
"Jangan pernah memberikan pemakluman seperti ini kepadaku, atau sahabat laki-lakimu yang baru, suatu saat nanti." Farhan berpesan, raut wajahnya sangat serius, dia tidak bergurau dalam mengatakannya. "Semua ada batasnya, dan apa yang aku lakukan kemarin telah melewatinya, itu juga berlaku untuk laki-laki asing lainnya. Jadi kumohon jangan beri pemakluman untuk itu, Nadira."
Farhan masih menjaganya, masih ketat akan tetapi tak menjerat, rasanya masih nyaman, atau justru semakin nyaman. Nadira menikmatinya, jujur saja perhatian kecil seperti itu sangat disukainya. Bak dalam buaian, Farhan berhasil membuat Nadira membutuhkannya.
"Aku tidak akan memberikan pemakluman itu, Farhan." Nadira tersenyum sangat manis. "Terima kasih atas nasihatnya, aku beruntung mendapatkannya darimu."
"Syukurlah kalau begitu." Farhan mengangguk, dia menyudahi percakapannya kala Tina tiba-tiba saja datang menghampirinya.
"Selamat pagi semuanya." Tina sangat ceria, akan tetapi ada keanehan yang tak luput membersamainya. Mata gadis itu terlihat sedikit bengkak, mungkin dari kejauhan tak terlihat jelas, akan tetapi saat berdekatan seperti itu semuanya menjadi kentara.
Tidak ada jejak basah memang. Namun, satu bukti itu saja cukup untuk membenarkan bahwa keadaan Tina sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu sedang rapuh, tetapi bukan pada fisiknya, melainkan pada hatinya, bagian lembut itu menjadi sasarannya.
"Tina, apa kamu baik-baik saja?" Nadira khawatir, dia ingin sahabatnya bercerita.
"Baik, Nadira." Tina menutupinya, akan tetapi itu jelas gagal. Senyum lebar yang menampilkan deretan giginya yang putih, tidak berhasil diandalkannya untuk bersandiwara. "Ada apa, memangnya?"
"Aku tidak baik-baik saja, Nadira." Tina mengatakannya, terdengar berat dan parau. "Aku tidak pernah bahagia selama ini, tidak pernah sekalipun." Tina melepas pelukannya, ia menatap lekat wajah Nadira, wajah gadis yang sangat peduli padanya.
"Ceritakan semuanya, aku tidak menjamin jika aku bisa memberikan sebuah solusi, tapi setidaknya kamu akan sedikit merasa lega, dan sedikit membaik." Nadira masih membujuk Tina, dia sungguh peduli.
"Andai kamu tahu, di dalam rumahku tidak ada yang namanya keluarga, aku telah kehilangan harta itu, sejak lama." Tina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia begitu terluka, itu kenyataannya. "Semuanya semu, tawaku sebenarnya palsu, keceriaanku juga palsu. Kebenarannya selama ini adalah aku begitu kesepian, sebab kasih sayang kedua orang tuaku telah lama musnah." Fakta yang pahit, begitu pelik untuk didengar atau dibayangkan.
Hening sejenak, Tina butuh sedikit waktu untuk menguatkan dirinya sebelum mengorek kembali lukanya. Ada sedikit kelegaan selepas mencurahkannya, Tina akan meluapkan segala laranya pada Nadira. Dia butuh tempat yang benar-benar memeliharanya, dan ia dapatkan itu dari Nadira.
"Tidak ada yang sungguh-sungguh peduli. Bunda tidak pernah meluangkan sedikit waktunya untukku, dia punya dunia sendiri, dan tidak ada aku di dalamnya." Biarkan Tina membagi sakitnya. Dia begitu menderita untuk memikul nyeri itu sendirian.
Nadira langsung menangkup wajah ayu nan basah milik Tina. Dia merasa iba, sahabatnya begitu nelangsa, dan dia tidak dapat membantu apa-apa. Sedangkan Farhan, lelaki itu senantiasa menyimak dalam diamnya, ia turut prihatin sebenarnya, akan tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu Tina.
Permasalahan Tina begitu rumit, dan naasnya justru persoalan keluarga. Di mana di sana adalah tempat pertama untuk mencurahkan semua kisah duka, serta tempat pertama untuk merayakan segala bentuk suka ria. Keluarga adalah akarnya, dan Tina harus tumbang sebab akarnya telah hilang.