Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 107



"Jika dirimu telah bahagia, apakah tidak sebaiknya dirimu berhenti merasa dendam dengan Nadira dan Naufal?"


Senyum yang semula tersungging manis di bibirnya, seketika hirap. Kesya menatap tak suka ke arah Arif setelah apa yang baru saja lelaki itu katakan. "Apa maksudmu berkata seperti itu, Arif? Apakah dirimu merasa terganggu?"


Arif menggelengkan kepalanya. Ia mengerti bahwa Kesya tidak akan mudah mengerti dengan tujuan dari penyampaiannya barusan. "Tidak ada untungnya dirimu berlaku demikian, Kesya. Kita tahu betul bahwa niat buruk akan memberikan imbas yang buruk juga. Aku takut kalau sampai terjadi hal yang tidak-tidak kepadamu. Jadi, tolong pertimbangkan kembali perkataanku."


Kesya segera meraih tangan Arif untuk digenggamnya. "Aku tidak peduli dengan imbas buruk atau apa pun itu. Aku hanya ingin dua orang itu merasakan derita yang lebih menyakitkan dari yang aku rasakan." Kesya kembali menerbitkan senyumnya. Hanya saja kali ini tampak begitu menyeramkan. "Dan jika dirimu memang menyayangiku, mengapa dirimu tidak membantuku saja? Membuat dua orang lemah itu menderita bukanlah hal yang sulit, kan?"


***


Farhan telah menyampaikan maksud dari kedatangannya kepada Tina, dan kini keduanya telah berada di perjalanan menuju kediaman Nadira. Di dalam mobil itu Tina masih terlihat murung. Gadis itu tak banyak bercakap sehingga ia hanya menatap sendu ke arah jalanan sebagai pelariannya.


Rintik-rintik hujan mengguyur kota, gemuruhnya menggelegar dengan sesekali menyuguhkan kilat menyeramkan. Sesaat dengan itu pun tangis Tina kembali mengguyur wajahnya yang ayu. Namun, gadis itu tidak menunjukkannya kepada siapa pun. Ia berusaha sebaik mungkin meredam suaranya agar Farhan yang duduk di sisinya tidak tahu.


"Cukup, Pak. Biar saya dan teman saya yang turun." Dengan cepat Tina mengambil dua payung yang sengaja disiapkan di belakang jok tempat duduk. Ia memberikannya satu kepada Farhan agar lelaki itu gunakan. "Kita turun dulu, Pak. Terima kasih karena telah mengantar kami, dan tolong nanti jemput lagi setelah saya kirim pesan sms."


Lantas Tina dan Farhan turun dari mobil itu bersama-sama. Keduanya lekas menuju teras rumah Nadira setelah melewati gerbang yang tidak tergembok.


"Permisi, Nadira." Suara parau Tina beradu dengan suara banter air hujan yang turun. Mata petir yang unjuk diri pun turut meredam meniadakan pekik gadis itu. "Nadira! Tante! Permisi!" ulangnya lagi dengan suara yang lebih keras.


Tidak lama setelah upaya itu akhirnya yang ditunggu-tunggu menunjukkan batang hidungnya. Nadira membuka pintu rumahnya dan segera menyambut kedatangan kedua sahabatnya. "Kalian? Hujan-hujan deras seperti ini kalian memiliki kepentingan apa sampai datang ke sini?" tanyanya setelah mempersilakan Farhan dan Tina masuk ke dalam rumahnya.


"Kami berniat untuk kembali mengajakmu untuk belajar bersama. Tugas sekolah kita masih sangat banyak yang harus diselesaikan. Jadi, daripada menyelesaikannya sendiri, aku rasa lebih efisien apabila kita menyelesaikannya bersama-sama." Farhan membuka suara. Ia merasa dirinya yang memiliki ide tersebut. Ia rela mendatangi rumah Tina untuk mengajak gadis itu ke kediaman Nadira.


"Apakah kedatangan kami justru mengganggumu, Nadira? Apakah dirimu sedang sibuk saat ini? Jika iya, kami akan segera pergi dari sini," imbuh Tina ketika mendapati Nadira yang tak segera menjawab perkataan Farhan.