
Naufal membongkar isi tasnya untuk mencari notebook berisi catatan organisasinya. Namun, ia tertegun ketika mendapati pena berwarna putih yang diyakininya bukanlah miliknya. Ia berusaha mengingat-ingat kembali siapa pemilik pena yang berada pada pegangannya itu.
"Apa ini milik Nadira?" Naufal ingat. Ia sempat meminjam pena gadis itu untuk menandai poin-poin penting pada lembaran print out karena pena miliknya hilang ketika di kelas. "Bukankah dia sedang belajar kelompok sekarang? Bagaimana jika ia membutuhkan pena ini? Aku harus mengembalikannya sekarang, atau dia akan berada dalam kesulitan. Lagi pula Fauzan pun ingin bertemu dengannya, maka ini akan menjadi waktu yang tepat." Naufal lekas beranjak dari tempatnya menuju lemarinya untuk mengambil pakaian ganti dan bersiap. Namun, pergerakannya tiba-tiba saja terhenti. "Tetapi bagaimana jika ia memiliki lebih dari satu pena, hingga kehilangan salah satunya tak membuatnya bermasalah?" Naufal tampak menimbang-nimbang. Sebetulnya, nalurinya menggiring dirinya agar mengembalikan pena itu kepada empunya sekaligus bertandang ke kediaman sekretarisnya tersebut. Akan tetapi, di sisi lain ia pun tak ingin dianggap curi-curi kesempatan untuk bertemu dengan Nadira hanya karena perihal ketertinggalan pena yang sama sekali bukanlah sesuatu yang fatal.
Cukup lama Naufal menghabiskan waktu untuk berpikir sebelum kemudian mengambil keputusan yang mutlak. Ia sendiri tak mengerti mengapa saat itu dirinya sangat ingin menemui Nadira, entah karena untuk memenuhi keinginan adiknya, atau justru murni karena inginnya sendiri. Pena berwarna putih di tangannya terus digerakkan tanpa arah beraturan. Sang ketua osis tersebut terlihat sangat berusaha untuk mendapatkan jawaban dari kebimbangannya.
***
Suatu keadaan masih menahan Arif untuk lekas bertolak ke rumahnya. Ia masih kerasan berdiri di teras rumah Kesya, dan berada di sisi gadis itu untuk berbincang berdua saja. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan baginya, sebab Kesya telah berhasil didekapnya meski urung secara sempurna.
Arif tersenyum mendengar kalimat itu dari gadisnya. Ia tak perlu mengerahkan banyak usaha untuk dapat mempercayai secara penuh setiap perkataan kekasih barunya itu. Karena, sedari awal Arif hanya memiliki kepercayaan yang amat besar terhadap takdir, Kesya, serta alur hidupnya yang pada akhirnya akan mentakdirkan Kesya menjadi miliknya.
"Dirimu tidak perlu susah payah membahagiakan aku, Kesya. Cukup dirimu berada di sekitarku, menyertaiku, dan jangan pernah mencurangi aku, maka itu semua sudah sangat membahagiakan bagiku." Arif sungguh-sungguh. Baginya, memiliki Kesya telah menjadi anugerah yang amat ia syukuri. Ia tidak tamak untuk mendapatkan hal-hal lainnya dari Kesya. "Dan lupakan Naufal sepenuhnya. Aku menunggu keberhasilanmu melakukan itu, Kesya."
Kesya mengangguk sanggup dengan permintaan Arif yang terakhir. Perihal tersebut, kini menjadi tantangannya yang pembuktiannya amat dituntut. Arif tidak dapat mentoleransi segala bentuk pengkhianatan dan kebohongan. Maka dari itu Kesya harus berhasil mengosongkan Naufal dari hatinya, agar tak ada satu pun kesempatan untuknya mengubah haluan.
"Aku akan melakukannya." Kesya berjinjit untuk menangkup wajah Arif dengan kedua tangannya, kemudian mendaratkan kecupan singkat pada dahi lelakinya tersebut. "Aku mohon untuk lebih bersabar bertahan denganku. Aku sendiri tidak tahu akan selama apa proses yang harus aku lalui untuk itu. Namun, yang jelas aku membutuhkanmu yang percaya kepadaku bahwa semua ini tidak akan sulit untuk ditaklukkan."