
"Beri Kesya keringanan, mungkin saja hal tadi tidak murni semua karena kesalahannya." Arif masih bersikeras meminta keringanan atas hukuman yang diberikan kepada Kesya.
"Skors dua minggu, rasanya itu lebih terhormat daripada memberikannya nasihat di sela-sela amanat upacara," tutur Naufal dengan tenang, bahkan netranya masih terpaku pada laptop tanpa berniat memandang Arif yang telah memelas di hadapannya.
Rundingan Sang Ketua Osis dengan Bendaharanya, yang artinya Naufal dan Wildan sebagai pemegang kasus perundungan tersebut, berakhir dengan jatuhan hukuman skors dua minggu untuk Kesya. Sebenarnya Naufal tidak cukup puas dengan keputusan Kepala Sekolah yang hanya menjatuhkan hukuman skors dua minggu, seharusnya ada tambahan pendidikan moral yang diberikan kepada Kesya agar pikiran gadis tersebut terbuka lebar-lebar.
"Ada hukuman untuk Nadira juga?" Arif berharap Naufal mengatakan 'Iya' karena dirinya sungguh tidak rela jika gadisnya menderita sendirian.
"Nadira adalah korban, kamu harus tahu itu," jawab Naufal.
Arif mengembuskan napasnya dengan kasar, karena yang didengarnya dari mulut Naufal justru membuatnya menjadi geram. "Ada benarnya ucapan Kesya tadi, mungkin Nadira hanya memasang wajah lugu, sedangkan ada niat terselubung yang mungkin disembunyikan olehnya." Arif benci sebenarnya, dia bukanlah lelaki yang gemar mengatakan keburukan orang lain, akan tetapi ini demi Kesya, dan Arif tidak ingin gadisnya menanggung hukuman seorang diri.
"Apa sebenarnya tujuan kamu? Membujukku untuk meringankan hukuman Kesya atau membatalkan hukuman Kesya?" tanya Naufal.
"Membatalkan hukuman Kesya," jawab Arif dengan antusias.
"Jawabanmu terlalu gegabah, hanya mementingkan perasaan Kesya, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lainnya," tutur Naufal mengutarakan pendapatnya.
"Kalau begitu setidaknya ringankan hukuman untuk Kesya, dia juga membutuhkan materi pelajaran, dia tidak akan paham dengan mudah jika hanya diberikan catatan," ucap Arif.
"Tidak akan ada keringanan ataupun pembatalan hukuman untuk Kesya. Setiap perbuatan buruk yang dia lakukan perlu diberikan sanksi," tegas Naufal, masih terus mempertahankan keputusannya.
Arif geram, dan itu jelas diperlihatkannya. Arif mengepalkan tangannya seolah menunjukkan kekuatannya sebagai Kapten Tim Basket. Apakah Arif akan kalut dan menciptakan kerusuhan? Adakah niat untuknya meredam amarah agar semuanya baik-baik saja?
Bugh!
Tidak ada! Kenyataannya kepalan tangannya memilih untuk meninju rahang Naufal. Rasanya nyeri dan, walau begitu Naufal tidak akan tinggal diam. Ia lepas statusnya sebagai Sang Ketua Osis, dan langsung mengeluarkan kekuatannya sebagai lelaki sesungguhnya, sebagai atlet taekwondo yang akan dengan mudah mengalahkan serangan dari Kapten Tim Basket.
Bugh!
Sangat tepat sasaran, bidikan Naufal tepat di ulu hati Arif. Pasti rasanya sangat sakit, hingga Arif tampak meringis dan mundur sedikit, lalu berharap rasa nyeri di ulu hatinya sedikit mereda, sedikit saja. Rasanya memang tidak seimbang pertarungannya dengan Sang Ketua Osis, akan tetapi ada kekuatan dalam hatinya, Arif mendapatkan kekuatan itu dari sugestinya akan keadilan untuk Kesya, walaupun itu tidak tepat.
"Anggap saja ini seri, aku tidak ingin seragamku berantakan dan membuatmu terluka parah karena kita tidak seimbang," ucap Naufal.
Itu adalah hinaan, apa yang dikatakan Naufal adalah hinaan bagi Arif. Walau sebenarnya niat Naufal adalah untuk mengakhiri pertengkaran, akan tetapi cara bicaranya begitu menjabarkan posisinya yang lebih kuat dibanding Arif, dan tentu saja Arif tidak menyukai itu, bahkan tidak akan pernah menerima itu.
"Batalkan hukuman untuk Kesya, atau pertarungan ini tidak akan pernah berhenti." Ancaman macam apa itu, apakah Arif tidak melihat dengan siapa dirinya berhadapan sekarang?
"Maumu seperti itu?" Naufal tidak merasa tertantang sama sekali. Arif bukanlah lawannya, begitulah ucapnya dalam hati.
Bugh!
Naufal langsung bangkit, berdiri tegak dan mempersiapkan kepalan tangannya yang paling ampuh untuk melemahkan lawan. Naufal berjalan mendekati Arif, semakin dekat hingga dapat dilihatnya wajah dari wakilnya tersebut.
Bugh! Bugh! Bugh!
Tanpa ampun, perut, pipi, dan pipi lagi. Naufal melayangkan tinjunya dengan kalap hingga Arif merasakan kesakitan yang teramat. Naufal yang tenang seketika berubah beringas. Apakah ini juga karena kesalahannya? Seharusnya dirinya mampu mengendalikan emosinya. Akan tetapi rasanya sangat lega karena dapat memberikan balasan yang impas. Biarkan Naufal bertindak salah untuk sekali ini, dia berhak melawan dan ada pembenaran untuk itu.
"Naufal! Arif!" Wildan yang berniat untuk mengambil catatan keuangannya yang tertinggal, tampak terkejut karena disuguhi kekacauan di ruang Osis. "Kalian bertengkar?" tanya lelaki tersebut.
Arif tak mengindahkan ucapan Wildan dan memilih untuk langsung berlalu meninggalkan ruang Osis. Sedangkan Naufal dengan tenang merapikan seragamnya yang berantakan selepas pertengkarannya dengan Arif.
"Seharusnya tidak seperti ini, Naufal." Wildan mencoba menasihati Naufal, walau hal itu belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Dia yang memulai duluan, dan aku tidak terima," jawab Naufal.
"Kamu mampu kendalikan emosi kamu, tapi kenapa untuk masalah ini kamu tidak melakukannya?" tanya Wildan.
"Karena aku memiliki hak. Hak untuk mempertahankan diri," jawab Naufal membenarkan.
Mungkin seharusnya cukup sampai situ sesi penyampaian nasehat yang dilakukan Wildan. Dia ingat bahwa dirinya tidaklah dekat dengan Naufal, baru saat itu dirinya dan Naufal dapat terlibat untuk memecahkan masalah berdua dan berbincang cukup panjang. Sebelumnya tidak pernah seperti itu, karena baik Naufal dan Wildan, mereka memiliki selera pertemanan yang berbeda, dan mereka tidak memenuhi selera satu sama lain.
"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Wildan sesaat setelah mengambil bukunya di atas meja rapat kemudian berlalu meninggalkan Naufal sendirian.
...----------------...
"Bagaimana kalau ibumu tahu tentang luka di bibirmu itu?" Tina resah, sangat-sangat resah. Yuliana telah menitipkan Nadira padanya, dan naasnya hari itu mendapat momen yang buruk sekali.
"Tenang saja, aku akan menjelaskan semuanya, jangan takut, ya." Nadira senang karena kedua sahabatnya begitu mengkhawatirkannya. Bahkan saat mendengar Farhan memutuskan untuk mengantarnya pulang, sungguh membuat Nadira merasa berarti dan itu sangat disukainya.
"Tante Yuli menitipkanmu padaku, Nadira. Aku seperti melanggar amanah yang diberikannya, aku takut," ucap Tina.
"Ibu akan memahami semuanya jika kita menjelaskan kejadian sebenarnya, tenang saja," jawab Nadira.
Jalanan sangat ramai, dan Nadira beserta kedua sahabatnya memutuskan untuk berjalan kaki sebelum menemukan angkutan umum yang akan mengantarkan mereka sampai di rumah masing-masing. Rumah Farhan dan Nadira tidak searah, akan tetapi lelaki tersebut bersikeras untuk mengantar Nadira sampai rumah dan memastikan gadis tersebut baik-baik saja.
"Aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa di jalan. Ada kemungkinan Kesya akan menyerangmu tiba-tiba saat kamu lengah, jadi biarkan aku ikut bersamamu." Begitulah ucapan Farhan agar Nadira setuju jika dirinya ikut bersama gadis tersebut.