Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 101



Sampai di pusat perbelanjaan yang ramai dengan khalayak umum, Naufal dan Nadira menjadi pengunjung dari kalangan pelajar yang agaknya merupakan minoritas di sana. Fauzan yang diapit mereka berdua terlihat girang ketika menemukan adanya tempat bermain di dalam sana. Namun, ia tidak ingin mengingkari janjinya, ia ingin mentraktir Nadira untuk makan ayam goreng tepung lebih dulu.


"Kita bermain di mana, Fauzan? Di sini ada macam-macam, ada tempat mandi bola, bermain mobil-mobilan, atau dirimu mau yang mana?" tanya Nadira.


Fauzan lekas menggelengkan kepalanya. "Kita makan siang dulu ya, Kak? Kita semua pasti sudah sangat lapar," jawab bocah itu.


Nadira tak lekas mengiakannya, sejenak ia menatap ke arah Naufal sebagai tanda meminta pendapat.


"Benar kata, Fauzan. Lebih baik kita makan siang terlebih dahulu." Naufal tersenyum mengatakannya. Ia begitu senang menyaksikan pemandangan di depannya. Bagaimana seorang Nadira, sosok perempuan yang sebelumnya sama sekali tidak ia kenal, dengan sikap lembutnya yang demikian berhasil membuat Fauzan begitu mencintainya.


Andai saja gadis itu tahu bahwa Fauzan lah yang saat ini membawanya ke pusat perbelanjaan. Bocah kecil itu rela mengambil sebagian tabungannya untuk mentraktir Nadira sebagai bentuk permintaan maafnya. Semampunya ia akan memberikan apa yang Nadira sukai di pusat perbelanjaan itu nanti.


Kini keduanya telah tiba di gerai penjual ayam goreng tepung dengan merek ternama yang sering diiklankan di televisi. Masing-masing dari mereka pun telah dihadapkan dengan sepiring nasi putih dan ayam goreng tepung, tak lupa juga sebotol air mineral. Fauzan yang duduk di antara Nadira dan Naufal tampak memulai kegiatan makan siang itu dengan lahapnya.


"Kak Na, haa." Fauzan meminta Nadira membuka mulutnya. Di tangannya terdapat sepotong kecil ayam miliknya yang hendak ia suapkan kepada Nadira.


***


Plak! Suara tamparan itu terdengar sangat keras. Siapa yang mengira jika tubuh Dania berhasil dibuat terpelanting oleh amarah Hadi yang semakin tak terkendali.


"Ayah, cukup!" Tina tak dapat menahan dirinya setelah hal itu terjadi. Ia tidak terima melihat ibunya disakiti sedemikian sadisnya meski pelakunya adalah ayahnya sendiri.


"Tina." Hadi bingung. Niatnya hendak berlaku baik dan manis di hadapan putrinya agar anak itu bersedia diajaknya, kini agaknya pupus sesaat setelah aksinya diketahui.


"Tina pikir selama ini hanya Ayah yang peduli terhadap Tina, tetapi setelah mendengar semuanya, apa yang dikatakan oleh Bunda memang benar. Ayah adalah patah hati pertama Tina." Tina lekas menghampiri Dania, memeluk tubuhnya erat-erat sembari menangis di sana.


Dania pun lekas membalas pelukan Tina. Ia pun menangis di bahu putrinya tersebut. "Maafkan Bunda, Sayang. Maaf apabila selama ini tidak dapat memenuhi ekspektasimu terdapat Bunda," ucapnya di sela isak tangis yang memilukan. "Bunda akan memperbaiki diri setelah ini, Bunda berjanji. Namun, tolong jangan pernah pergi. Jangan tinggalkan Bunda sendiri di sini," imbuhnya.


Tina menganggukkan kepalanya meski Dania belum tentu melihatnya. Ia berjanji tidak akan meninggalkan ibu kandungnya itu hanya demi mengikuti ayah kandungnya yang telah tega melakukan pengkhianatan di atas pernikahannya bersama Dania. Tina jelas murka ketika pertama kali mendengar kebenaran itu. Gadis tersebut tidak pernah menyangka apabila ayahnya akan melakukan aksi menjijikkan itu hingga rela meninggalkan anak dan istrinya.