
"Arif!" Seorang gadis dengan setelah Jersey tergopoh-gopoh menghampiri meja Arif dan Kesya. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," imbuhnya.
Arif dan Kesya sama-sama menatap heran ke arah gadis bersetelan Jersey itu. Hanya saja, Arif tampak lebih saksama memperhatikan perempuan tersebut, seolah ia mengenalinya. Namun, dia siapa?
"Aku mengenalmu, tapi aku lupa siapa," ucap Arif jujur, dan hal itu mengundang gelak tawa gadis bersetelan Jersey tersebut.
"Aku sudah menduganya, Arif. Padahal kita berada dalam satu organisasi, dan kita pun sering terlibat dalam suatu agenda bersama. Namun, agaknya memang aku tidak sama terkenalnya sepertimu." Gadis itu memberikan pemakluman. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke hadapan Arif. "Jihan," imbuhnya memperkenalkan diri.
Sejenak Arif menganggukkan kepalanya sebelum membalas uluran tangan dari Jihan. "Iya-iya. Aku mengingatmu, Jihan. Dirimu adalah kapten tim basket perempuan yang terkenal dengan kehebatannya. Maafkan aku karena sempat terlupa dengan namamu," jawab lelaki itu seraya menyudahi jabat tangan dengan Jihan.
Mendengar hal tersebut Jihan tersipu malu. Pujian Arif seketika membuat sensasi hangat menjalar pada kedua pipi hingga kedua telinganya. Ia berbunga-bunga meski tak menunjukkannya dengan sukarela. "Boleh aku bergabung? Apakah tidak akan mengganggu kencanmu?"
Mendengar hal itu Kesya terusik. "Bergabunglah jika dirimu mau, Jihan. Ngomong-ngomong perkenalkan juga namaku Kesya. Aku dan Arif, kami bersahabat. Jadi tidak masalah bagimu berada di antara kita," jawab Kesya panjang lebar.
"Oh, ya?" Jihan lantas mengambil duduk di antara Arif dan Kesya. "Kalian terlihat sangat serasi jika hanya sebagai sepasang sahabat. Apakah kalian tidak ingin berpacaran saja?"
Kesya dan Arif serempak membungkam. Keduanya tak mengerti harus menjawab apa dan bersikap bagaimana.
"Sudahlah lupakan," sahut Jihan dengan cepat ketika menyaksikan kecanggungan di sekitarnya. "Apakah kalian sudah memesan sesuatu? Apakah aku bisa memesan makananku sekarang?"
Seketika Kesya mengambil tangan Jihan, dan berancang-ancang untuk menjawab, "seharusnya Arif bersamamu, menjadi pasanganmu, dan kurasa itu yang lebih cocok."
"Boleh aku meminjam telepon rumah? Aku perlu memberi kabar kepada Ibuku bahwa kepulanganku akan jauh lebih telat dari yang direncanakan," ucap Nadira meminta izin kepada Naufal.
Naufal menganggukkan kepalanya, mengizinkan Nadira untuk meminjam sebentar telepon rumahnya. "Maaf karena merepotkanmu, Nadira. Dan terima kasih banyak atas kesediaanmu menuruti permintaan Adikku."
"Tidak apa. Aku senang karena dapat sedikit menghibur Fauzan." Setelah mengucapkan itu Nadira lekas berlalu menuju tempat di mana telepon rumah Naufal berada. Kemudian ia mengetik beberapa digit nomor pada tuts telepon rumah itu, lalu setelahnya mengarahkan gagang telepon tersebut di telinganya.
Nadira mengambil beberapa waktu sampai seseorang di seberang sana menjawab teleponnya. "Halo, dengan siapa?" Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara lembut Yuliana.
"Ibu, ini Nadira," ucap gadis itu dengan cepat. "Nadira sedang menggunakan telepon rumah milik teman Nadira. Saat ini Nadira sedang berada di rumahnya karena adiknya sedang sakit, dan mungkin akan pulang sedikit lebih sore lagi nanti," imbuhnya.
Hening sejenak sampai Yuliana kembali membuka suara setelah membuat Nadira menunggu beberapa waktu. "Pulanglah dengan hati-hati, Sayang. Dan jangan lupa makan," jawab Yuliana.
Nadira menganggukkan kepalanya meski ia tahu Yuliana tidak dapat melihatnya. "Terima kasih, Bu. Nadira akan pulang dengan hati-hati dan juga makan tepat waktu."
"Baik, kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa di rumah, Sayang," ujar Yuliana.
"Sampai jumpa di rumah, Bu."