Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 122



"Oh, jadi kediamanmu berada di sini? Berarti rumah kita tidak berjauhan," ucap Wildan sesaat setelah tiba di rumah Nadira. "Kita bisa berangkat dan pulang sekolah bersama, karena selain dekat, rumah kita juga searah."


"Itupun apabila tidak merepotkanmu, Wildan. Ayo, mampir ke rumah. Ibuku sepertinya sudah pulang." Nadira melihat motor matic milik ibunya telah terparkir di garasi.


"Terima kasih, Nadira. Aku sebenarnya sangat ingin mampir, tetapi hari sudah sore. Aku harus mengajar les teman-teman adikku di rumah. Pasti mereka sudah menungguku lama. Jadi, lain kali saja, ya?" tolak lelaki itu lembut.


"Waw, dirimu memiliki kegiatan yang benar-benar bermanfaat. Apabila tidak keberatan, apakah bisa jika di lain waktu aku turut serta mengajar les teman-teman adikmu itu? Bukan maksud apa-apa, aku hanya ingin menggunakan waktu luangku untuk hal-hal yang berguna."


Wildan menyambutnya dengan senyum semringah. "Dengan senang hati kami menerimamu, Nadira. Aku berharap dirimu akan benar-benar melakukan itu di lain waktu yang kamu maksud. Aku menunggumu."


***


"Hai." Tina merasa kesepian di rumahnya, sehingga ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Farhan dengan niat untuk belajar bersama di sana. Di tasnya, gadis itu membawa semua tugasnya, dengan harapan dapat segera selesai ketika dikerjakan bersama dengan sahabatnya itu. Namun, yang ia temukan di rumah itu justru seseorang lain dengan kerepotan yang terlihat jelas dari terseraknya perkakas-perkakas prakarya.


"Oh, hai? Aku pernah melihatmu. Apakah dirimu adalah teman sekolahnya Farhan?" sambut Adiyasta ramah.


"Iya." Tina menganggukkan kepalanya.


"Ayo, silakan duduk," ajak lelaki itu sembari mempersilakan Tina duduk di ruang kosong di sisinya.


Sekilas Adiyasta memandang karyanya kemudian kembali menaruh perhatiannya kepada Tina. "Farhan banyak membantuku. Aku tidak mungkin bisa secepat itu menyelesaikannya tanpa bantuan dia."


"Kerajinan-kerajinan sebanyak ini untuk apa?"


"Sekolahmu mengadakan event pameran dan mengundang banyak sekolah untuk menghadirinya. Aku sangat antusias untuk turut serta di dalamnya, tetapi sekolahku mengadakan seleksi untuk mendapatkan siswa yang paling berbakat dan kompeten untuk masuk ke dalam tim karya. Jadi, apa yang sedang aku kerjakan saat ini adalah untuk mengikuti seleksi tersebut," terang Adiyasta.


"Kalau begitu bolehkah aku membantumu juga?" Tina sangat menyukai kegiatan prakarya. Ia merasa tertantang dengan kerumitan yang kadang kali membuatnya terus mengulang-ulang sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.


"Tidak perlu." Adiyasta menggelengkan kepalanya cepat. "Farhan akan marah besar kepadaku apabila sampai membuat tamunya kerepotan."


Sontak Tina mengudarakan tawanya. "Oh ya? Kalau begitu tenang saja. Farhan tidak akan bisa marah kepadamu, karena dia akan lebih dulu berurusan denganku."


Adiyasta tersenyum sangat manis ketika mendengar jawaban Tina yang demikian. Ia sama sekali tidak menyangka apabila gadis di hadapannya itu akan mudah membaur dengannya sebagai seorang yang asing. "Apakah namamu benar Tina? Dirimu adalah gadis yang sering datang kemari untuk mengajak Farhan belajar bersama?"


"Iya." Tina mengaku terpana dengan lelaki yang tengah di pandangnya itu. Entah mengapa, ia merasa sangat senang karena memiliki kesempatan untuk mengenalnya, dan mungkin kedepannya dapat dekat. Semoga saja. "Aku senang karena di pertemuan kali ini kita tidak perlu berkenalan."