
Viena tetap bungkam. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Jhones.
"Apa kamu keberatan untuk berbagi masalahmu denganku,Vien?"
Viena menatap Jhones, ada pancaran kepedulian di matanya. Ingin ia meluapkan semua isi hatinya pada Jhones agar segala kegundahannya sirna, namun ia tersadar, Jhones bukan siapa-siapa. Tidak mungkin ia meluapkan semuanya pada Jhones. Harusnya Randy..ya, Randy yang seharusnya ada untuknya, bukan Jhones.
"Ngga Jhones, terima kasih untuk perhatianmu. Tapi sungguh aku tidak ada masalah apapun," ucap Viena hati-hati. Ia berusaha agar Jhones tidak tersinggung dengan penolakannya.
Mendengar itu, Jhones bukannya menjauh, malah ia semakin mendekatkan wajahnya pada Viena, ia menatap lekat mata itu..mata yang begitu jelas menyiratkan perasaan pemiliknya.
"Vien," panggil Jhones lembut, "Matamu sungguh tidak pintar berbohong. Ada kecemasan dan kegundahan disana. Tapi aku tidak akan memaksamu, hanya satu yang ingin aku sampaikan padamu, perasaan yang benar tidak akan memberikan kesedihan,Vien."
"Maksudmu?" Tanya Vien tergugu.
"Seperti yang aku katakan, sesuatu yang tidak mengenakkan muncul karena adanya kesalahan Vien. Untuk memperbaikinya, kamu harus melakukan hal yang benar." Jhones tersenyum.
Viena berusaha menerka-nerka apa maksud perkataan Jhones, tapi entah kenapa sulit sekali baginya untuk berpikir saat ini. Ditambah lagi kegundahannya pada Randy..dan juga kebingungannya pada Jhones. Viena tidak dapat memikirkan apapun lagi. Ia teringat Randy pasti sedang menunggunya saat ini, ia harus segera kembali pada Randy.
"Jhones, sekali lagi terima kasih atas kepedulianmu. Tapi maaf, aku harus segera pergi. Temanku pasti cemas karena aku belum juga kembali." Jhones hanya menggangguk mengiyakan. Ia mengantar kepergian Viena sambil tersenyum. Viena segera berjalan menuju ke tempat Randy, sementara pandangan mata Jhones mengikuti arah kepergian Viena. Melihat keberadaan Randy, Jhones tahu perkiraannya benar. Ada sesuatu yang sangat mengganggu Viena, hanya saja gadis itu belum bisa terlalu terbuka padanya.
"Mengapa kamu begitu lama,Vien? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Randy saat Viena kembali ke meja mereka.
"Maaf membuatmu menunggu, antrian di toilet begitu panjang. Jadi aku tidak bisa cepat kembali kesini," ucap Viena datar.
"Aku sudah kenyang, bolehkah kita pulang sekarang?" Ucap Viena sambil menatap Randy.
"Ada apa sebenarnya Vien? Sikapmu malam ini benar-benar membuatku bingung. Apa ada sesuatu yang membuatmu sangat marah padaku?"
"Aku tidak apa-apa,aku hanya lelah. Bisakah antarkan aku pulang sekarang?" Viena berusaha mengalihkan tatapannya dari Randy.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan Cafe tersebut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun ada sepasang mata yang menatap kepergian mereka dari Cafe itu.
Sepanjang perjalanan pulang tidak satupun yang berbicara, tidak Randy..tidak juga Viena..keduanya membisu. Hanya suara lagu dari mobil Randy yang terdengar memecah keheningan malam.
Sementara di Cafe itu, Jhones masih duduk menikmati minumannya yang tersisa sedikit. Pikirannya sungguh terganggu karena pertemuannya tadi dengan Viena.
Ia begitu penasaran pada gadis itu. Apa yang membuat gadis secantik itu terlihat begitu terluka? Dan pria yang bersamanya, siapa dia? Apa dia kekasihnya?
Pikiran-pikiran itu menggelayut di kepalanya..tapi tidak ada satupun jawaban dari semua pertanyaannya itu.
'Huft...mungkin sebaiknya aku juga pergi, duduk disini hanya akan semakin membuatku terus berpikir.'
Setelah membayar tagihan minumannya, Jhones pun berlalu meninggalkan Cafe itu membawa banyak pertanyaan yang tak mampu ia dapatkan jawabannya.