Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 112



Di ruang makan itu Nadira, Yuliana, serta Agung tengah sibuk dengan piring mereka masing-masing. Hampir semua yang berada di sana berusaha menghabiskan sarapan mereka dengan cepat, kecuali Nadira.


Hingga akhirnya Agung bangkit dan membereskan piring kosongnya terlebih dahulu sebelum. "Ayah harus berangkat sekarang. Kalian nanti hati-hati di jalan." Berpamitan dan menyempatkan untuk mengecup kening Yuliana, kemudian melakukan hal yang serupa kepada Nadira. "Belajar yang rajin ya, Sayang. Jangan lupa sampaikan pesan Ayah kepada Naufal untuk membawa motornya pelan-pelan."


Nadira hanya menganggukkan singkat kemudian menunjukkan senyum tipis kepada ayahnya itu. Ia tidak yakin jika Naufal akan datang dan kembali menjemputnya ke sekolah pagi ini. Mengingat adanya hal buruk yang kembali terjadi kemarin, rasanya Nadira tidak ingin masuk sekolah saja.


Tak lama setelah Agung berangkat ke kantornya, kini giliran Yuliana yang bersiap untuk pergi ke sekolah tempatnya mengajar. "Ingat untuk mengunci pintu utama dan gerbang. Pastikan juga semua lampu telah padam, serta tidak ada peralatan listrik yang menyala." Setelah menyampaikan itu Yuliana bergerak menghampiri putrinya untuk mengecup kedua pipi serta keningnya secara bergantian. "Hati-hati ketika di perjalanan, ya?" imbuhnya.


"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati di perjalanan," jawab gadis itu.


Ketika mengantar ibunya ke teras, Nadira teringat ketika Naufal menjemputnya di luar gerbang sana. Sang ketua osis dengan motornya terlihat serasi dan gagah sekali. Nadira pun sempat berpikir jika dirinya begitu beruntung memiliki kesempatan itu di saat Kesya yang kecantikannya tak terkalahkan tersebut justru hadirnya sama sekali tidak disambut oleh lelaki itu.


Namun, saat ini keadaannya semakin kacau dan tidak terkendali. Keputusan awal Nadira untuk menjadikan Naufal sebagai alat balas dendam terhadap Kesya malah berakhir menyakiti dirinya sendiri. Gadis itu tersiksa dengan masalah yang ada pada hubungan sederhananya dengan sang ketua osis. Keadaan pun memaksanya untuk memilih kedua sahabatnya yang selama ini banyak berjasa atas hidupnya.


Bagi Nadira, Naufal memang orang baru, orang yang awalnya sama sekali tidak diniatkan untuk didekati. Akan tetapi, rasa nyaman yang hadir melenakan dirinya tak dapat dipungkiri. Nadira merasakan ada candu untuk membersamai lelaki itu terus menerus.


"Jangan nakal, ya? Belajar yang benar, dan kerjakan semua tugas dengan benar. Kakak tidak ingin mendengar kabar buruk tentangmu dari Ibu Anna," pesan Naufal kepada adiknya. Saat ini, ia tengah mengantar Fauzan ke sekolahnya yakni Taman Kanak-kanak milik yayasan yang sama dengan Tempat Penitipan Anak di mana biasanya hampir seharian anak lelaki itu berada di sana.


Fauzan mengangguk patuh dengan titah kakaknya. "Tetapi, Kakak harus berjanji untuk dapat membawa Kak Na kembali bersama kita. Tolong sampaikan kembali maafku kepadanya, ya?" pinta anak itu bergantian.


"Kakak akan usahakan." Naufal menerbitkan senyum palsu. Sejujurnya ia tidak yakin dapat mewujudkan keinginan adiknya yang menyangkut membaiknya hubungan antara dirinya dan Nadira selepas kejadian kemarin. Naufal sendiri masih tak bernyali untuk sekadar bertatap langsung dengan sekretarisnya tersebut. Ia seperti itu sebab perasaan bersalahnya yang belum tersampaikan permintaan maafnya dengan benar.


Fauzan sontak menggelengkan kepalanya. "Kakak harus wujudkan. Kakak harus berusaha keras, sungguh-sungguh, dan jangan berhenti sebelum tujuan itu tercapai. Kakak harus bisa perbaiki kesalahan yang Kakak buat." Anak itu menatap kakaknya dengan serius, seolah apa yang ia katakan harus terlaksana dan tak terbantahkan.


Meski andaikan nanti hubungan antara dirinya dan Nadira akan berhasil membaik, Naufal pun sebenarnya ragu jika hubungan tersebut akan berjalan sama dekat dan hangatnya seperti dulu. Ia menyadari adanya kemungkinan untuk Nadira berubah sikap, dan lebih menjaga jarak. Mengingat Nadira amat memprioritaskan sahabatnya, Naufal yakin tidak hanya perbedaan perlakuan Nadira terhadap dirinya yang kelak menjadi masalah, melainkan juga murka dari Farhan dan Tina karena tidak terima dengan segala lecehannya kemarin.


"Kakak berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik." Naufal langsung melesat pergi dengan sepeda motornya.