Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 131



"Dirimu harus tahu, jika semakin lama aku merasa semakin serakah sekali. Aku selalu merasa kurang dengan waktu-waktu yang dapat kita habiskan berdua. Aku ingin yang lebih lama," terang Arif sembari meraih tubuh Kesya ke dalam pelukannya. "Bagaimana denganmu? Apakah sama sepertiku?"


Kesya tak langsung menjawabnya. Ia bergerak melepas pelukan kekasihnya itu dengan perlahan. "Jika aku katakan iya, apakah dirimu percaya?"


Arif menganggukkan kepalanya. "Selagi aku melihat ketulusanmu di sana, aku akan percaya. Akan tetapi, jika dirimu menjawab demikian hanya demi menjaga perasaanku saja, aku akan cukup menghargainya." Pandangan Arif terpaku pada sesuatu di depannya, yakni lalu-lalang orang-orang yang tengah memburu kudapan. Keduanya kini tengah berada di pujasera untuk menghabiskan waktu bersama seraya berkuliner ria.


"Mengapa?"


"Apa lagi?" Sesungguhnya Arif tidak ingin membahas hal itu lagi. Namun, keadaan yang sebenarnya membuat mereka mau tidak mau harus kembali menjenguk fakta jika. "Perasaanmu terhadap Naufal tidak mudah untuk beralih kepadaku, meski berulang kali dirimu menyatakan cinta kepadaku. Aku tahu itu sulit, sebab Naufal adalah cinta pertamamu, cinta terlama bagimu, dan sekaligus yang paling dirimu perjuangkan. Terlalu banyak cerita tentangnya yang membayang di ingatanmu, dan apakah menurutmu aku dapat dengan cepat menghapusnya?"


Lagi-lagi Kesya tak lekas menjawab. Ia tampak menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya tanpa suara. "Apa aku terlihat masih mencintainya? Aku merasa akhir-akhir ini sudah tak lagi menjalin interaksi yang berarti dengannya. Seharusnya dirimu dapat menilai bagaimana hubunganku dengannya sekarang, sesaat rapat siang tadi." Kesya dapat memahami perasaan Arif dengan baik. Ia tahu, luka yang dahulu ia persembahkan kepada lelaki itu cukup untuk membuat trauma hingga menutup kepercayaan. "Ayolah, Arif. Kita lebih sering menghabiskan waktu bersama, dan itu cukup membuatku mencandumu setiap saat."


Dengan cepat Kesya menggelengkan kepalanya. "Aku sungguh-sungguh mengatakannya, Arif. Setelah menempatkan dirimu menjadi bagian penting dari hidupku, aku merasa seperti sedang bergantung kepada seseorang penaung ulung. Aku dapat mencurahkan kasihku yang utuh kepada seseorang yang benar-benar butuh. Untuk itu, dirimu tidak pantas tenggelam hanya karena dahulu aku sempat menggadang-gadang Naufal menjadi yang paling aku inginkan." Kedua tangan gadis itu bergerak meraih wajah Arif untuk membingkainya. "Sampai kapan seperti ini? Sampai kapan dirimu menganggap aku masih menyimpan Naufal di dalam hatiku baik-baik? Perlu aku jelaskan bahwa dia sudah tidak ada lagi, dan aku tidak peduli apa pun tentangnya lagi."


***


"Kita tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Bisa saja, ia pun sedang mencintaiku."


Kalimat itu begitu ampuh melukai Farhan, hingga membuat lelaki itu betah berdiam diri di kamarnya setelah meminta Tina agar lekas pulang. Terdapat nyeri sekaligus sesak yang menyergapnya erat-erat tanpa ampun, hingga tak ada celah untuk menjemput lega meski dengan menangis sekalipun. Farhan tidak rela apabila Nadira benar-benar memiliki rasa itu kepada Naufal, kendati sah-sah saja apabila gadis itu merasakannya.


"Dirimu tidak boleh mencintai ketua osis itu, Nadira! Aku tidak akan pernah rela dirimu menjadi miliknya!" batinnya senantiasa berteriak demikian. Ia merasa sakit hati yang hampir tak tertahan. Andai saja Naufal masih di hadapannya, mungkin lelaki itu telah babak belur tak karuan sebab Farhan melampiaskan lara mengendap di kalbunya.