
"Naufal!" Nadira tahu jika apa yang akan ia lakukan setelah ini akan terlihat sangat jahat. Namun, mengingat kembali tentang tindakan demi tindakan tercela Kesya pada dirinya, maka Nadira berusaha mengabaikannya, lalu mengikuti bagaimana raganya menuntun untuk terus menyakiti Kesya. "Aku rasa kita memerlukan sebuah referensi dari proposal sponsor dari tahun-tahun sebelumnya." Nadira melihat tangis Kesya yang mendadak usai saat suaranya bergema di lorong itu. Nadira berusaha bersikap tak acuh walau nalurinya ingin menenangkan Kesya. Nadira lebih memilih berdiri di samping Naufal, lalu menggamit tangan lelaki tersebut untuk memberikan isyarat.
"Kita akan mencarinya di perpustakaan, dan mungkin itu akan membutuhkan waktu sedikit lama." Naufal sedikit heran dengan Nadira. Dia berpikir mengapa Nadira tidak menunjukkan reaksi khusus setelah melihat suasana yang tidak nyaman seperti saat ini. "Sebab yang aku ketahui belum ada yang mengambil langkah seperti kita, melibatkan sponsor pada sebuah kegiatan yang akan diadakan."
"Semoga saja ada." Nadira melirik ke arah Kesya sebentar. Hatinya ikut berdenyut nyeri saat melihat netra yang biasanya menatapnya dengan tajam, kini tampak sembab membendung duka. "Ini baru pertama kali untukku, Naufal. Aku sangat memerlukan referensi untuk membuat proposalku berbobot."
"Kita akan mencarinya." Naufal berpikir jika dirinya akan lebih baik jika segera pergi bersama Nadira ke perpustakaan, walaupun dengan itu berarti dirinya harus meninggalkan Kesya yang masih menangis karena dirinya. Namun, berada di sana rasanya benar-benar canggung, sebab Kesya hanya diam saja menyaksikan obrolannya dengan Nadira. "Kita pergi sekarang." Naufal berlalu seraya menautkan jari-jari tangannya dengan jemari Nadira.
"Semoga sukses. Semoga proker yang kalian kerjakan berjalan lancar." Kesya mengucapkan itu saat menyaksikan sikap Naufal yang masih tak acuh walau setelah membuat tangisnya pecah.
Naufal dan Nadira saling diam. Mereka berdua tidak menoleh untuk menyaksikan derita Kesya lagi. Sedangkan Kesya hanya bisa melangkahkan kakinya untuk menjauh sekarang juga, sebab jika dirinya masih bergeming di tempat maka itu hanya akan kembali melukai hatinya.
"Apa aku terlalu egois, Nadira?" Naufal tidak tahu jika akibat pertemuannya dengan Kesya kali ini akan membuat pikirannya kacau sekali. "Aku terlalu memaksanya untuk pergi, untuk menghapus rasa yang ada di hatinya kepadaku, apa itu egois?"
"Memangnya apa langkah yang akan kamu ambil selain memintanya pergi, dan menuntutnya menghapus rasa di hatinya padamu?" Nadira tahu, kali ini bukanlah kali pertama Naufal menyaksikan tangis Kesya. Nadira meyakini sesuatu, pasti ada salah satu ucapan Kesya yang berhasil mengusik hati Sang Ketua Osis. "Andaikan saja dirimu tidak melakukan hal itu, melainkan hal sebaliknya. Misalnya dengan menerima cinta Kesya, sedangkan hatimu sama sekali tak cinta padanya, apa kamu akan bahagia?"
Naufal menggelengkan kepalanya. Lelaki itu tidak bisa mecintai gadis mana pun untuk saat ini. Naufal masih terjerat trauma masa lalunya, terkekang luka yang juga disebabkan karena pernah mencinta. Naufal urung sembuh selama ini, dia terlalu takut untuk mengulang rasa itu kembali, dan berakhir sakit lagi.
"Aku hanya ingin ingatkan padamu, Naufal. Akan lebih baik jika dirimu mementingkan dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum diri orang lain." Tanpa mencampurkan tujuannya dengan balas dendam kepada Kesya, Nadira menyarankan hal tersebut karena memang menurutnya langkah seperti itu adalah yang terbaik untuk dipilih Naufal saat ini.