Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 113



Masih sekitar tiga puluh lima menit sebelum waktu mencapai tepat pukul tujuh. Naufal menyempatkan dirinya untuk mengamati rumah Nadira dari kejauhan demi mengetahui gadis itu akan berangkat sekolah bersama siapa. Hal tersebut Naufal lakukan pasalnya di sepanjang perjalanan selepas mengantar Fauzan dirinya benar-benar merasa tidak nyaman karena pagi itu ia tak berani menawarkan diri secara langsung untuk membonceng sekretarisnya agar pergi ke sekolah bersama-sama seperti biasa. 


"Aku sudah sangat keterlaluan. Tidak seharusnya aku mendebat  masalah kecil tanpa alasan yang jelas seperti kemarin." Ada sesuatu yang menghasut Naufal agar bertindak demikian. Dirinya sangat berhasrat untuk menyingkirkan siapa pun yang berpotensi memisahkannya dengan Nadira. Namun, tanpa dia sadari justru perbuatannya sendiri yang kini merusak segalanya.


Di tempatnya saat ini Naufal dapat melihat Nadira yang bergerak keluar dari pekarangan rumahnya dan mengunci pagarnya. Lelaki itu tidak memiliki niat untuk bersembunyi kendati dirinya menyaksikan bagaimana gerak gadis yang sejak tadi dipandangnya perlahan-lahan mendekat ke arahnya. Hingga pada akhirnya, tanpa sengaja sang ketua osis dengan sekretarisnya itu saling bertemu pandang. Nadira dan Naufal saling bertatapan dengan jarak yang membentang mengantarai mereka.


Nadira memberanikan diri untuk mendekat menuju keberadaan Naufal terlebih dahulu meski kini perasaannya bercampur aduk tidak karuan. "Mengapa bisa di sini? Apa ada seseorang yang sedang ditunggu?" 


Mendengar lembut tutur kata gadis di hadapannya itu justru membuat Naufal merasa sesak. Bagaimana bisa Nadira tidak menyimpan amarah hingga pagi ini padahal kemarin ia terlihat sangat murka? Setidaknya Nadira bisa bersikap tak acuh kepada Naufal dalam satu hari ini saja agar lelaki itu tidak merasa bersalah berkali-kali lipat karena hadirnya masih diterima baik.


"Dirimu terlihat tidak ingin bicara kepadaku. Apakah keberadaanku di sini mengganggumu, aku bisa pergi jika itu memang benar." Nadira lekas berbalik untuk beranjak dari sana.


"Situasi saat ini begitu membuatku merasa canggung, Naufal. Setelah apa yang terjadi kemarin, aku bahkan sama sekali tidak ingin bertemu denganmu hari ini, dan aku mengira dirimu pun membutuhkan waktu untuk tidak cepat-cepat bertemu denganku." Nadira mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak ingin menyembunyikan apa pun yang nantinya berpotensi menimbulkan masalah baru.


"Sampai aku tersadar bahwa aku tidak akan pernah sanggup untuk melakukan itu, Nadira. Perlu untuk dirimu tahu jika sesungguhnya aku tidak cukup berani untuk memulai pembicaraan denganmu. Namun, aku tahu aku akan lebih tersiksa apabila sama sekali tidak berada di dekatmu." Tanpa sadar Naufal mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan kepada Nadira. Kegundahannya yang menjalar menerungku batinnya membuat akalnya hilang kendali untuk memilah apa yang harus ia ucapkan dan yang tidak perlu ia ucapkan.


Mendengar itu Nadira tak mampu mengatakan apa pun untuk menjawabnya. Ia mengaku bahwa perkataan sang ketua osis tersebut terlalu mengejutkan untuknya. Ia tidak menyangka bahwa keberadaannya telah dinilai begitu berharga sedangkan jangka waktu kedekatan mereka masihlah sangat singkat.


"Ada rasa aneh yang membuatku tidak nyaman apabila terus membiarkan hubungan antara kita menjadi dingin, Nadira. Aku tahu dirimu tidak akan semudah itu untuk memaafkan sekaligus melupakan kesalahanku kemarin. Namun, ku akui aku pun tidak akan mampu menerima perubahan darimu. Aku ingin perbaiki semuanya, dan interaksi kita tetap berlangsung sama seperti hari sebelum-sebelumnya."