
"Hari ini aku bawakan kalian berdua kue lapis." Nadira mengambil kotak makan berukuran sedang dari tasnya. Terdapat beberapa potong kue lapis yang membuat kedua sahabat gadis tersebut tergiur, hendak melahap satu-persatu hingga tak bersisa.
"Wahh, pasti rasanya sangat enak," tutur Tina dengan kagum.
"Siapa yang buat, Nadira?" Farhan juga merasa tergoda dengan kue lapis yang dibawa oleh Nadira. "Ibumu, atau dirimu sendiri?" imbuhnya.
"Kalian harus mengucapkan selamat padaku setelah dibuktikan kalau kue ini rasanya enak." Nadira tersenyum seraya menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Sebab kue ini buatanku sendiri," tambahnya menjelaskan.
"Baiklah, mari kita coba dulu." Tina yang memulai. Gadis tersebut langsung mengambil satu potong kue lapis buatan Nadira, disusul oleh Farhan yang juga ikut mengambil satu potong.
"Hmmm." Farhan sangat menikmati kue lapis buatan Nadira, dan terasa sangat lezat di mulutnya. "Enak sekali." Farhan mengacungkan ibu jarinya.
"Betul yang dikatakan Farhan, Nadira. Kue buatanmu sangat-sangat enak, aku sangat menyukainya." Tina menambahkan pujian untuk Nadira.
"Terima kasih kalau begitu. Silakan dihabiskan." Nadira senang karena kedua sahabatnya menyukai kue buatannya.
"Kamu tidak ikut memakannya juga?" Farhan mengernyitkan dahinya.
"Aku sudah memakannya di rumah. Setelah aku rasa ini enak, lalu aku bawakan untuk kalian berdua," jawab Nadira.
"Rasanya begitu damai tanpa sosok Kesya yang begitu menyebalkan." Nadira bergumam, dan langsung mendapatkan perhatian dari Farhan dan Tina.
"Kue ini untuk merayakan itu?" Farhan sangat peka, hingga Nadira takjub saat mendengar tebakannya.
Nadira mengangguk mengiakan. "Tidak salah, kan?" tanyanya.
"Tidak salah, Nadira. Kamu berhak merayakannya." Tina mengelus lembut rambut panjang Nadira.
Memang banyak masa-masa sulit yang telah dilalui oleh Nadira. Hal perundungan yang begitu menuntutnya untuk terus kuat, tak ayal membuatnya sekarang menjadi lelah. Bahagia atas penderitaan rivalnya tidaklah salah. Karena Nadira adalah pihak yang paham betul duka derita yang dihadiahkan Kesya padanya.
"Pasti sulit, ya." Farhan menunjukkan senyumnya kendati hatinya sedikit meringis, kala teringat banyak sekali air mata yang harus Nadira jatuhkan sia-sia karena ulah Kesya. "Kamu adalah perempuan yang kuat, sangat kuat. Kami bangga padamu, Nadira." Farhan mengatakannya. Suatu hal yang patut diingat saat sewaktu-waktu hendak membicarakan tentang sosok Nadira.
"Aku berharap setelah skors dua minggu yang dibebankan pada Kesya, membuat gadis tersebut menjadi paham bahwa apa yang dia lakukan benar-benar merugikan korbannya." Itu harapan Nadira. Dia ingin semuanya usai dengan cara yang baik, hingga tidak perlu adanya balas dendam seperti rencana awalnya. "Dan dia tidak mengulanginya lagi pada siapa pun," imbuhnya.
"Sayangnya harapanmu akan pupus saat ini juga!" Kali ini suara Kesya yang mendominasi, karena gadis itu memekik tak jauh dari posisi duduk Nadira, Farhan, dan Tina. Sialnya Kesya mendengar semuanya, segala ucapan Nadira berhasil didengarnya. "Karena aku tidak akan pernah berhenti, sampai kapan pun." Kesya melangkahkan kakinya kian mendekat pada tiga muda-mudi yang telah terperangah sebab kedatangannya yang tiba-tiba.