
"Kakak!" Seorang anak laki-laki berlari kencang, tanpa memedulikan kesibukan Naufal yang sedang mengetik beberapa berkas, anak laki-laki tersebut langsung bergelayutan pada punggung Naufal.
"Kakak tidak suka Fauzan seperti ini." Naufal merengut seraya menurunkan adiknya, dan membawanya ke hadapannya. Fauzan namanya, seorang anak laki-laki berusia lima tahun, sangat menggemaskan dan menyenangkan.
"Es krim." Fauzan menciptakan lengkungan agak lebar di bibirnya. Tak dilupakan gigi kelincinya yang putih ikut dia tampakkan menambah pesonanya.
"Besok." Naufal tak mengindahkan keinginan adik kecilnya, dan kembali mengerjakan tugasnya.
"Bunda!!" Bukankah senjata anak kecil adalah mengadu?
"Fauzan, ayo kita beli es krim sekarang." Mimik wajah Naufal berubah ceria, dan itu adalah pencitraan.
"Ayo." Fauzan mengangguk dengan senangnya. Keinginannya dikabulkan oleh Naufal, walaupun harus dengan mengerahkan sedikit usaha, tapi setidaknya anak kecil tersebut berhasil mengalahkan kakaknya.
Sore yang menghangatkan, di mana semburat senja yang berwarna jingga benar-benar menjadi anugerah yang indah untuk dinikmati dengan cuma-cuma. Menaiki Honda MegaPro 160 Advance, Naufal membonceng adiknya membelah jalanan.
"Kakak marah sama Fauzan?" celetuk anak laki-laki tersebut, seraya mendongakkan kepalanya menatap kakaknya yang masih fokus pada jalanan.
"Iya." Naufal menjawab sesuai kenyataannya. Sepanjang perjalanan dia hanya diam, karena kesal pekerjaannya diganggu oleh adiknya.
"Maaf ya, Kak. Tidak usah jadi beli es krim kalau begitu." Fauzan yang begitu peka dengan keadaan, sudah pasti paham jika kakaknya sedang marah padanya.
Tak mengacuhkan ucapan adiknya, Naufal terus memacu motornya hingga sampai di supermarket. Lagi pula apa keuntungannya Fauzan memberikan pemakluman saat mereka berdua sudah sampai setengah jalan. Kembali ke rumah bukannya percuma? Lebih baik teruskan saja sampai tiba di tempatnya, dan adiknya akan makan es krim sepuasnya.
"Yeay" Fauzan bersorak di atas motor. "Fauzan akan makan es krim banyak-banyak," imbuhnya seraya mengangkat kedua tangannya, agar Naufal mudah menurunkan tubuh kecilnya.
"Dasar labil," gerutu Naufal karena masih merasa kesal.
Naufal mengikuti langkah adiknya yang terlihat setengah berlari. Ya, Fauzan memang begitu menggemari makanan bertekstur lembut tersebut, jadi tak heran jika dirinya tampak begitu antusias, saat keinginannya untuk meminang es krim dikabulkan.
Saat setelah memasuki area dalam supermarket, dari arah yang berlawanan, tanpa sengaja Naufal bersinggungan dengan seorang gadis. "Maaf," ucap Naufal, seraya mencari-cari wajah gadis tersebut yang tertutup dengan untaian rambut indahnya.
"Tidak apa-apa." Gadis tersebut menyibak rambutnya. "Naufal," ucapnya setelah mengetahui siapa sosok yang meminta maaf padanya.
"Nadira." Naufal melihat Nadira yang sangat cantik dengan rambut tergerai, dan kacamata tebal yang dikenakannya.
"Kamu kemari untuk membeli apa?" Nadira tidak melihat barang apa pun di tangan Naufal.
"Sabun, aku membeli sabun cuci baju dan sabun cuci piring," jawab Nadira menjelaskan, seraya menunjukkan isi kantong plastik di tangannya.
"Kakak!" Fauzan memekik dari kejauhan, dan masih di tempat yang tetap, Naufal dapat melihat adik kecilnya tersebut membawa beberapa bungkus es krim di tangannya.
"Adik kamu?" Nadira ikut tersenyum memperhatikan Fauzan yang sangat menggemaskan dengan pipi tembamnya.
"Iya, dia Adik saya." Naufal mengangguk mengiakan. "Ayo ikut dengan saya ke sana," imbuhnya mengajak.
Naufal meminta Nadira ikut serta dengannya. Entah untuk tujuan apa, akan tetapi Naufal tampak ingin berbicara banyak dengan gadis berkacamata tersebut.
"Fauzan ini terlalu banyak," ucap Naufal dengan tegas.
"Kita dapat memakannya bersama, bukan?" Fauzan menggelengkan kepalanya menyanggah ucapan Naufal. "Kakak itu juga bisa ikut memakannya," sambungnya seraya menunjuk ke arah Nadira.
"Ide yang bagus, ayo kita bayar." Naufal mengangguk setuju. Sifat dermawan adiknya patut diberi apresiasi.
"Naufal." Nadira mencekal lengan Naufal agar lelaki tersebut menghentikan langkahnya. "Aku pulang saja, ya," ucapnya.
"Apa kamu sangat sibuk?" Pertanyaan Naufal dibalas geleng kepala oleh Nadira. "Kalau begitu apa kamu tidak keberatan jika kita mengobrol sebentar? Lagi pula Adik saya sangat ingin menghabiskan es krim ini bersamamu juga," imbuhnya.
"Kakak mau, ya." Fauzan membantu Naufal membujuk Nadira. Memang sepasang adik kakak yang serasi.
"Boleh." Nadira mengangguk, dan itu menjadi angin segar bagi Fauzan.
"Kalau begitu saya titip Adik saya sebentar." Naufal menggiring Fauzan agar berada di jangkauan Nadira. "Saya harus ke kasir dulu," imbuhnya, sembari mengambil alih es krim yang berada di tangan Fauzan.
"Iya." Nadira mengangguk menyetujui.
"Kakak namanya siapa?" Fauzan menarik lengan Nadira, agar gadis tersebut dengan senang hati bersedia berlutut di hadapannya.
"Nadira." Nadira benar-benar berlutut di hadapan Fauzan, agar anak laki-laki tersebut dapat dengan mudah memandangnya.
"Boleh Fauzan panggil 'Kak Na'? Atau 'Kak Ira'?" Fauzan meminta pendapat dengan sang pemilik nama, dan hal tersebut justru membuat Nadira sangat senang mendengarnya.
"Kak Na, itu lebih mudah, bukan?" Nadira memahami pelafalan huruf 'r' Fauzan masih terdengar dipaksakan, maka dari itu dirinya memilih panggilan namanya yang mudah diucapkan oleh adik dari Sang Ketua Osis tersebut.