Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 123



"Farhan di mana? Apakah dia sedang pergi?" tanya Tina di sela-sela aktivitasnya membantu prakarya Adiyasta.


"Dia ada di dalam. Ibunya memanggilnya untuk meminta bantuan. Kalau menurutku, sepertinya Farhan sedang membantu ibunya menyiapkan dagangan," jawab Adiyasta.


"Oh, jadi ibunya Farhan sedang membuka usaha kecil-kecilan? Hebat sekali mereka berdua, ya?" kagum gadis itu.


"Iya." Adiyasta menganggukkan kepalanya. "Aku benar-benar bersyukur dengan kemajuan mereka. Aku tidak menyangka jika Farhan dan ibunya akan bangkit secepat ini. Aku tahu, duka yang menimpa mereka tidak main-main. Mereka layak bersedih, terpuruk, dan menutup diri untuk beberapa waktu. Namun, mereka tidak melakukannya, dan justru memilih untuk kuat demi satu sama lain."


Tina mengembangkan senyumnya ketika mendengar tutur kata Adiyasta barusan. "Dirimu sangat dekat dengan mereka. Aku sangat menyukai kekerabatan kalian." Sejenak Tina menjeda kalimatnya, kemudian kembali berkata, "humm, atau lebih tepatnya merasa iri," imbuhnya tertawa.


"Untuk apa merasa seperti itu? Pasti banyak orang yang menyukai dan menyayangimu. Dirimu bisa lebih hebat dariku dalam membangun kekerabatan."


Tina berharap demikian. Ia berharap, persahabatan yang tengah dijalaninya bersama Farhan dan Nadira dapat benar-benar terlekat seapik yang diimpikannya. Meski kini tengah terlintas ragu sebab adanya kehadiran seseorang lain yang berpotensi mempersembahkan keretakan, Tina akan tetap berusaha mempertahankannya dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.


"Apa menurutmu seorang sahabat dapat berpaling ketika orang baru hadir di dalam hidupnya?" tanya Tina.


"Bukan." Tina yakin Farhan memiliki komitmen yang kuat sebagai prinsip pertemanannya. "Maksudku bukan Farhan."


"Apa Nadira?" Suara Farhan menyahut dari ambang pintu. Entah mengapa kehadirannya sama sekali tidak disadari oleh Adiyasta maupun Tina. "Apakah dirimu berpikir Nadira akan berpaling dari kita?"


Pandangan Tina sepenuhnya beralih kepada lelaki yang tengah menyangga nampan di tangannya. Ia terus memperhatikan langkah lelaki itu yang pada akhirnya terhenti tepat di sisinya.


"Aku tidak dapat memastikan akan seperti apa nanti akhirnya. Aku merasa, Nadira telah mulai menginginkan Naufal menjadi bagian darinya, yang aku maksud adalah dalam arti yang sebenarnya dan terlepas dari tujuannya yang katanya hanya untuk membalas dendam terhadap Kesya." Farhan mengatakannya sembari menata macam-macam gorengan yang dibawanya ke hadapan Tina dan Adiyasta. "Dan sialnya Naufal pun sepertinya memiliki perasaan yang sama."


Adiyasta yang sama sekali tidak memahami apa yang dikatakan oleh dua orang di dekatnya itu, memutuskan untuk sekadar menyimak. Ia melihat keseriusan di setiap tutur kata Farhan, serta kekhawatiran dari air muka Tina. Ia merasa bahwa orang-orang di hadapannya tersebut sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Dirimu tidak perlu merasa cemas berlebihan seperti itu, Tina. Apabila nanti kenyataan dia akan pergi, maka dialah yang akan benar-benar merugi. Kita hanya kehilangan sosok yang tidak sungguh-sungguh menerima kita sebagai dunianya, tetapi dia?" Sebenarnya Farhan pun sesak membayangkannya. Kekhawatirannya terhadap berpaling nya Nadira sama besarnya seperti yang dirasakan oleh Tina. "Dia kehilangan kita yang telah menemaninya di saat banyak orang yang sama sekali tidak berminat kepadanya." Namun, ia berusaha untuk menenangkan keadaan. Ia tidak ingin Tina bergelut habis-habisan dengan pikirannya yang akan semakin tidak karuan.