Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 138



Naufal hendak menerobos masuk ke dalam ruangan, tetapi niatnya lekas diurungkan tatkala menyaksikan Nadira dan Wildan tengah berbincang berdua. Sang ketua osis itu akhirnya memutuskan untuk tetap berdiri di balik pintu demi menanti momen di mana ia dapat berinteraksi dengan Nadira dan membereskan masalah mereka yang belum mendapatkan titik terang.


“Nadira tidak akan pergi denganmu, Ketua. Dia akan ikut denganku dan Tina, kedua sahabatnya.” Entah dari mana arahnya, Farhan tiba-tiba saja telah berdiri di sisi Naufal serta mewanti-wanti lelaki itu.


“Aku ada urusan dengannya, Farhan. Bisakah untuk hari ini dirimu tidak menggangguku dan tidak mempersulitku?” Naufal jelas kesal menyaksikan Farhan yang bersikap demikian. Ia tidak terima apabila rencananya kembali berakhir kacau balau. “Dirimu telah merebutnya dariku kemarin. Jadi tolong jangan lakukan itu lagi kepadaku untuk hari ini.”


“Apa urusanmu dengannya, Naufal? Hari ini adalah hari libur dan Nadira pun telah menjalankan tugas yang jelas-jelas bukan tanggung jawabnya. Apakah dirimu tidak berbelaskasihan kepadanya dengan memberikan sedikit waktu untuk beristirahat dengan benar?” Sungguh Farhan tidak rela jika Nadira dan Naufal kembali berdekatan. Ia akan berusaha keras memisahkan keduanya semampu yang ia bisa. “Jadi apapun keperluanmu dengannya, aku tidak peduli. Aku akan tetap membawa Nadira bersamaku.” Farhan lekas melangkah masuk ke dalam ruangan dan mengabaikan sang ketua osis yang diam-diam telah mengumpat dalam batin.


“Sepulang sekolah esok, aku ikut denganmu saja untuk bertemu anak-anak. Aku ingin tahu bagaimana rasanya membagikan ilmu yang aku miliki kepada orang lain,” putus Nadira dengan cepat setelah Wildan menawarkannya agar turut serta mengajar les anak-anak di kediaman lelaki itu. “Dan Hyrana, bolehkah aku tahu apa warna kesukaannya? Atau jika tidak, makanan kesukaannya?”


“Dia menggemari warna biru, dan makanan-makanan manis seperti roti bolu,” jawab Wildan setelah berusaha mengingat-ingat. “Tetapi jika dirimu benar-benar berkenan datang, tidak usah repot-repot dengan membawa macam-macam, sebab kami telah merasa sangat-sangat senang apabila dirimu berkenan untuk hadir dan membersamai kami semua.” Seakan mengerti dengan maksud Nadira, Wildan lantas memperingatkan gadis itu lebih dulu.


“Nadira, ayo kita pulang sekarang. Pekerjaanmu pasti telah selesai,” ajak Farhan tiba-tiba. “Tina telah menunggumu di koridor kelas bersama Adiyasta. Jadi, ayo kita susul mereka berdua.”


“Oh ya, Farhan. Jadi perkenalkan ini rekanku,” ucap Nadira mengenalkan Wildan yang berada di sisinya kepada Farhan. “Dia bendahara umum, dan karena itu kami akan sering-sering terlibat bersama setelah ini.”


Farhan segera menanggapi aksi Nadira tersebut dengan mengulurkan tangannya ke hadapan Wildan. “Farhan. Aku dan Nadira bersahabat,” ucapnya.


Wildan pun langsung membalas uluran tersebut dengan menjabat tangan Farhan. “Aku Wildan. Sangat senang dapat berkenalan denganmu.”


“Oke, ya sudah. Wildan, aku dan Farhan izin pulang lebih dulu,” pamit Nadira seraya memasang tasnya di punggungnya. “Untukmu, tolong hati-hati di perjalanan nanti. Sampai jumpa lagi besok.”


Wildan menganggukkan kepala kemudian melambaikan tangannya ketika Nadira beserta Farhan mulai beranjak meninggalkannya. Sepasang netranya menatap keduanya dengan menyertai sedikit perasaan iri sebab sampai saat ini dirinya belum pernah membangun suatu hubungan pertemanan yang berarti atau persahabatan dengan seseorang.