
"Sekolah tidak bisa memberikan dana sebesar yang kalian cantumkan di sini." Bu Iis, menatap Nadira dan Naufal dengan serius. "Mungkin sekolah dapat memberikan paling banyak adalah separuhnya."
Naufal tampak berpikir keras. Dia membutuhkan solusi secepatnya, karena acara pameran ini tidak boleh sampai mundur dari jadwal yang telah ditentukan. "Bagaimana jika kita menambah besaran uang iuran yang akan dibayarkan oleh sekolah-sekolah yang kita undang?"
SMA Cakra Buana memiliki popularitas yang sangat apik, hingga setiap agenda yang akan dilaksanakan oleh sekolahan tersebut, bisa dikatakan sangat bergengsi. Ide pameran yang dikemukakan oleh Nadira, akan dilaksanakan dengan satu tujuan dan satu fungsi. Pameran yang akan diadakan oleh SMA Cakra Buana akan menggaet beberapa sekolah menengah atas yang lain untuk saling berkompetisi, dan menjadikan pameran ini memiliki fungsi sebagai sarana prestasi. Sedangkan tujuannya, pameran ini memiliki tujuan sama sejak awal, yakni tujuan sosial kemanusiaan, di mana dana yang dihasilkan nanti akan disumbangkan untuk para korban bencana alam.
"Itu bukan ide yang tepat, Naufal. Sekolah-sekolah yang kita undang, akan kesulitan membagi keuangan jika besaran dana iuran ini kamu tambahkan. Justru, seharusnya kita tidak menarik dana sebanyak yang kamu tulis dalam proposal ini kepada mereka." Bu Iis mengucapkan itu dengan lembut, dia juga ingin kegiatan ini berjalan dengan sangat baik. "Mereka harus fokus untuk pembiayaan banyak bahan baku untuk karya-karya yang akan dipamerkan."
Apa yang dikatakan oleh Bu Iis memang benar. Untuk pameran ini memang diperlukan untuk mencari sumber dana lain. "Bagaimana jika kita mencari sponsor? Kita akan bekerja sama dengan mereka." Nadira hanya berniat mengemukakan pendapatnya, untuk diterima tidaknya, dia menyerahkan semuanya kepada Bu Iis.
"Saya melihat anak-anak muda zaman sekarang sedang gencar-gencarnya mengenakan sneakers lokal merek ternama yang cukup ramai di pasaran. Pihak mereka juga sedang mencari lapak promosi yang sesuai dengan sasaran produk yang mereka jual." Nadira melihat perubahan wajah Naufal dan Bu Iis yang bertambah serius saat mengamati ucapan-ucapannya. "Yang pihak mereka cari pasti dari generasi muda seperti kami, Bu. Mereka ingin menaikkan target penjualan produk premium mereka dengan melakukan promosi yang langsung menyasar pada anak-anak muda. Jadi menurut saya, dengan menjalin kerja sama dengan mereka, maka kami akan menjadi mitra yang saling menguntungkan."
Naufal kagum, penalaran Nadira sungguh luar biasa kedengarannya. Mengapa Naufal tidak berpikir sampai sejauh itu? Mengapa lelaki tersebut kalah dengan seorang sekretaris yang dulunya merupakan gadis cupu.
"Sasaran kamu hanya satu, Nadira?" Bu Iis tertarik, dia ingin mendengarkan yang lebih, lebih menakjubkan.
"Produsen sepatu lokal adalah target pertama, saya sudah menyiapkan beberapa target cadangan yang akan menjadi sponsor pameran kita." Nadira membuka buku catatannya, dan membacanya sejenak. "Yang selanjutnya adalah produsen perabotan rumah tangga berbahan plastik dari perusahaan manufaktur PT. Radika Indoprima, dan produsen kain batik Putri Sendang. Untuk menggaet dua produsen tersebut dapat dikatakan nekat, karena usaha rintisan mereka cukup terkenal dan sudah memiliki mitra sendiri untuk diajak kerja sama. Berbeda dengan produsen sepatu lokal, mereka baru saja menetas, dapat terhitung delapan bulan dari awal peresmian usahanya."