
"Kemudian satu lagi. Dirimu yakin mengikutsertakan dia untuk belajar bersama? Secara kita berbeda peminatan, dan dengan keberadaan adiknya itu, pasti yang ada kita hanya bermain-main saja di sini." Farhan tak cukup puas dengan pernyataannya yang sebelumnya. Ia tampak menggebu-gebu menyampaikan unek-unek yang ditahannya entah sejak kapan.
Mendengar hal itu Fauzan sontak ketakutan. Bocah itu semakin dalam menyuruk pada pelukan kakaknya. Ia dapat memahami keadaan sekitarnya yang sedang tidak dalam baik, dan dapat mengerti dengan cepat bahwa Farhan keberatan dengan kehadirannya beserta kakaknya.
"Farhan, maafkan aku jika karena kehadiranku aktivitas kalian terganggu. Namun, aku minta untuk jangan salahkan Fauzan. Dia masih kecil, dan dia hanya ingin bertemu dengan Nadira. Aku tidak bisa untuk tidak menurutinya," tutur Naufal berusaha menenangkan keadaan. Akan tetapi.
"Inilah yang terjadi karena dirimu terlalu banyak memberikannya pemakluman, Naufal. Aku tahu dia adikmu, kamu menyayanginya, tetapi bukan seperti ini cara yang tepat untukmu mendidiknya. Jika diteruskan, anak itu bisa-bisa jadi generasi yang manja dan menyusahkan banyak orang saja. Contohnya seperti sekarang." Farhan tetap tidak terima dengan apa pun yang Naufal katakan. Mereka jelas tak sejalan, atau mungkin Farhan yang enggan untuk sepaham.
Fauzan menangis, dan ia berusaha menahannya sekuat tenaga agar tidak memperkeruh keadaan. Namun, Naufal dan Nadira yang berada di dekatnya lantas peka. Isak tangis lirih Fauzan terdengar di telinga mereka berdua.
Menyaksikan hal itu Nadira lekas menahan Naufal dengan mencekal lengannya. Ia tidak akan membiarkan Naufal pulang dengan kesan buruk yang dibawanya sebab perkataan-perkataan Farhan barusan. "Naufal, tolong maafkan Farhan. Jangan diambil hati segala ucapannya. Dia berkata demikian karena tertekan dengan tugas sekolah kami yang sangat banyak."
"Tidak apa-apa, Nadira. Aku bisa mengerti jika dia berkata dengan baik-baik tanpa harus menyeret-nyeret Fauzan. Aku sama sekali tidak bermasalah denganmu, tenang saja." Sepasang netranya teduh. Sang ketua osis itu sama sekali tak menyimpan dendam maupun kesumat kepada Nadira. "Tetapi dirimu, Farhan. Aku tidak akan pernah bisa lupakan kejadian ini sampai kapan pun. Camkan itu," imbuhnya tertuju kepada Farhan.
Cukup lama Nadira berdiri di ambang pintu. Ia menyaksikan dengan saksama bagaimana Naufal bersama Fauzan perlahan-lahan pergi meninggalkan rumahnya. Kembali ia tatap pena berwarna putih yang dipegangnya, mengingat bagaimana kesediaan Naufal bersama Fauzan untuk mengembalikannya dengan cepat, justru balasan yang keduanya dapatkan ialah masalah sebab perkataan Farhan. Sebenarnya, Nadira pun tak dapat menyalahkan sahabat lelakinya itu karena mau seperti apa pun, dirinya dengan kedua karibnya tersebut telah lebih dulu memiliki tujuan dari kebersamaan itu.
"Seharusnya dirimu tidak berkata seperti itu, Farhan. Aku menjadi benar-benar merasa bersalah kepada mereka," ujar Nadira pelan. Ia merasa seperti telah kehilangan muka di hadapan rekan organisasinya. "Jika sudah begini, pasti semuanya langsung berubah. Interaksi antara aku dengannya mungkin tak akan lagi sama seperti sebelumnya. Hubunganku dengan Adiknya pun pasti tidak akan sehangat sebelumnya."