
"Jihan tidak datang kemari, ya? Terakhir kita bertemu dia di sini," ucap Kesya setelah menelan nasi goreng pesanannya.
"Ya, setelah kedatangannya lalu kita bertengkar. Namun, kabar baiknya hubungan kita memiliki banyak sekali kemajuan. Entah aku harus berterima kasih atau tidak kepada gadis itu," jawab Arif seraya mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu itu.
"Kita tidak bertengkar, Sayang. Dirimu lah yang tiba-tiba mendiamkan aku begitu saja." Bahkan Kesya masih merasakan sakit hati ketika mengingat hal itu. Arif-nya benar-benar menyeramkan ketika marah. "Tetapi, tenang. Setelah hari itu aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Toh, dirimu sekarang sudah menjadi milikku, jadi tidak mungkin aku menjodohkan dirimu dengannya seperti waktu itu."
Sore itu mulai mendung, dan Kesya telah sepakat bersama Arif untuk tinggal beberapa waktu di kafe itu andai hujan turun. Keduanya berencana untuk membahas tugas sekolah yang urung rampung dan harus dikumpulkan esok. Kesya ingat bahwa ayahnya telah menuntutnya agar meraih nilai terbaik di sekolah, untuk itu ia akan belajar lebih keras, dan dengan ditemani oleh Arif tentunya.
"Soal ini dan ini, apakah dirimu tahu apa rumusnya?" Kesya menunjukkan buku LKS-nya kepada Arif, dan memberitahu soal-soal yang ia maksud kepada lelaki itu. "Aku sudah mencoba mencarinya di buku diktat milikku ini," imbuhnya seraya menunjukkan buku tebal yang berada di pegangannya kepada pria di hadapannya. "Tapi tidak ada."
Sejenak Arif mengangguk paham, kemudian ia segera mengambil buku diktat dengan seri yang lain di dalam tasnya. "Aku mendapatkannya dari perpustakaan. Bapak Soetjipto yang merekomendasikan buku ini kepadaku. Coba kita cari bersama-sama dengan buku ini."
***
"Non Tina, ada teman Non yang datang mencari." Suara asisten rumah tangga itu sontak menyadarkan Tina. "Apakah Non bisa menemuinya?"
"Katakan kepadanya aku akan segera datang." Setelah menjawabnya, Tina lekas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Ia tidak ingin memamerkan wajah menyedihkannya secara sukarela kepada orang di luar sana.
Tamu yang bertandang ke rumah Tina saat itu adalah Farhan. Lelaki itu memutuskan untuk kembali melangsungkan belajar kelompok demi menuntaskan tugas-tugas sekolah mereka yang semakin menumpuk saja. Namun, sebelumnya ia dibuat termangu dengan sisa-sisa kekacauan di rumah sahabatnya itu. Terdapat puing-puing pecahan benda kaca yang berserak di lantai dan baru saja dibersihkan oleh seorang maid setelah kedatangannya di sana. Langsung saja hal itu membuat Farhan merasa penasaran sekaligus khawatir dengan keadaan Tina saat ini.
"Farhan? Ternyata dirimu yang datang. Ada apa?" Tina menyambut temannya itu dengan senyum yang merekah sempurna. Entah seperti apa penampakannya, ia tidak tahu itu akan membuat wajahnya terlihat bahagia atau justru aneh di pandangan lelaki di hadapannya tersebut.
"Ada apa denganmu, Tina? Aku melihat kekacauan di rumah ini. Apakah ada sesuatu yang buruk?" Meski terlalu lancang karena Farhan menanyakan hal tersebut secara terang-terangan, tetap saja lelaki itu tidak memedulikan kesannya. Toh, kekacauan di sana pun akan terlalu lucu apabila disikapi dengan pura-pura tidak tahu. "Di mana Ibumu?"
Diana pergi meninggalkan rumah itu sesaat Tina berlalu ke kamarnya. Gadis itu sendiri tidak tahu pasti di mana Bundanya itu pergi, karena ia terlalu sibuk memikirkan diri sendiri.