
"Kalian berangkat bersama? Apakah karena ini kalian jadi hampir terlambat?" Tina uring-uringan sebab sejak tadi ia cemas menunggu Nadira dan Farhan yang tak kunjung datang. Untung saja para guru dan tenaga kependidikan sedang melakukan rapat sehingga kelas akan dimulai agak terlambat dan gerbang dibiarkan terbuka begitu saja.
"Ada sesuatu hal lain yang membuat kami hampir terlambat. Tadi, Naufal ada bersama Nadira dan entah apa yang akan lelaki itu lakukan." Farhan lekas duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di atas meja seperti kebiasaannya.
Tina memandang penuh tanya kepada Nadira. "Lelaki itu masih berani? Maksudku, setelah segala hal yang ia katakan kepadaku dan Farhan kemarin, apakah dia masih memiliki muka untuk menemui dirimu?"
Nadira tersenyum simpul. Ia sendiri sebetulnya mengharapkan Naufal menemuinya. Batinnya menginginkan lelaki itu datang dan kembali membersamainya. Namun, akalnya sekuat tenaga menentang hal tersebut. Nadira ditekankan agar berhenti bermudah-mudah dengan lelaki yang telah begitu keterlaluan mengatai Farhan dan Tina.
"Nadira, apakah aku salah jika berpikir dirimu menyukai Naufal? Persetan dengan niat awalmu untuk memperalatnya, saat ini aku justru melihatmu lebih bahagia apabila menghabiskan banyak waktu bersamanya." Apa yang Tina katakan berhasil membuat Nadira dan Farhan seketika menyimak dengan saksama. "Dirimu dapat akhiri semua ini, Nadira. Karena jujur saja kami tidak akan setuju apabila dirimu bersamanya."
***
Naufal telah pasrah apabila ia harus berakhir terlambat sekolah, tetapi syukurlah hari itu berpihak kepadanya sebab gerbang sekolahnya masih terbuka dan tidak ada aktivitas belajar mengajar di kelas. Ia lekas memarkir motornya dengan benar, kemudian sejenak membenahi seragamnya sebelum menuju kelasnya.
Naufal memandang malas ke arah Kesya sebelum akhirnya ia memilih untuk berlalu meninggalkan gadis itu.
"Tunggu dulu, Sayang." Akan tetapi, Kesya bergerak lebih cepat menahan langkah Naufal dengan mencekal lengan lelaki itu. "Apakah tidak rugi dirimu meninggalkan aku demi membersamai gadis cupu itu? Apa yang dirimu targetkan dari seorang pasangan yang layak mendampingimu? Otak yang cerdas? Aku bisa mendapatkannya dan juga bisa mengalahkan bagaimana cara sekretarismu itu berpikir."
"Cukup, Kesya. Aku sudah sangat senang karena akhir-akhir ini dirimu berkenan untuk berhenti menggangguku seperti ini. Jadi, aku harap dirimu dapat melakukan hal yang sama untuk hari ini, dan hari-hari selanjutnya." Naufal segera melepas tangannya dari cekalan Kesya dengan kasar. "Dan satu lagi. Bukankah sekarang dirimu telah menjadi kekasihnya Arif? Seharusnya dirimu tidak melakukan ini, atau Arif akan sangat-sangat merasa sakit hati dan kecewa ketika melihatnya."
"Dirimu sangat memikirkan perasaan orang lain, Naufal. Namun, mengapa sekalipun dirimu tidak pernah mengerti perasaanku? Apakah aku berbeda dari orang-orang lainnya? Apakah dirimu sedang berusaha menjadikan aku sebagai musuh bebuyutan?" Tawa Kesya mengudara. Ia berjalan mengelilingi Naufal sembari menatap lelaki itu dengan lekat. "Lagi pula, asalkan dirimu tahu bahwa mungkin saja di kehidupan saat ini dirimu menolakku mentah-mentah, tetapi di kehidupan selanjutnya dirimu akan mengemis cinta kepadaku."
"Apakah dirimu sedang demam? Perkataanmu mulai melantur tidak jelas. Aku benar-benar jijik mendengarnya." Setelah mengatakan itu Naufal lekas berlari meninggalkan Kesya sebelum kewarasannya turut terganggu dan tertular gila.
"Ahh, sebenarnya aku tidak sabar untuk mulai menyalakan api. Namun, sayangnya hubungan kalian berdua belum benar-benar terjalin sebagai sepasang kekasih. Jadi, terpaksa aku harus menunggunya sembari menyiram bahan bakar sedikit demi sedikit. Aku rasa itu lebih baik."