Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 59



"Aku antar kamu pulang, Kesya." Arif lekas menautkan jari-jarinya dengan jemari Kesya. Kemudian lelaki itu menarik sedikit tangan Kesya agar ikut bersamanya, meninggalkan sekolah, Naufal, dan luka yang lagi-lagi Kesya dapatkan. "Apa kita perlu berjalan-jalan ke suatu tempat?"


"Memang kita bisa pergi ke mana?" Kesya menatap lekat netra teduh Arif yang senantiasa menenangkan perasaannya. Mengapa Kesya tidak merasakan getaran pada hatinya saat bersama Arif saja? Mungkin itu akan jauh lebih memudahkan hidupnya, tanpa tekanan, luka batin, dan segala sesak yang selalu datang setiap waktu. "Aku sedang tidak ingin ke mana-mana, Arif. Aku hanya ingin pulang dan lekas tidur."


"Keadaanmu sedang tidak baik, Kesya. Kamu sungguh memerlukan sedikit refreshing, agar batin serta pikiranmu tidak sepanas sekarang ini." Arif tidak ingin Kesya pulang dengan keadaan membendung kesedihan. Akan sangat tidak baik jadinya, jika saat Kesya sampai di rumah nanti, gadis itu justru terus-menerus menangis untuk meluapkan segala sakit hatinya.


"Arif, kurasa kita harus berjarak mulai sekarang." Kedekatan ini tidak baik, bukan untuk Kesya, melainkan untuk Arif sendiri. Kesya sadar jika dirinya tidak mampu membalas kasih Arif yang secara sukarela lelaki itu berikan untuknya. Kesya tidak ingin membuat lelaki baik itu terluka di tangannya, Kesya tidak ingin kejahatannya menyasar pada lelaki yang amat peduli dalam hidupnya. "Kita harus berhenti tarik ulur perasaan ini, Arif. Persahabatan bukanlah ide yang bagus, itu hanya akan menyiksamu, dan aku tahu bagaimana rasanya, jadi aku memintamu untuk berhenti saja."


"Kita baru saja sepakat untuk tetap menjalin hubungan, Kesya. Aku tidak masalah dengan bagaimanapun keadaannya, aku sama sekali tidak keberatan jika harus sedikit terluka." Arif tahu sekecil apa pun sebuah usaha, pasti terdapat sebuah hasil yang menantinya. Arif sangat yakin jika tekadnya nanti tidak akan berakhir sia-sia.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa dirimu juga berhenti mengejar Naufal? Bukankah lelaki itu juga tidak berkenan menerima dirimu?" Arif tahu jika dirinya memang keras kepala dengan mempertahankan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun, yang ia lakukan memang murni ajakan nalurinya, walaupun benaknya senantiasa menyalahkan, hati kecilnya selalu memiliki banyak alasan untuk berkilah, dan membenarkan. "Ayolah, Kesya. Kita memiliki nasib yang serupa, kita juga memiliki kegigihan yang sama, dan tujuan yang sama." Walaupun kenyataan Arif selalu berdoa agar dirinya saja yang menang, dirinya yang berhasil mendapatkan Kesya, dan Kesya tidak akan pernah mendapatkan Naufal dalam hidupnya. Hal itu terdengar kejam, cinta yang Arif berikan memang manis, akan tetapi tetap terbesit harapan-harapan sadis. 


"Arif." Kesya benar-benar terpojok. Lagi-lagi kenyataan menghantam hidup pada masa mudanya. Tidak ada masa putih abu-abu yang indah, cinta pertamanya tidak terbalas walau setelah berusaha keras. Kemudian Arif datang memorak-perandakan alur hidupnya, rasa nyaman, aman, tenang yang Arif berikan, ternyata disertai rasa bersalah yang besar dalam diri Kesya sebab tak mampu membalas dengan hal yang serupa. 


"Kesya, biarkan kita jatuh bersama, terluka bersama, tumbang bersama. Kita bisa saling mengobati satu sama lain, kita bisa saling merangkul untuk satu sama lain, kita tidak akan mati jika masih bersama-sama, Kesya." Arif hanya ingin bersama, dalam bagaimanapun keadaannya. "Aku tidak selemah yang kamu bayangkan, begitu pula dengan dirimu, Kesya. Kamu adalah gadis yang kuat, dan gigih. Kita bisa lewati ini bersama, aku akan menunggumu lupa dengan Naufal, dan jika dirimu tetap belum mencintaiku, aku akan berusaha seperti tetesan air yang memecahkan batu karang secara perlahan-lahan. Tidak akan ada yang sia-sia." Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, dan amat menyenangkan saat waktunya tiba.