Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 124



"Apa yang dirimu lakukan, Adiyasta? Apakah dirimu benar-benar tidak sabar menungguku sampai-sampai dirimu meminta Tina untuk membantumu?" Farhan lekas mengenyahkan suasana tegang yang semula tercipta di antara dirinya dan Tina sebab pembahasan singkat barusan. Ia tidak ingin pikiran buruk itu terus-menerus membayang, dan menimbulkan percikan nyeri baik pada batinnya maupun pada batin gadis itu.


"Hei! Jangan menuduhku seperti itu, ya!" protes Adiyasta dengan cepat. "Tina yang menawarkan dirinya untuk memberikan bantuan. Aku pun sempat tidak mengizinkannya, karena aku yakin dirimu akan memarahiku seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi? Sahabatmu yang sangat cantik itu memaksaku agar memperbolehkannya untuk membantu."


Dipuji seperti itu Tina sontak menerbitkan senyumnya pada wajahnya yang telah bersemu merah. Ia merasa seperti diterbangkan ke awang-awang dan dibiarkan di atas tanpa ada yang bersedia menariknya turun.


"Apa benar yang dia katakan?" tanya Farhan tertuju kepada Tina.


Tanpa menunggu nanti, Tina segera menganggukkan kepalanya. "Aku ingin membantunya, karena aku sangat menyukai prakarya."


***


"Jika Tuhan menakdirkan aku untuk jatuh cinta kembali, maka aku hanya akan jatuh cinta kepadamu di kehidupan selanjutnya," ucap Kesya sembari melingkarkan tangannya di belakang leher Arif yang berdiri di hadapannya. "Hanya kepadamu, Arif. Tidak ada Naufal, atau lelaki lainnya. Aku menganggap ketertarikanku kepada Naufal dahulu sebagai sebuah kebodohan yang tak akan pernah sudi aku ulangi."


Pelukan Arif kian erat. Dia ingin menunjukkan bagaimana cintanya bekerja setiap saat, memuja Kesya tanpa mengunggah syarat, mencandu paras ayunya dengan senantiasa memandang dengan lekat. Tidak ada lagi perasaan sederhana yang berkenan menerima keberadaan gadis itu apa adanya. Arif telah menetapkan Kesya menjadi miliknya seorang, mengakui serta mempertahankan batin dan raga gadis tersebut menjadi miliknya saja. 


"Aku tidak ingin berbagi lagi. Aku ingin menjadi yang satu-satunya," ucap lelaki itu sembari mengelus surai gadis di dekapannya. "Aku ingin menyudahi segala luka yang pernah hadir. Aku ingin semesta beralih memberiku bahagia bersamamu hingga titik terakhir."


Mendengar itu Kesya meneteskan air matanya. Senyumnya yang semula mengembang sempurna, kini justru tampak getir memilukan. Entah apa yang berada dalam pikirannya sekarang. Kesya justru terlihat tidak sanggup dengan segala hal yang barusan Arif katakan.


"Aku akan meminta beberapa hal darimu, Sayang. Aku ingin dirimu berhenti mengimpikan Naufal. Berhenti bermain-main perasaan yang nantinya hanya akan menyakiti dirimu sendiri, dan kemungkinan juga aku. Kita tutup bersama-sama kisah lalu itu, kemudian kita mulai kembali dengan yang baru dan lebih baik." Sejenak Arif bergerak melepas pelukannya pada tubuh Kesya, lalu beralih menatap gadis itu dalam-dalam. "Maaf karena telah menciptakan suasana buruk seperti ini hingga membuatmu menangis."


Kesya menggelengkan kepalanya, kemudian bergerak menghapus air matanya yang menggenangi wajah. "Seharusnya dirimu tidak perlu meminta hal itu, Arif. Dalam hubungan kita, memang sudah seharusnya kita dapat memberikan hal tersebut kepada satu sama lain. Kita harus berusaha keras untuk mempertahankan hubungan ini agar tetap baik-baik saja."