Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 12



"Terima kasih, ya." Nadira melambaikan tangannya saat melepas kepergian kedua sahabatnya, Farhan dan Tina. 


"Hati-hati, Nadira." Farhan memberikan pesan tersebut dengan berat hati, pasalnya keinginannya untuk mengantar Nadira sampai rumah, tidak dikabulkan. 


Nadira hanya mengizinkan Tina dan Farhan mengantarkannya sampai jalan masuk menuju perumahan yang menjadi tempat tinggalnya. Nadira tidak ingin Farhan dan Tina berakhir menunggu angkutan lagi, jika dia izinkan untuk mengantarkannya sampai depan rumahnya. Cukup untuknya merasakan kebahagiaan karena kepedulian berlebih yang Farhan dan Tina berikan. Nadira tidak boleh terlena dan menginginkannya lebih-lebih. Semua perhatian yang diberikan kedua sahabatnya hari itu, seharusnya mendapatkan lantunan syukur banyak-banyak dari mulut Nadira. 


Sepanjang perjalanannya menuju rumah, Nadira masih terbayang akan tragedi yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu di sekolah. Entah Nadira seharusnya benci dan marah pada Kesya, karena niatnya untuk bersenang-senang menjadi terganggu dan berakhir bakso yang mubazir karena tidak ada selera untuk melahapnya, atau justru merasa senang, karena apa yang dilakukan Kesya berhasil menciptakan kesan baik untuknya. 


"Sayang, kamu jalan kaki dari sekolah?" Yuliana yang sedang menyapu terasnya, tampak terkejut saat melihat putrinya berjalan kaki sampai di rumah. 


"Tidak, Bu," sanggah Nadira. "Nadira menaiki angkutan umum bersama Tina, dan Farhan," imbuhnya. 


Yuliana tersenyum mendengar hal itu, akan tetapi ekspresinya tiba-tiba saja berubah, tampak bingung dan mengernyitkan dahinya. "Siapa Farhan?" tanya wanita itu. 


Nadira meneruskan langkahnya, sampai dia berhasil menemukan kursi di teras rumahnya dan mendaratkan bokongnya dengan nyaman. "Dia sahabat baru Nadira. Sebelum bersama Tina, Nadira sudah bersahabat terlebih dahulu dengan Farhan," jawabnya. 


"Apa dia baik?" Yuliana beranjak mendekati Nadira, lalu duduk pada kursi yang berseberangan dengan kursi yang ditempati Nadira, dan ada sekat berupa meja di antaranya. 


Nadira tersenyum manis, sebab benaknya secara otomatis langsung mengenang momen di mana Farhan memihak padanya saat Kesya merundung dirinya. "Sangat baik." Nadira juga kembali mengingat beberapa saat yang lalu, kepedulian Farhan yang sangat jelas terlihat, kala lelaki tersebut memutuskan untuk mengantarkannya pulang. "Bahkan sangat-sangat baik." Nadira mengangguk. 


"Nadira belum mengenalkannya pada Ibu," ucap Yuliana. 


"Jika ada waktu senggang, Nadira akan mengundangnya makan siang di rumah kita," jawab Nadira. 


"Itu ide yang bagus, Sayang." Yuliana mengangguk pelan, seraya menyunggingkan senyumnya, namun tidak lama kemudian lengkungan di bibirnya tersebut mendadak hilang. "Ini kenapa, Nadira? Memar dan ini luka." Yuliana memegangi pipi lalu beralih pada bibir Nadira. 


Nadira bergeming, sungguh ingin mengatakan kebenarannya, namun ia tidak ingin ibunya khawatir dengan kondisinya. Nadira bimbang, dia tidak ingin rahasia perundungan yang telah ditutupinya sejak lama, harus terbongkar hari itu juga. Nadira tidak ingin ibunya bersedih kala membayangkan kekejaman Kesya saat menghina, dan memberikan kekerasan fisik padanya. Toh semuanya sebentar lagi akan berakhir, biarkan tertutup rapat, izinkan Nadira berbohong untuk sekali itu saja. 


"Nadira terjatuh, dan tidak menyangka jika akhirnya akan buruk seperti ini," jawab Nadira, disertai senyum agar Yuliana mempercayainya. "Lagi pula ini sudah diobati, tadi," imbuhnya dengan harapan Yuliana dapat menganggap semua ucapan logis.


Nadira menyunggingkan senyumnya, keraguan Yuliana sangat beralasan, karena ada ikatan batin di antara mereka berdua, dan itu sangat erat. Nadira tidak pernah berbohong sebelumnya, karena dia pandai berpura-pura. Saat dirinya mendapat perlakuan buruk dari Kesya, maka ia akan menangis sepuas-puasnya sesaat masih di sekolah. Entah kamar mandi, atau tempat yang lainnya asalkan itu sepi, maka di sana dia akan mengeluarkan segala luapan emosinya. Akan tetapi sesaat tiba di rumah, maka semua itu harus ia lepaskan, kesedihannya harus dia buang jauh-jauh, lalu menjadikan dirinya sebagai Nadira yang ceria di hadapan kedua orang tuanya. Hal itu bukanlah bentuk dari berbohong, hanya saja seni peran berpura-pura yang ia tunjukkan, tampak sangat natural dan meyakinkan. 


"Nadira tahu jika Ibu khawatir, dan Nadira sangat menyukai hal itu." Nadira menarik lengan Yuliana, lalu digenggamnya dengan erat. "Tapi sungguh, Ibu, luka ini ada hanya karena Nadira terjatuh, Nadira begitu ceroboh," sambungnya. 


"Ibu percaya untuk kali ini, walau sebenarnya ada keraguan," tutur Yuliana. "Berjanji sama Ibu, bahwa kamu tidak akan pernah menyembunyikan apa pun dari Ibu," imbuhnya. 


Permintaan Yuliana  cukup sulit, mendengar keinginannya akan sebuah 'Janji' sedangkan kenyataannya Nadira betul-betul menyembunyikan sesuatu. Sebisa mungkin Nadira tetap menyunggingkan senyumnya, walau kenyataannya dia begitu tidak tenang. 


"Nadira akan usahakan, Bu." Nadira menjawab seperti itu. Jawaban yang sangat meresahkan bagi Yuliana. 


"Ibu tahu kamu adalah gadis yang kuat. Kamu adalah gadis yang tangguh dan mampu mengatasi masalahmu dengan baik. Semua itu adalah hal hebat, sungguh Ibu beruntung memiliki putri sepertimu." Yuliana menjeda ucapannya, kemudian kembali berkata, "tapi kamu harus ingat, jika di sini ada Ibu. Di tempat ini." Yuliana menunjuk dada Nadira dengan telunjuknya. "Ibu akan selalu ada, untuk menjadi tempatmu berkeluh kesah jika tamengmu sudah tak sanggup untuk menahan lagi," imbuhnya. 


Ucapan Yuliana berhasil membuat Nadira terenyuh. Hingga keinginan untuk menangis, cukup sulit untuk disangkal. Akan tetapi sekuat mungkin Nadira membentengi cairan bening yang hendak menghancurkan dinding waduknya. 


"Terima kasih, Ibu. Entah harus sekeras apa Nadira mengucapkan syukur karena memiliki Ibu sepertimu. Sungguh rasanya Tuhan sangat baik sebab menitipkan janin ini di rahimmu, Nadira sangat beruntung," jawab Nadira. 


Yang dikatakan Nadira adalah kenyataannya. Yuliana adalah sosok ibu yang terbaik menurut versinya. Tidak ada tipuan atau rayuan belaka di setiap tutur katanya, semua itu betul-betul isi hatinya, dan Nadira merasa senang karena berhasil mengungkapnya. 


"Kamu cepat bersih-bersih, terus makan, dan setelah itu istirahat," ucap Yuliana. 


Nadira mengangguk mengiakan. "Nadira ke dalam dulu," ucapnya. 


Hari itu begitu melelahkan. Nadira harus bermain emosi dan hal tersebut begitu menguras tenaganya. Mengingat perundungan yang Kesya berikan tadi padanya, Nadira sebenarnya cukup kesulitan mengendalikan sisi lemahnya. Segala ucapan Kesya selalu berhasil membuatnya hendak menangis. Namun Nadira menanamkan dalam dirinya, jika mulai detik itu tidak akan ada tangis atas hinaan yang Kesya berikan. Dia akan berusaha menahan tangisnya dengan sekuat tenaga, dan mencari cara mengalihkan pikirannya agar fokus dalam merangkai kata untuk membalas segala cacian dari Kesya. 


Sampai di kamar kesayangannya, Nadira langsung menghempaskan tubuhnya di atas spring bed. Ya, dia ingin langsung beristirahat, melewatkan sesi bersih-bersih dan makan siangnya. Nadira cukup kuat untuk menahan bau badannya, sekaligus menahan laparnya. Yang dia tidak kuat adalah menahan emosinya terlalu lama. Sudah dia hempaskan jauh-jauh gejolak hatinya sebab Kesya di kantin siang tadi, akan tetapi ucapan ibunya yang berhasil membuatnya terenyuh akan berdampak pada air matanya, dan Nadira akan menangis haru bahagia saat itu juga, lalu tidur setelahnya.