
Lonceng pertanda pulang sekolah telah dibunyikan. Satu-persatu penghuni kelas beranjak dari tempat mereka dan hanya menyisakan Nadira, Tina, beserta Farhan di sana.
"Terima kasih karena kalian sudah membantuku untuk menjadi kandidat dari tim promosi. Aku sangat berharap kalian berdua lah yang terpilih nanti, agar kita dapat berada di pameran itu bersama-sama." Nadira tak dapat mengungkapkan kebahagiaannya kecuali dengan berterima kasih dengan kedua sahabatnya itu. Ada banyak sekali siswa yang mendaftar untuk menjadi kandidat daripada tim promosi, dan Nadira memohon kepada Tina dan Farhan untuk menjadi dua di antaranya. "Dan aku akan bagikan kepada kalian daftar apa saja yang perlu dipersiapkan untuk seleksi wawancara esok lusa. Aku tidak bermaksud untuk melakukan tindakan nepotisme, jadi sebisa mungkin aku mengusahakan kalian agar lolos dengan cara-cara ini."
Sebenarnya Farhan menjadi yang paling tidak berkenan di sana. Masih dikarenakan perseteruan malam kemarin, entah mengapa Farhan jadi tidak ingin berhadapan dengan sang ketua osis lagi. Namun, demi sahabatnya itu Farhan menurut, egonya mengalah, dan akhirnya mengiakannya meski tak sepenuh hati.
"Kami akan berusaha dengan sangat maksimal, Nadira. Namun, untuk apa pun hasil akhirnya nanti, semoga kita dapat menerimanya dengan baik." Tina takut mengecewakan sahabatnya. Ia tahu skill publik speaking yang menjadi syarat utamanya merupakan suatu kemampuan yang bahkan belum pernah ia asah. Tina hanya pandai berbicara di hadapan temannya, tidak dengan orang lain yang tidak ia kenal bahkan apabila jumlahnya begitu banyak. Ia mengaku pintar mengatur strategi, pintar memecahkan masalah, tetapi cukup kewalahan dengan membangun komunikasi yang efisien.
"Aku percaya dirimu mampu, Tina." Nadira mengelus bahu Tina dengan lembut. Ia benar-benar mengharapkan sahabatnya itu lolos seleksi dan bergabung menjadi tim promosi nanti. "Dan, Farhan. Terima kasih karena telah berkenan untuk mengikutinya. Aku tahu osis tidak akan kekurangan kandidat yang berpotensi, hanya saja aku yakin posisi ini lebih pantas untuk kalian berdua."
Farhan menyetujui ajakan untuk bergabung semata-mata demi Nadira. Baginya, lolos ataupun tidak akan sama-sama membuatnya bersyukur. Apabila ia lolos, maka ia bersyukur karena berhasil membuat Nadira bangga dengan dirinya, dan jika tidak, ia pun bersyukur sebab tak perlu banyak-banyak berurusan dengan sang ketua osis. Namun, entah mengapa ketika mendapati harapan Nadira yang amat besar terhadapnya, Farhan ingin benar-benar berusaha keras untuk kali ini. Ia ingin memberikan apa yang Nadira inginkan terhadapnya.
"Aku akan mendapatkan posisi sebagai tim promosi yang seperti dirimu inginkan. Aku dan Tina akan belajar bersama untuk lolos bersama."
Naufal tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Ia telah mendapatkan laporan masuk mengenai siapa saja yang mendaftar untuk bergabung dalam tim promosi. Naufal mengira jika awalnya penawaran itu tidak akan bersambut seramai itu, tetapi nyatanya kini terdapat beberapa lembar kertas di tangannya dan di dalamnya hanya berisi nama lengkap serta kelas dari masing-masing kandidat.
"Kita perlu perketat seleksi. Harus banyak gugur, karena kita hanya menyisakan maksimal enam tim saja," tutur Naufal di hadapan Wildan yang siang itu kebetulan berada di ruang osis untuk keperluan pendataan dana yang lebih rinci. "Bagaimana menurutmu, Wildan? Apakah ada saran untuk seleksi apa saja yang dapat kita jadikan penyisihan?"
Wildan sama sekali tidak memikirkan perihal itu sebelumnya. Ia hanya datang untuk mendata keuangan, lalu tiba-tiba Naufal datang dan mengikutsertakan dirinya dalam pembahasan yang sama sekali tak dimengerti olehnya.
"Apa tolok ukur yang perlu dipenuhi oleh masing-masing kandidat untuk berhasil menduduki posisi sebagai tim promosi?" tanya Wildan.
"Sejauh ini yang aku pikirkan hanya skill publik speaking yang diperlukan. Apakah menurutmu ada penunjang yang lain?" Naufal benar-benar membutuhkan saran. Ia tidak memiliki daya yang mumpuni untuk memikirkan hal itu sendiri. "Kita perlu memberikan yang terbaik untuk mitra, sebab kita telah mendapatkan dana dengan nominal yang sangat besar dari mereka untuk menyukseskan acara. Jadi, aku mohon kepadamu untuk turut serta memikirkan hal ini."
Wildan menganggukkan kepala. Ia tahu seberat apa beban yang ditanggung oleh sang ketua osis itu. "Selain skill publik speaking yang sangat diperlukan, sebetulnya penampilan yang menarik, serta tingkat kepercayaan diri yang baik juga sangat dibutuhkan dalam tindakan promosi. Jadi, dua hal itu dapat dirimu pertimbangkan sebagai standar penilaian."