Unconditional Love

Unconditional Love
Chapter 6



Chapter 6


Hari ini adalah pertandingan basket Randy. Setelah berpikir lama, akhirnya Viena memutuskan untuk pergi. Mungkin ini saatnya untuk memperbaiki segala sesuatunya dengan Randy.


Sesampainya di lapangan, tampak sudah banyak pendukung dari masing-masing sekolah telah duduk memenuhi tempat duduk yang tersedia. Beberapa dari mereka membawa spanduk dan menyoraki tim dari sekolahnya. Viena mengitari sekitar lapangan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Sembari itu matanya mencari-cari sosok Randy ditengah keramaian itu,namun ia sama sekali tak melihat keberadaan Randy disana.


“Hai Vien!” Viena kaget dengan sapaan itu. Sepertinya ia mengenal suaranya. Viena menoleh ke arah sang pemilik suara itu lalu tersenyum.


“Jhones, kenapa kamu bisa ada disini?”


“Aku anggota tim basket yang hari ini bertanding melawan sekolah ini, apa ini sekolahmu Vien?”selidik Jhones.


“Ya, ini sekolahku..aku datang untuk menonton sekaligus mendukung tim basket kami.”


“Wah..aku pikir kamu datang untuk menyemangatiku,” seru Jhones sambil tertawa renyah.


“Aku tidak tahu kalau sekolahku akan bertanding dengan sekolahmu.” Jawab Viena jujur.


“Tapi karena kamu orang yang baik, maka anggap saja aku disini untuk mendukungmu.”seru Viena sambil tersenyum ke arah Jhones. Lalu mereka pun tertawa bersama.


Disalah satu sudut lapangan, Randy menatap keduanya dengan perasaan tidak suka. Kenapa Viena bukannya mencarinya, malah menemui pria itu? Siapa pria itu sebenarnya?!


Randy berjalan mendekati Viena dan Jhones. Seketika mimik wajah Viena berubah saat menyadari kehadiran Randy disana. Ia seperti tertangkap sedang berselingkuh dengan Jhones.


“Randy?”


“Kamu datang Vien, aku pikir kamu tidak akan melihat pertandinganku.”


Sebelum Viena sempat menjawab, Jhones mengulurkan tangannya pada Randy.


“Hai, gue Jhones. Lo Randy kan?”


“Ya, gue Randy.” Ia menyambut uluran tangan Jhones.” Apa lo mengenal Viena?”selidik Randy


Jhones hanya tertawa menanggapi pertanyaan Randy.


“Gue kenal dia beberapa waktu yang lalu, di taman..kebetulan aja.” Jawab Jhones sekenanya.


“Owh. Ok sampai bertemu dilapangan.” Randy berjalan menjauh tanpa bicara apapun dengan Viena.


“Ehm, Jhones..maaf,aku harus pergi sebentar.”


Tanpa menunggu jawaban Jhones, Viena berlalu menuju ke arah kepergian Randy.


Matanya mencari-cari keberadaan Randy. Tapi Viena sama sekali tak menemukannya.


‘Kemana Randy? Apa semuanya ini benar-benar sudah tidak dapat diperbaiki lagi?’


Tiba-tiba mata Viena menangkap sosok Ilham, ia anggota tim basket sekolahnya juga.


“Ilham, apa kamu melihat Randy?”


“Dia tadi sedang di ruang ganti, mungkin sekarang dia masih berada disana.”


“Baiklah, Terima kasih.”


Viena bergegas menuju ke ruang ganti. Perasaannya mengatakan ia harus segera menemui Randy sebelum semuanya semakin runyam.


Sesampainya di ruang ganti, ia mendengar suara beberapa orang yang sedang berbicara. Viena mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia menunggu di depan pintu ruang ganti sembari memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Randy.


Tidak lama, Randy dan beberapa anggota tim lain keluar dari ruang ganti itu. Randy seakan tak menyadari keberadaan Viena disana. Ia berlalu tanpa menghiraukan Viena.


Viena berusaha menjejal langkah Randy, sampai akhirnya ia meneriaki nama Randy.


Randy menoleh dan berhenti. Seperti memberikan kode pada yang lain untuk meninggalkannya sendiri,teman-temannya pun berjalan mendahuluinya.


Viena setengah berlari mendekati Randy.


Nafasnya sedikit tersengal begitu sampai dihadapan Randy.


“Ada apa?” Tanya Randy


“Begini, ada yang harus aku jelaskan padamu. Tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Jika boleh, seusai pertandingan aku ingin bicara denganmu.” Viena berkata cepat.


“Baiklah. Kita bertemu setelah pertandingan.”


Pertandingan berjalan selama 3 jam penuh. Tapi Viena sama sekali tidak fokus dengan pertandingan itu. Pikirannya menerawang jauh,memikirkan apa yang sudah terjadi belakangan ini. Keriuhan di lapangan tidak sedikitpun mengusik Viena.