
"Permisi!" panggilan yang lantang itu pun diiringi oleh ketukan pintu yang mantap.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya adalah Naufal yang kini berdiri di depan pintu kediaman Nadira dengan Fauzan yang ia gandeng di sisinya. Lelaki itu memilih untuk mengembalikan pena berwarna putih milik sekretarisnya itu sekaligus bertamu dan menjemput temu meski urung dihunjam rindu.
"Ya? Cari siapa?" tanya Yuliana setelah membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang remaja lelaki serta bocah lelaki berdiri bersisian di hadapannya.
"Saya Naufal, Tante. Temannya Nadira," ucap sang ketua osis sopan. "Dan ini-"
"Saya Fauzan, Tante cantik. Salam kenal, ya?" sahut Fauzan dengan cepat.
Yuliana mengangguk-angguk. "Kamu adalah yang pagi tadi menjemput Nadira ke sekolah? Apakah dirimu ketua osis yang diceritakan oleh Nadira kepada saya?"
Naufal mengangguk sembari tersenyum ke arah ibu kandung sekretarisnya tersebut. "Saya ingin bertemu dengan Nadira untuk mengembalikan pena miliknya yang tidak sengaja terbawa oleh saya," terangnya menyampaikan maksud dari kedatangannya. "Sekaligus saya ingin mengantar Adik saya untuk bertemu dengan Nadira," imbuhnya.
Yuliana sontak berlutut di hadapan Fauzan untuk meraih wajah bocah kecil itu dengan kedua tangannya. "Jadi, kamu sering bermain bersama Kak Nadira? Tetapi, kapan kalian memiliki waktu bertemu?"
"Saya bersama Adik saya bertemu dengan Nadira di tempat perbelanjaan pada awalnya. Kemudian, kami kembali bersama saat Nadira menyediakan waktunya untuk membantu saya merawat Adik saya yang sedang sakit pada waktu itu," terang Naufal hati-hati.
Naufal terdiam memperhatikan setiap sudut rumah Nadira yang tersuguh sederhana, tetapi sangat nyaman. Sepasang netranya beredar hingga akhirnya mendapati foto keluarga yang dicetak cukup besar dengan bingkai pigura yang menambah nilai estetikanya.
"Naufal? Ada keperluan apa dirimu datang kemari?"
Hingga Naufal tidak sadar jika Nadira telah sampai kepadanya dengan disusul oleh Tina dan Farhan di belakangnya. Ia mendadak kikuk ketika menghadapi Nadira yang terlihat lebih cantik berkali-kali lipat dengan penampilan kasualnya. Naufal terlena dan terpesona, tetapi Nadira tak cukup peka.
"Kak Na." Tak menunggu waktu lama pun Fauzan segera memeluk kaki Nadira dengan erat serta gurat bahagia yang terpancar dari wajahnya. "Seharusnya hari ini Kakak main ke rumahku dan Kak Naufal untuk bermain-main seperti kemarin. Namun, Kak Naufal menyampaikan bahwa Kakak sedang belajar bersama teman-teman Kakak, untuk itu Kak Naufal tidak mengizinkanku untuk bertemu dengan Kakak pada hari ini."
Nadira berlutut di hadapan Fauzan untuk meraih bocah itu ke dalam pelukannya yang sesungguhnya. "Apakah dirimu sudah membaik, Sayang?"
Perlahan-lahan Fauzan melepaskan pelukan Nadira di tubuhnya, karena bertujuan agar dirinya dapat berinteraksi bersama Nadira dengan lebih jelas. "Sangat baik, Kak. Itu pun karena Kak Na dan Kak Naufal yang membantu merawatku kemarin. Terima kasih banyak atas bantuannya ya, Kak Na."
Nadira menganggukkan kepalanya. Ia merasa kagum dengan Fauzan yang tercetak dengan sedemikian kuat dan hebatnya. Selain itu, Fauzan dengan usianya yang masih sangat dini itu pun nyatanya memiliki bekal sopan santun serta kepatuhan yang sangat baik.