
"Aku salut sama kamu, Nadira." Di ruang osis, Naufal akan menghabiskan waktunya berdua dengan Nadira. Mereka berdua memiliki tugas baru, sekarang. Terkait tentang sponsor, Naufal harus menyusun proposal bersama dengan Nadira, sebab diperlukan diskusi intens, dan juga pertimbangan otak cemerlang milik Nadira. "Usulan kamu tentang sponsor, kemudian pertimbangan-pertimbangannya, serta segala kemungkinannya, kamu memikirkan itu dalam waktu yang sangat singkat."
"Tidak, Naufal. Aku sudah memikirkan itu sejak lusa, sesaat setelah menyusun proposal." Nadira melihat ada yang janggal, dan ada kemungkinan revisi lagi nantinya. "Anggaran untuk mengadakan pameran itu pasti sangat besar, dan kamu mengandalkan sumbernya pada dana sekolah, serta dana iuran. Aku hanya merasa itu kurang tepat."
"Mengapa kamu tidak mendiskusikannya waktu itu?" Setidaknya Naufal dapat menimbang kembali, dan revisi tidak akan terjadi.
"Jika sekolah tidak keberatan memberikan uang sebesar yang kamu cantumkan, mengapa kita harus susah payah mencari sponsor?" Nadira memang menyiapkan rencana cadangan, akan tetapi dia juga mengandalkan rencana pertama, rencana yang paling mudah. "Mencari sponsor itu tidak mudah, Naufal. Kita butuh skill publik speaking yang baik. Kita harus menjelaskan apa yang ada dalam proposal, membuat target kita yakin, lalu menyetujui permintaan kita untuk bekerja sama."
Naufal terkekeh pelan. "Ternyata kamu juga menginginkan yang mudah, ya?" Naufal mengerti jika Nadira tak berbeda jauh dengannya, dibalik kepintaran gadis tersebut, tetap saja 'kemudahan yang tidak mungkin' adalah keinginannya.
"Itu sudah jelas. Siapa yang mau menyusahkan diri sendiri untuk melakukan presentasi di hadapan direktur utama perusahaan besar?" jawab Nadira.
"Apa susahnya?" Semakin ke sini, berbicara dengan Nadira adalah suatu hal yang menyenangkan. Gadis pintar itu, telah mengambil hati Sang Ketua Osis.
"Aku gugup." Dengan lirih Nadira mengucapkan itu. Menggemaskan sekali kedengarannya, sampai-sampai Naufal tergelak keras.
"Yuk!" Nadira mengangguk cepat. Ini saatnya untuk kembali membuat Kesya menderita.
Nadira menyeringai puas, saat mendapati Kesya duduk sendirian pada kursi panjang. Nadira dan Naufal akan melewati Kesya jika hendak ke kantin. Itu sebuah kesempatan, Nadira akan memanfaatkannya, menjadikan Kesya menderita lagi dan lagi.
"Naufal, boleh pegang tangannya?" Nadira memberi tatapan memohon pada Naufal. "Kakiku kesemutan, rasanya tidak nyaman jika digunakan untuk berjalan."
"Boleh." Naufal mengangguk yakin. Dia merasa tidak apa-apa, tidak merasa dirugikan, jadi Nadira boleh meminjam lengannya.
"Terima kasih." Nadira memegang lengan Naufal, sedikit mengeratkannya, dan membuat jalannya seolah sedikit pincang. Akting yang luar biasa. "Akh, maafkan aku karena telah merepotkanmu, Naufal." Saat ini Nadira telah berada di sisi Kesya, gadis itu melirik sedikit ke samping, ke arah di mana rivalnya itu telah menunjukkan kekesalan.
"Tidak masalah, Nadira. Aku hanya membantumu sedikit." Naufal tersenyum, sangat manis, dan Nadira terpana melihatnya. "Kamu sudah lebih banyak membantuku, dan yang aku lakukan ini jelas bukan apa-apa."
"Senang bisa dekat denganmu, Naufal." Untuk yang ini, Nadira jujur, dia tidak akting, atau berniat membuat Kesya kesal. "Kamu lelaki yang baik." Nadira melihat rona merah mendominasi pada pipi Naufal, Nadira tahu lelaki itu salah tingkah, Naufal yang berwibawa telah hilang, digantikan dengan Naufal yang manis.