
"Terima kasih karena telah mengantarku kemari, Adiyasta. Berhati-hatilah di jalan, dan sampai bertemu nanti." Farhan dengan raut wajahnya yang berseri-seri itu menghentikan perjalanannya dengan Adiyasta di area dekat rumah Nadira. Ia berinisiatif untuk membonceng teman masa kecilnya tersebut menuju rumah Nadira yang kebetulan saja searah dengan sekolah Adiyasta.
"Ya, baiklah. Sana pergilah. Selamat berjumpa dengan kekasihmu," ledek Adiyasta sesaat sebelum melajukan kuda besinya untuk menghindar dari amukan Farhan karena godaannya.
Hari itu Farhan berniat untuk mengajak Nadira berangkat sekolah bersama dengan menaiki angkutan umum. Ia pun sampai sengaja melebihkan uang sakunya demi bisa membayar jasa angkutan umum miliknya sekaligus dengan gadis yang hendak dibersamainya itu. Ia ingat bahwa kemarin Nadira marah besar kepada Naufal, hingga akhirnya ia berpikir bahwa gadis itu tidak mungkin berangkat sekolah bersama sang ketua osis seperti hari-hari sebelumnya.
Namun, senyum manisnya yang semula tersungging dan menghias romannya yang rupawan, sontak hirap tatkala sepasang netranya menemukan Nadira bersama Naufal tak jauh dari posisinya. Ia tidak menyangka jika kedua manusia di hadapannya tersebut dapat kembali bersama dan berbincang biasa sedangkan kemarin telah terjadi prahara yang seharusnya cukup membuat keduanya enggan tuk bersua sementara.
"Situasi saat ini begitu membuatku merasa canggung, Naufal. Setelah apa yang terjadi kemarin, aku bahkan sama sekali tidak ingin bertemu denganmu hari ini, dan aku mengira dirimu pun membutuhkan waktu untuk tidak cepat-cepat bertemu denganku."
Farhan mendengar Nadira berkata begitu, dan nyatanya perkiraan gadis tersebut pun tak jauh dari apa yang ia pikirkan beberapa saat lalu. Akan tetapi, yang terjadi di hadapannya sekarang justru menampik segala yang berada di benaknya. Naufal terus berbicara segala hal yang sungguh di luar dugaan.
"Nadira!" Sampai akhirnya setelah berulang kali mempertimbangkan, Farhan memberanikan diri untuk membubarkan kebersamaan Nadira dan Naufal. Ia berjalan menghampiri Nadira untuk membawa gadis itu bersamanya. "Aku ke sini untuk menjemputmu. Ayo kita berangkat ke sekolah bersama," ajaknya.
"Aku bersama Adiyasta, tadi. Aku sengaja ingin berangkat ke sekolah bersamamu. Jadi, ayo," ajak Farhan lagi seraya mencekal lengan Nadira dan menariknya agar mengikuti langkahnya.
Namun, Naufal lekas mencegahnya dengan mencekal lengan Nadira yang lainnya. "Farhan, aku mohon berikan aku sedikit waktu bersama Nadira. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan, dan aku benar-benar membutuhkannya berada di sisiku sekarang."
Farhan lantas menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Kemarin, lalu kemarin lusa, Nadira telah bersamamu sepanjang hari. Apakah itu belum membuatmu puas?" Setelah mengucapkan itu Farhan bergerak membawa Nadira ke belakang tubuhnya, kemudian ia maju menghadap Naufal sebagai bentuk penentangannya. "Seharusnya itu sudah sangat cukup, bukan? Mengapa dirimu menjadi serakah sekali sekarang?"
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan berdua dengan Nadira. Aku tidak bisa menunggu nanti, besok, atau besok lusa untuk melakukannya." Naufal mengatakannya dengan lembut seolah tengah membujuk seorang ibu demi sebuah jajanan di warung.
"Nadira tidak perlu melakukan itu untukmu. Dia hanya akan pergi denganku." Farhan lekas merangkul bahu Nadira agar gadis itu tak kembali direbut oleh sang ketua osis. "Ayo, Nadira," ajaknya lagi.
"Aku ingin meminta maaf kepadanya sebentar saja!" Naufal lekas berlari untuk mengadang Farhan dan Nadira. "Aku mohon beri aku waktu untuk memperbaiki hubunganku dengan Nadira. Kami perlu bicara berdua."