
"Kamu hati-hati ya, Tina." Nadira harus berpisah dengan Tina, sesaat setelah jam pulang sekolah tiba.
"Farhan, aku titip Nadira, ya." Tina yang perhatian. Dia adalah gadis yang sangat lembut dan penyayang. "Aku takut Nadira akan dilukai lagi oleh Kesya." Tina khawatir.
Nadira terenyuh. Perhatian kecil yang Tina berikan pada Nadira, rasanya sangat-sangat berarti. Tuhan benar-benar adil karena menurunkan gadis sebaik Tina untuk Nadira. Sebuah ketulusan tak menuntut balasan, jelas Tina curahkan untuk Nadira.
"Aku akan jaga Nadira dengan baik." Farhan merangkul bahu Nadira dengan erat. Lelaki tersebut menyunggingkan senyum untuk meyakinkan Tina bahwa amanah yang diberikannya akan benar-benar dijalankan dengan baik. "Kamu jangan lupa jika Nadira juga sahabatku. Kekhawatiran kita sama besar, jadi jangan ragukan aku."
Sangat nyaman rasanya dapat dikelilingi orang-orang yang baik dan sangat menyayanginya. Nadira hendak menangis, tatkala perhatian kedua sahabatnya sungguh membuatnya merasa bahagia. Kesabarannya selama ini sudah terbalas dengan ketulusan Farhan dan Tina. Doa-doa yang selama ini ia layangkan, berhasil mengetuk pintu langit, dan kini saatnya untuk bersyukur, Nadira harus bersyukur.
"Kalian ini apa-apaan." Nadira harus menutupi haru dengan gurauannya. "Kalian memperlakukanku seperti anak kecil saja."
"Apa yang kamu katakan, Nadira. Kita ini selalu khawatir saat dirimu berhadapan dengan Kesya. Dia itu kriminal, jadi kamu sebagai sasarannya, harus dikawal ketat." Tina menjelaskan. "Benar begitu, Farhan?" imbuhnya seraya menaikkan kedua alisnya menatap Farhan.
"Benar yang dikatakan Tina. Kamu harus dijaga, Nadira." Farhan mendukung ucapan Tina. Dia bersedia menjaga Nadira semaksimal kemampuan yang dimilikinya. Semua itu Farhan lakukan dengan cuma-cuma, tanpa berharap imbalan apa pun.
"Tina, kasihan sopirmu menunggu. Lebih baik lekaslah pulang, aku akan baik-baik saja bersama Farhan." Nadira harus menyudahinya sebelum tangis membasahi wajahnya. "Jangan lupa hati-hati di jalan."
Yang tersisa sekarang tinggallah Farhan dan Nadira berdua. Sebenarnya ada canggung yang merebak menebar keheningan di tengah kebersamaan mereka berdua. Namun, semua itu segera berakhir, saat Farhan meminta gadis tersebut ikut dengannya duduk di halte.
"Kita harus duduk," ucap Farhan dengan tenang. Lelaki tersebut masih mempertahankan rangkulannya pada bahu Nadira. Seolah tingkah itu adalah caranya menjaga Nadira. "Pasti melelahkan jika terus berdiri seperti ini," imbuhnya.
"Farhan." Nadira ingin bicara. "Aku merasa canggung saat kita berdua seperti ini. Tapi sepertinya kamu tidak merasakan hal yang sama." Nadira mengatakannya. Rasa yang mengganggunya harus berakhir secepatnya.
"Kita sahabat, Nadira. Berdua seperti ini wajar, bukan?" Farhan membenarkan. "Memang apa yang sebenarnya kamu rasakan?" Farhan membuat Nadira diam terkatup.
"A-aku, aku juga menganggapmu sahabat, tapi." Nadira salah tingkah. Jelas saja pertanyaan Farhan yang begitu menohok, membuatnya kalang kabut untuk menjawabnya. "Tapi kita baru beberapa hari bersahabat. Rasanya jelas masih canggung." Hanya itu yang bisa Nadira ucapkan.
"Cup" Farhan memberikan kecupan tepat pada kening Nadira. Sejak awal lelaki tersebut telah berusaha menahannya, akan tetapi kecupan itu untuk rasa kasih sayangnya pada Nadira, gadis yang telah menjadi sahabatnya. Tidak salah, bukan?
"Aku menyayangimu, Nadira. Kamu sahabatku, dan rasa sayang ini juga masih wajar, bukan?" Farhan meminta pembenaran dari seorang gadis yang telah dia buat bergeming. Nadira terkejut dengan aksi Farhan yang tiba-tiba. "Nadira," imbuhnya berniat menyadarkan gadis yang masih diam terpaku di hadapannya.