
"Jangan menyuruhku pergi lagi, Kesya." Karena rasanya sangat menyakitkan. "Kamu tidak akan tahu bagaimana hancurnya aku, jika saja hal itu terjadi." Arif mengelus lembut punggung Kesya, seraya menahan air matanya agar tak beranak pinak.
Kesya tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Beberapa waktu lalu dia terluka, dia sedih, dan kecewa pada dirinya sendiri. Dia tidak berguna lagi, tidak ada yang menginginkan dirinya lagi, awalnya Kesya berpikir begitu. Namun sekarang, kehadiran Arif mengubah semuanya. Arif begitu menghargainya, menjadikannya berharga bak seorang ratu di takhtanya. Andai saja Naufal dapat melakukan hal yang sama, berkenan membuatnya sedikit bahagia, tapi sayangnya tidak, Naufal tidak akan melakukannya, karena membuang-buang waktu saja.
Walau begitu hatinya masih sama, tempat berlabuhnya masih sama, walau luka yang serupa masih melekat hingga membuatnya merana. Di hati Kesya hanya ada Naufal, hanya nama lelaki itu yang menempatinya, benar itu hanya nama, karena raganya enggan berada di sana. Kapan kenyataan pilu ini usai? Kesya memang masih kuat jika saja derita menghantamnya lagi dan lagi.
"Makan, ya." Arif melerai pelukannya pada tubuh Kesya. Kemudian menghapus jejak basah di wajah gadis itu. Jangan ada kesedihan lagi, Arif ingin menepi sebentar saja, sebab derasnya luka membuatnya sulit mengendalikan emosi. "Kamu harus sembuh, dan harus kuat, jika ingin memperjuangkan Naufal." Arif menepis sakit hatinya, dia hanya ingin Kesya baik-baik saja sekarang, cukup senantiasa dapat memandangnya, dan memberikan perhatian tulusnya, hanya itu saja, soal hati Kesya yang tak mungkin diberikan untuknya, baginya itu tak apa.
Kesya mengangguk, dia setuju untuk makan, setelah drama yang menguras air matanya dan air mata lelaki di hadapannya. Bagaimana bisa hidupnya menjadi serumit ini? Kesya tidak menyangka sama sekali. "Arif, kapan kamu berkenan untuk pergi?" Setelah menelan makanan di mulutnya, Kesya menanyakan kesediaan Arif untuk pergi.
"Sampai Naufal berkenan menerimamu setulus aku menerimamu selama ini, sampai Naufal bersedia mencintaimu sebesar aku mencintaimu selama ini, dan sampai aku bisa memastikan bahwa kamu berbahagia dengan lelaki itu, kemudian setelahnya aku akan pergi." Arif mengabdi, dia tak enggan memberikan waktunya yang tak sebentar untuk memastikan bahwa gadisnya akan bahagia.
"Kamu tidak akan bahagia dengan melakukan itu, Arif." Kesya dapat menjaminnya.
"Terima kasih, Arif." Terima kasih untuk semuanya. Semua yang telah kamu korbankan untuk kebahagiaan Kesya. Terima kasih untuk ketulusannya. Kamu tidak pernah meminta imbalan atas segala luka yang kamu dapatkan setelah memperjuangkan Kesya.
......................
"Jadi awal mula persahabatanmu dengan Farhan, karena ada tragedi perundungan yang Kesya lakukan terhadapmu?" Masih di kantin sekolah, Naufal menepati janjinya pada Farhan untuk menemani Nadira makan siang. Dan sekarang Naufal dan Nadira sedang menunggu, menunggu makanan mereka siap disajikan. "Dia membantumu waktu itu, kemudian memintamu untuk menjadi sahabatnya?" Naufal mengulang cerita Nadira, karena dia tak memiliki banyak topik pembicaraan.
"Iya, dia sangat peduli waktu itu." Nadira mengangguk.
"Bahkan sampai sekarang." Naufal tersenyum, dia harus bisa mencairkan suasana, atau canggung akan menerpa, dan membuat momen siang itu menjadi tidak enak sekali. "Apa kamu tidak menyukai Farhan?" imbuhnya dengan asal.
"Dia sahabatku, Naufal. Sudah jelas aku menyukainya." Bukan itu yang dimaksud Naufal. Namun, anggapan Nadira ternyata lain.