Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 26



"Naufal, kamu buat hatiku sakit." Kesya tersakiti lagi. "Apa tidak bisa berkata dengan lebih lembut lagi? Aku tahu aku salah." Tapi bukan luka seperti ini yang Kesya inginkan. 


"Itu pantas kamu dapatkan, Kesya! Memang apa yang lebih bagus untuk perempuan tak berhati seperti dirimu kecuali hinaan dan bentakan seperti ini?" Apa ada yang pantas selain itu? "Coba beritahu aku jika memang ada."


Kesya diam. Hening dalam sesaat. Yang terdengar adalah isak tangis Kesya, dan napas Naufal yang memburu. Suara-suara itu mengalun mengisi lorong sepi pada jam pelajaran dimulai. Mereka berdua ada di waktu itu, melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Memang kegiatan apa yang pantas dilakukan seorang pelajar jika bukan belajar? 


"Tidak ada, kan?" Naufal menaikkan salah satu alisnya. "Berarti apa yang aku lakukan sudah pantas."


"Naufal, aku tahu kesalahanku memang pantas untuk itu. Tapi cintaku? Sungguh tidak pantas mendapatkan hal tersebut." Kesya memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri. 


"Berhenti membahas suatu hal yang sama sekali tidak berguna. Semakin kamu membahasnya, aku semakin muak mendengarnya." Naufal tidak terima. "Lebih baik lupakan saja, sebab yang kamu katakan 'Cinta' itu tidak akan pernah kuberikan balasan." Naufal pergi meninggalkan Kesya yang masih diam di tempat, bersama isak tangis yang kian memilukan. 


Bruk! Kesya menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas. Hatinya patah kembali. Lukanya menganga lagi. Pedihnya semakin menyeruak membuat dirinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. 


"Kesya." Masih ada Arif. Lelaki tersebut langsung menangkap tubuh Kesya, dan memapahnya menuju kursi panjang yang tersedia di lorong. 


"Arif, Naufal membenciku." Tanpa memedulikan luka yang ada dalam hati Arif, Kesya langsung memeluk tubuh lelaki yang senantiasa sukarela menjadi tempat untuknya membawa pulang semua luka. "Dia tidak mau melihat sedikit saja cinta yang aku berikan untuknya." Arif bergeming. Dunianya benar-benar runtuh saat Kesya mengatakan sebuah pengakuan padanya. Arif mendengar langsung sebuah kenyataan yang menyakiti hatinya, dari Kesya, gadis yang amat ia cintai. 


"Aku begitu mencintai Naufal, Arif. Rasa ini sudah ada sejak lama." Kesya kembali menjelaskan.


Arif ikut menangis. Rasa sakit sebab hatinya patah, dan rasa sedih sebab gadisnya menangis pilu, dua rasa itu menjadi deritanya saat itu juga. Sungguh Arif yang menderita. Arif yang nelangsa. 


Cepat-cepat Arif menghapus air matanya. "Cobalah buka hatimu untuk orang lain." Seperti Arif. Sebab lelaki tersebut sudah sangat mencintaimu. "Yang tentunya bisa membalas rasa di hatimu." Sandiwara yang luar biasa. Arif pandai menyembunyikan luka hatinya, dan menjadi begitu tegar demi menguatkan gadisnya. 


"Aku hanya mencintai Naufal, Arif. Membuka hati untuk lelaki lain rasanya sangat tidak mungkin." Kesya membuat hati Arif benar-benar patah. Gadis tersebut merenggut keyakinan yang telah susah payah Arif bangun dengan sendirian. 


"Tidak adakah sedikit kesempatan, jika saja ada lelaki yang mencintai dirimu, selain Naufal?" Apa pun faktanya nanti, biarkan Arif yang menanggung sendiri lukanya. 


Tangis Kesya mereda. Kini gadis tersebut telah melepaskan pelukan Arif, dan beralih menatap lelaki tersebut dengan sendu. "Akan sulit untuk itu, Arif. Melupakan Naufal, dan mencintai lelaki lain, pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena kamu harus tahu, jika yang kuminta pada Tuhan sampai detik ini, masih hati Naufal."


Apakah Arif harus menyerah setelah ini? Apa yang dikatakan Kesya sudah cukup jelas untuk menjadi alasan Arif pergi dan mengubur cintanya pada gadis tersebut. 


"Semuanya belum usai. Sulit bukan berarti tidak mungkin berhasil," batin Arif, seraya menyembuhkan sendiri luka-lukanya.