Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 49



Hari kamis yang murung. Farhan tidak akan datang ke sekolah hari ini. Mengingat kemarin adalah hari paling berduka untuknya, pasti Farhan membutuhkan waktu untuk berkabung, hingga benar-benar lelah, dan akhirnya berserah. Nadira dan Tina juga tidak bersemangat bersekolah, mereka berdua sama-sama berduka, saat tahu ayah dari sahabatnya itu tiada, dan Farhan terluka. 


"Aku ingin pergi ke rumah Farhan, Tina." Nadira menatap kosong ke arah lapangan basket. Banyak sekali siswa-siswi yang lalu-lalang di sana, hanya saja Farhan tidak menjadi salah satunya. "Kita bawakan apa untuknya?" Nadira membenarkan posisinya agar menghadap Tina, lawan bicaranya. 


"Dia sedang berduka, Ibunya pun pasti sama." Tina tampak memikir sejenak, seraya mengusap-usap dagunya dengan lembut. "Kita beli makanan, kita bawakan makanan untuk Farhan dan Ibunya."


"Itu tepat sekali." Nadira tersenyum lebar, dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. 


......................


Sepotong roti isi, menjadi menu sarapan Kesya di pagi itu. Dia akan bersekolah hari ini, ayahnya yang meminta, dan Arif yang membujuknya, jadi dia manut saja. Toh, dia juga akan mendapatkan keuntungan nantinya, seperti bertemu dengan Naufal, dan kembali berusaha untuk mendapatkan hatinya.


"Papa akan antar kamu hari ini." Tama menatap Kesya sejenak, sebelum kembali berhadapan dengan roti isi yang juga menjadi pilihannya sebagai menu sarapan.


"Arif akan menjemput Kesya hari ini, Pa." Kesya menyunggingkan senyumnya, dia cantik sekali hari ini. "Dan hari-hari berikutnya."


"Kamu membuatnya repot." Rumah Arif dan Kesya tidak searah, jika Arif menjemput Kesya maka perjalanan yang ditempuh lelaki itu juga lumayan jauh, sekitar dua puluh menit apabila dengan mengendarai sepeda motor. "Dengan Papa saja. Tidak apa-apa."


"Tidak, Pa. Kesya tidak mau." Kesya menolaknya, dia ingin bersama Arif saja.


Tama dan Kesya kembali berkutik dengan kudapan di atas piring mereka berdua. Tidak ada yang kembali membuka suara, selain dentingan sendok yang beradu dengan piring, maka tidak ada suara yang lain. 


"Permisi." Suara berat itu diiringi dengan bunyi bel rumah Kesya. 


Pasti itu Arif! Buru-buru Kesya meninggalkan sarapannya, dan menuju pintu depan untuk menyambut tamunya pagi ini. "Arif!" Kesya memeluk tubuh Arif sejenak, dia suka lelaki itu datang dan menjemputnya, hanya suka. "Silakan masuk. Kita sarapan bersama." Kesya lekas melerai pelukannya, dan beralih menarik lengan Arif dan membawanya masuk ke dalam rumah. 


"Pagi, Om." Arif menghampiri Tama, lantas mencium punggung tangannya. 


"Pagi, Arif." Tama membalasnya dengan senyum semringah. "Silakan duduk, kita sarapan bersama."


"Terima kasih, Om." Arif menurut begitu saja, dan langsung mengambil posisi tepat di samping Kesya, mereka berdua duduk berdampingan. 


"Terima kasih karena telah merawat putri Om, kemarin." Kemarin Tama dihadapkan dengan rapat penting, hingga dia terlambat pulang, padahal Kesya sedang sakit di rumah. Lalu kabar buruknya adalah, Kesya enggan untuk makan, hingga tubuh gadis tersebut seperti tak berdaya. Namun kabar baiknya adalah, sepulang sekolah kemarin, ternyata Arif datang, dan unjuk diri untuk merawat Kesya. Hingga akhirnya kondisi gadis itu membaik di sore harinya, dan hanya membutuhkan pemulihan semalam saja, jadi tidak masalah pagi ini dia bersekolah, dia sudah sangat segar. 


"Sama-sama, Om." Arif sama sekali tidak keberatan. Justru dia sangat suka, sebab dapat bersama dengan gadis yang disayanginya.