Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 43



"Terima kasih untuk kehadirannya, Wildan." Acara penyusunan proposal telah selesai. Nadira sudah menelitinya dua kali, dan Naufal juga melakukan hal yang serupa. Kini Naufal, Nadira, dan Wildan akan beranjak pulang, sebab matahari telah menggurat sinar jingga di ufuk barat. 


"Sama-sama, Naufal." Wildan mengangguk pelan. "Kalau begitu aku pulang dulu, Naufal, Nadira." Kemudian ia berpamitan dengan Naufal serta Nadira, sebelum tubuhnya benar-benar menjauh dari ruang osis. 


Hening lagi. Nadira dan Naufal saling menyibukkan diri, seraya terkatup, menutup mulut masing-masing. Nadira menata proposal lama ke dalam rak buku, serta membawa proposal yang baru saja dibuatnya tadi, untuk di jilid sebentar. Sedangkan Naufal, lelaki itu tampak sedang memasukkan buku-buku yang baru saja dia dapatkan dari perpustakaan ke dalam tasnya. 


"Siapa yang akan membawa proposalnya?" Nadira membuka suara, sembari menunjukkan proposal yang telah ia jilid dengan rapi ke hadapan Naufal. 


"Kamu saja, ya. Besok pagi kita ajukan bersama kepada Bu Iis," usul Naufal. 


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Nadira langsung mengambil tasnya dan beranjak pergi. 


"Tunggu!" Naufal langsung mencekal lengan Nadira cepat-cepat. Ada sesuatu yang tidak boleh dilupakan. 


"Ada apa?" Sejenak Nadira melihat tangan Naufal yang mencekal lengannya. Ada apa lagi sebenarnya? 


"Aku antar kamu pulang." Naufal ingat, jika Farhan sempat berpesan padanya, untuk mengantarkan Nadira pulang setelah urusannya selesai. "Farhan berpesan padaku tadi untuk mengantarkanmu pulang, aku harus menjalankan amanahnya."


Nadira hanya mengangguk mengiakan. Dia juga baru ingat jika sahabatnya yang sangat perhatian, sempat memberikan Naufal pesan untuk mengantarkannya pulang. Manis sekali didengarnya, andai lelaki yang di sisinya saat ini bukanlah Naufal, melainkan Farhan, pasti suasananya tidak akan seburuk ini. Dasar canggung yang menyebalkan!


"Tunggu di luar sebentar, ya. Aku harus membenahi peralatanku dulu." Naufal kembali sibuk dengan alat-alat tulisnya yang harus dirapikan secepatnya. 


Suasana di sekolah sore itu benar-benar sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya embusan angin yang menerbangkan daun-daun kering, serta membuat debu-debu berdesir hingga mendayu di telinga. Tenteram sekali rasanya, suasana seperti itu yang selama ini Nadira cari-cari. 


"Sudah, mari kita pulang." Setelah mengunci pintu ruang osis, Naufal bergegas menghampiri Nadira yang telah berdiri tak jauh dari jangkauannya. 


"Iya." Nadira tidak bisa berkata banyak. Singkat seperti itu saja sudah sedikit membantu menetralkan kecanggungan yang mengantarai dirinya dan Naufal. 


......................


Perjalanan kala itu terasa sangat risi. Naufal dan Nadira diam saja, tidak ada yang berani lebih dulu membuka suara. Deru mesin motor mengalun jelas terdengar mengiringi setiap putaran roda menuju tempat tujuan. Sore itu hangat sekali, Nadira merasakan semburat senja menerpa sebagian wajah dan tubuhnya, pasti Naufal juga merasakan hal yang serupa. 


"Apa Kesya mengganggumu hari ini?" Suara Naufal terdengar lirih, walau lelaki itu telah berusaha memekik untuk mengatakannya.


"Tidak!" Nadira juga ikut memekik, sebab helm yang mereka berdua kenakan telah menutupi indra pendengar mereka. "Sepertinya dia tidak datang ke sekolah hari ini." Sebab Nadira tadi melihat Yustin dan Mora hanya berdua saja di kantin. 


"Aku sangat berharap dia berkenan untuk berhenti." Naufal tidak ingin melihat Nadira kembali disakiti. 


"Semoga saja. Aku juga berharap hal yang sama." Nadira tidak ingin turun tangan untuk balas dendam. Dia tidak memiliki rasa apa pun pada Naufal, kendati Sang Ketua Osis itu sangat tampan dan baik hati. Nadira juga tidak ingin menyakiti hati Naufal, lelaki itu tidak salah apa-apa, tak pantas mendapatkan luka dalam bentuk sedemikian rupa.