Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 130



Farhan telah bangkit dan kini ia berdiri tepat di hadapan Naufal. Napasnya tampak memburu, menandakan amarah di dalam dadanya mendidih terbendung. "Untuk apa dirimu lakukan itu? Untuk memperbaiki hubunganmu dengan Nadira? Apakah dirimu menyukainya dan sangat-sangat tersiksa tanpanya?"


Tina tetap diam di tempatnya. Namun, indra pendengarannya tajam menyimak percakapan Farhan dan Naufal. Saat ini ia tidak ingin unjuk gigi membantu Farhan menentang sang ketua osis, meski ia sangat ingin. Gadis itu memutuskan untuk berjaga-jaga menjadi tameng dari sahabatnya itu jika situasi mulai menyudutkannya. Ia akan bertindak  jika memang benar-benar dibutuhkan nanti.


"Aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan kita," jawab Naufal.


Farhan terkekeh geli. "Dirimu pikir aku bisa dibodohi? Apakah dirimu mengira jika aku akan sangat terpukau dengan jawabanmu barusan?" Rasanya, Farhan ingin sekali melayangkan beberapa kali pukulan pada wajah Naufal saking kesalnya. Entah mengapa ia mengira lelaki itu tidak sungguh-sungguh merasa bersalah. Semua yang lelaki itu lakukan hanya demi kebaikan hubungannya dengan Nadira saja. "Pulanglah, dan jangan pernah mengharap apa-apa kepada kami."


Naufal tetap bergeming di posisinya meski rintik-rintik gerimis mulai mendarat di tubuhnya yang tidak mendapat peneduh. "Aku tahu, aku sudah sangat keterlaluan dengan mengatai kalian yang tidak-tidak. Aku hilang kendali kemarin. Ada sesuatu hal yang membuatku menggebu-gebu melakukan itu tanpa memikirkan imbasnya sama sekali." 


"Itu karena dirimu mencintai Nadira. Dirimu menginginkan gadis itu menjadi milikmu saja, dan meninggalkan kita sahabat-sahabatnya." Tina buka suara. Ia geram dengan Naufal yang masih saja bersikeras berada di sana meski Farhan telah mengusirnya secara terang-terangan. "Dirimu ingin merusak persahabatan kami demi memiliki Nadira sepenuhnya. Aku sama sekali tidak mengira jika dirimu akan sangat licik seperti ini."


"Dirimu bukanlah siapa-siapa di hidupnya. Bahkan dirimu pun tidak berhak mendapatkan tempat tertentu di hatinya." Meski Tina sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakannya. Menyaksikan Nadira yang mulai menunjukkan tanda-tanda kecenderungan terhadap sang ketua osis, jujur saja Tina merasa menderita sekali. "Berhenti berusaha mengambil begitu banyak perannya di keseharianmu, hingga membuatnya memangkas begitu banyak waktu dengan kami."


"Aku tidak memaksanya. Dia bersedia melakukan itu dengan senang hati," jawab Naufal.


"Itu karena dia merasa tidak enak hati!" tegas Tina tanpa berpikir panjang untuk meluruhkan air matanya pada detik itu juga. "Kemudian, dirimu yang sangat-sangat tidak tahu diri itu kerap sekali membawanya pada posisi tidak nyaman untuk menolak ajakan-ajakanmu yang setelahnya berimbas membuatnya lalai terhadap tugas-tugas sekolah." Tina benar-benar sakit hati. Ia tidak rela jika sahabat yang didapatnya susah payah akan direbut oleh Naufal dengan mudah. 


Seakan paham dengan situasi yang menyiksa sahabatnya, Tina, Farhan segera membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Salah satu tangannya bergerak mengelus lembut surai panjang perempuan tersebut sembari mendaratkan kecupan singkat beberapa kali pada puncak kepalanya. Farhan paham betul apa yang tengah dirasakan oleh Tina, sebab ia pun sama merasa tidak rela apabila kelak Nadira memilih membersamai cintanya yakni Naufal.


"Mengapa kalian begitu berlebihan jika kenyataannya Nadira hanya merasa tidak enak hati saat membersamaiku? Seharusnya kalian tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, sebab sampai kapan pun Nadira hanya bersama kalian saja. Itu pun jika memang apa yang kalian katakan benar." Naufal menyunggingkan senyum sinis, lalu tertawa singkat dengan kesan meremehkan. "Kita tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Bisa saja, ia pun sedang mencintaiku."