Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 39



"Nak Arif." Bi Sari, asisten rumah tangga di rumah Tama, mendapati tamunya di siang itu adalah Arif. "Silakan masuk."


"Kesya ada kan, Bi?" Di sekolah tadi Arif tidak tenang. Gadisnya tidak hadir, padahal hukumannya sudah tak berlaku lagi. Akan tetapi tiba-tiba saja dia teringat sesuatu, Kesya telah membuat sebuah keputusan yang keliru, Kesya memilih untuk menjalankan hukuman skors dua minggu, dan itu demi pandangan Naufal terhadapnya. "Dia baik-baik saja?"


"Non Kesya belum makan sejak pagi. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar." Air muka kecemasan tergambar jelas di wajah Bi Sari. Kesya belum makan sejak pagi, dan Kesya mempunyai riwayat asam lambung. Keadaan gadis itu tidak akan baik-baik saja, akan tetapi Kesya juga tidak bisa dipaksa. 


"Dia punya asam lambung, Bi." Arif juga tahu. Tentang Kesya, sebagai besarnya dia tahu. Dan saat ini dia bertambah khawatir. "Siapkan makan siang untuk Kesya sekarang, Bi. Saya ke atas dulu." Arif langsung berlari menuju lantai atas, ke kamar Kesya, dia tahu letaknya, jadi tidak akan tersasar.


Dari balik pintu kamar Kesya, Arif telah mendengar suara gadisnya muntah-muntah. Bergegas Arif membuka pintunya, dan untungnya Kesya tidak menguncinya. Pandangan Arif beredar, dia melihat pintu kamar mandi Kesya terbuka, dan gadisnya telah setengah merunduk berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganggu kerongkongannya.


Arif berlari, langsung meraih tengkuk Kesya untuk dipijitnya pelan. "Kenapa bisa begini, Kesya." Arif khawatir, wajah gadisnya telah memerah karena usaha untuk benar-benar bisa memuntahkan sesuatu sangat keras. Berulang kali Kesya berusaha, dan akhirnya selalu sama, dia tidak benar-benar muntah,  dia tidak bisa muntah. 


"Dari tadi begini, aku capek." Kesya sangat lemas, dan Arif langsung membopongnya serta merebahkannya di atas ranjang. 


Kesya begitu pucat, dan tubuh dingin, banjir keringat. Arif menyingkirkan anak rambut Kesya yang menutupi kening. Mengapa Kesya menjadi begitu menderita? 


Arif menatap wajah Kesya yang terlihat sangat lelah. Gadisnya semakin kacau setiap harinya, dan Arif bisa lakukan apa sebagai lelaki yang mencintai Kesya? Arif turut sedih, dia ikut hancur, sebab Kesya juga merasakan kedua itu, sedih dan hancur. Bagaimana ini? Bagaimana caranya mengembalikan keadaan seperti semula? 


"Makan, ya." Arif menyodorkan sendok yang telah ia isi dengan nasi putih dan lauknya. Arif akan menyuapi Kesya, gadisnya itu harus makan.


"Letakkan saja, aku akan memakannya sendiri nanti." Kesya enggan untuk mengunyah dan menelan sesuatu saat itu. Pikiran dan batinnya berkecamuk, tidak tenang, tidak menyenangkan. 


Arif menggelengkan kepalanya, kemudian menggenggam tangan Kesya dengan erat, sedikit meremasnya dengan lembut, untuk meredakan nyeri di hatinya. "Kumohon, Kesya. Untuk yang satu ini jangan kembali menolakku." Netranya sendu, deritanya pilu, akan tetapi Arif harus menjadi yang lebih kuat, sebab Kesya-nya juga sedang kacau.


"Arif, berhentilah seperti ini." Kesya meneteskan air matanya, membalas genggaman tangan Arif dengan erat. "Kamu juga sakit, Arif. Aku yang tidak bisa menerimamu, dan kenyataan jika aku mencintai Naufal, kedua itu menjadi alasan sakitmu. Seharusnya kamu pergi, seharusnya kamu menyudahinya, bukan membuatnya menjadi seperti ini." Kesya tersedu-sedu, dia memang sakit hati, tapi Arif, lelaki itu juga sama sakitnya dengan Kesya. 


"Orang sakit tidak bisa merawat orang yang sedang sakit juga." Kesya ingin Arif berhenti. Kesya tidak ingin menyakiti Arif. Kesya ingin dirinya sendiri saja yang sakit.