Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 25



"Yayasan memberikan kita teguran." Begitu yang dikatakan Bapak Kepala Sekolah. Terlihat tenang, dan biasa-biasa saja, walau sebenarnya Naufal tahu jika ada kekacauan yang disembunyikan dibaliknya. "Kita seharusnya pertimbangkan lagi hukuman untuknya. Sebab Tuan Tama adalah donatur tetap sekaligus penyumbang dana terbesar untuk sekolah kita, dan teguran ini." Bapak Kepala Sekolah diam, sebab Naufal memotongnya. 


"Membuat seluruh jajaran di sekolah ini kalang kabut. Tuan Tama telah memposisikan dirinya seperti mata air yang jernih, dia membuat seluruh anggota yang bergerak di sekolah ini bergantung padanya." Naufal jelas tahu arah pembicaraannya. Memberikan pemakluman yang sangat banyak untuk Kesya adalah cara terbaik mempertahankan suntikan dana dari donatur terkaya seperti Tama. 


"Tidak seperti itu, Naufal. Kamu tahu persis bagaimana keadaannya, bukan?" Bapak Kepala Sekolah kehabisan akal. Dia tidak memiliki satu pun cara untuk membenahi permasalahan rumit seperti ini di tangannya. 


"Saya hanya Ketua Osis di sini. Jika Bapak tidak memiliki cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, apalagi saya?" Naufal juga buntu. Tama benar-benar berpengaruh besar terhadap SMA Cakra Buana. "Kita membutakan mata dan menulikan telinga saja, saat Kesya melakukan sebuah kesalahan. Mungkin itu akan membuat keadaan baik-baik saja." Naufal tidak memiliki jalan keluar lagi. 


"Kita istirahat sejenak dari masalah ini. Kita jangan ambil risiko besar, dengan menentang Tuan Tama." Akhirnya akan seperti itu. Kepala Sekolah telah kalah, begitu pun dengan Naufal. 


"Saya tidak menyangka jika akhirnya saya kalah, Pak." Naufal menyesal. Namun untuk apa? Toh, sejak awal telah terlihat jelas perbedaan kedudukan antara dirinya dengan Tama. Membuatkan sanksi untuk Kesya, sama saja seperti uji nyali. 


......................


"Congratulation, Kesya!" Naufal bersedekap di hadapan Kesya yang berdiri tak juh di depannya. 


Entah setebal apa muka Kesya. Hingga gadis tersebut tetap kukuh menemui Naufal untuk meyakinkan lelaki tersebut akan cinta-cintanya. Kesya tidak pernah bosan walau diperkenankan mengulang-ulang usahanya meluluhkan hati Naufal, asalkan suatu saat dapat berhasil menaklukkannya.


"Kamu menang." Naufal memasang air muka kebencian. Itu adalah kenyataannya, dia sungguh membenci Kesya hari itu juga. "Bahkan mau sebesar semesta sekali pun kesalahanmu. Kami tidak memiliki hak untuk menghukummu demi menegakkan norma dan nilai-nilai sosial. Kamu hebat, dan juga ayahmu." Naufal berbalik badan setelah mengucapkan kalimat tersebut. Dia benar-benar kesal dan dia juga membutuhkan waktu, untuk tenang sejenak. 


"Maaf, Naufal." Kesya mencekal lengan Naufal. Gadis tersebut ingin bicara. "Aku akan menerima skors dua minggu yang kalian berikan." Kesya tersenyum tatkala melihat Naufal membalikkan badan dan beralih menatap dirinya. 


"Tidak perlu berlapang dada, kamu tahu akhirnya nanti akan seperti apa." Naufal tidak habis pikir dengan ucapan Kesya. Sebuah penerimaan yang terlambat. "Semuanya akan menjadi keruh. Kamu harus tahu itu, Kesya!" Naufal membentak. Akan tetapi Kesya masih baik-baik saja. 


Kesya meraih tangan Naufal kemudian digenggamnya dengan erat. "Aku dapat mengendalikan semuanya. Tidak akan ada masalah lagi setelah ini."


"Omong kosong, Kesya! Kamu itu busuk! Sama seperti ayahmu, kalian itu gambaran orang kaya yang sangat menjijikkan." Naufal menghunjam belati pada hati gadis yang masih rapuh karena penolakan yang ia berikan beberapa waktu lalu. 


Air mata luruh menciptakan tetesan di atas ubin. Naufal kembali meluluhlantakkan ketegaran yang telah dibangun susah payah oleh Kesya. Masih di hari yang sama, hanya dengan selisih waktu beberapa jam, hati Kesya sudah dua kali patah di tangan lelaki yang sama. Sialnya lelaki jahat itu, adalah lelaki yang telah sekian lama menempati hatinya. 


"Tapi itu bukan masalah besar. Sebab yang terpenting adalah kekuasaan kalian dapat menjadi senjata ampuh menyelesaikan berbagai bentuk masalah." Naufal menunjukkan seringainya, tanpa memedulikan wajah basah Kesya. "Begitu menyenangkan dapat menjadi kalian."