka yang lain?" Farhan ingin Nadira terobati dengan baik, dia ingin sahabatnya baik-baik saja, dan Farhan akan sungguh-sungguh menjaganya.
"Tidak ada." Nadira menggelengkan kepalanya. "Terima kasih untuk pengobatannya, Farhan," sambungnya disertai lengkungan tipis di bibirnya, walau rasanya sedikit nyeri.
"Sama-sama, Nadira," jawab Farhan, lalu sesaat kemudian mengelus lembut kepala Nadira.