Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 28



"Ini kenapa?" Sepanjang perjalanan Farhan menuju rumahnya, lelaki tersebut masih terus bergumam seraya memegangi dadanya. Ada sesuatu yang aneh di dalamnya, Farhan menyadarinya, dan bingung ada apa sebenarnya. "Rasanya menyenangkan." Hanya itu yang bisa dia simpulkan. Untuk lebih tepatnya, Farhan masih memikirkannya dengan keras. 


Damai dan nyaman. Seharusnya Farhan juga menyadari adanya rasa seperti itu yang tersemat di dalam lubuk hatinya. Sebuah hal sederhana yang menggambarkan 'Rasa Menyenangkan' seperti yang diucapkannya barusan. Hanya saja kenyataannya Farhan belum mampu menegaskannya, karena masih menunggu kuasa waktu untuk mengizinkannya. 


"Farhan!" Seorang lelaki berkacamata terlihat tergesa-gesa menghampiri Farhan yang cukup jauh untuk dijangkau olehnya. Lelaki tersebut bernama Adiyasta, sahabat karib Farhan. Mereka berdua, Adiyasta dan Farhan, telah menjalin persahabatan sejak kecil. Farhan dan Adiyasta tumbuh bersama, hingga akhirnya saat ini mereka berdua telah berada di fase remaja. "Huh, capek juga lari-lari seperti ini." Adiyasta mengeluh, sembari memegangi lututnya yang sedikit terasa kebas. 


"Duduk dulu." Farhan memapah Adiyasta agar menepi dan duduk di pinggir jalan. "Ada apa?" tanyanya. 


"Bapak kamu, demam." Adiyasta yang masih terengah-engah, tetap berusaha keras berbicara dengan jelas kepada Farhan. "Kamu harus pulang secepatnya. Karena Bapak kamu enggak mau diajak ke rumah sakit, sebelum kamu pulang," imbuhnya.


Farhan tidak panik, dia masih tenang, tapi bukan berarti dia tidak peduli dengan kondisi ayahnya. "Ayo kita segera pulang." Farhan segera menarik lengan Adiyasta. 


"Tunggu sebentar, Farhan. Aku capek." Adiyasta mengeluh. Seharusnya Farhan peka, jika Adiyasta pasti sangat kelelahan setelah berlari-lari menghampirinya. "Bapakku sudah siapkan mobil untuk mengantar Bapak kamu. Tapi ternyata beliau memilih untuk menunggu anak laki-lakinya pulang sekolah. Kenapa pulangmu terlambat?" tambahnya. 


"Ada urusan sebentar." Farhan sebenarnya geram dengan Adiyasta yang meminta waktu istirahat, sedangkan mulutnya berbicara menambahkan kekhawatiran dalam diri Farhan. "Ayo cepat kita pulang, Adi."


"Mau aku gendong?" Farhan menawarkan diri. Terdengar konyol memang, tapi yang dia inginkan saat itu adalah lekas pulang. 


"Tidak perlu. Ayo kita langsung lari saja." Entah dari mana Adiyasta menemukan kekuatan. Dia meminta Farhan agar ikut berlari dengannya. Langsung melupakan keluhannya yang sebelumnya mengemis waktu untuk istirahat. 


......................


"Naufal!" Di tempat parkir, Naufal hendak mengambil motornya untuk bergegas pulang. Namun tiba-tiba saja Arif memanggilnya dari kejauhan. "Tunggu sebentar," imbuhnya seraya berlari menghampiri Sang Ketua Osis. 


Arifa tampak kacau, dengan kemeja putih yang telah melepaskan diri dari belitan celana dan ikat pinggang. Ada apa dengannya? Rambutnya juga sangat acak-acakan, dan ada yang aneh di wajahnya, sebuah jejak basah, seperti bekas aliran air mata. Dan jangan abaikan punggung tangannya yang memerah dan sedikit ada bercak darah. Ada apa sebenarnya? 


"Maafkan aku." Arif mengatakannya tanpa keraguan, dan tanpa rasa malu di dalamnya. Lelaki itu sangat tulus mengucapkan permintaan maaf kepada Naufal. "Seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku waktu itu." Terdengar menyesal, sebab dia sadar bahwa semua hal buruk bisa saja berimbas walau belum diketahui dengan jelas. 


Tapi tampaknya bukan hanya itu tujuannya. Ada hal lain yang Arif inginkan. Sesuatu perkara yang sepertinya berhasil membuatnya sangat kacau saat itu. Penampilannya sangat-sangat buruk untuk ukuran seorang Wakil Ketua Osis. Perlu diketahui jika cara berpenampilan dan cara berpakaian Arif tidaklah jauh berbeda dengan Naufal. Arif sangat rapi untuk seorang Kapten Tim Basket, dan itu bukanlah suatu ciri khas yang unik.