Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 125



Secangkir kopi hitam teronggok di hadapan Naufal. Asapnya mengepul menguarkan aroma khas yang umumnya akan sangat menggugah selera penggemarnya.


Berteman dengan hening serta bercurah pada kekosongan yang sebenarnya, membuat sang ketua osis tersadar jika kini batinnya unjuk gigi bergelut dengan isi pikirannya yang amat berisi dan tak pernah sejalan.


Perkataan Fauzan masih terus membayang, mengusiknya hingga tak larat menjemput tenang. Pandangannya yang lurus dan tampak kosong itu menjadikan Naufal terkesan begitu payah menghadapi masalah kecil yang sempat diremehkannya. Ia sempat berkoar jika Nadira sama sekali tidak ada pentingnya di dalam hidupnya, sedangkan yang jelas-jelas terlihat adalah bagaimana dirinya tersiksa tanpa gadis itu di dekatnya.


"Aku berani bertaruh jika Kakak tidak akan bisa bertahan cukup lama dengan keadaan sekarang! Kak Na, dia sangat sangat baik kepada kita, kepadaku, dan juga kepadamu, Kak! Namun, bagaimana dengan sebaliknya? Kakak sama sekali tidak bisa bersikap kepada teman-temannya!"


Kalimat itu yang terakhir kali Naufal dengar dari adiknya sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk berlenggang ke dapur demi menenangkan diri. Di tempat itu, Naufal terkenang oleh beberapa hari yang dilaluinya dengan sang sekretaris, hingga secara tidak sadar menimbulkan titik-titik perasaan aneh yang tak cukup jelas untuk diungkapkan. Naufal merasa takut. Ia tidak ingin dan tak akan mudah menerima apabila Nadira memberi jarak pada kedekatan mereka. Naufal ingin Nadira senantiasa menyertainya, dan mungkin kelak menjadi miliknya.


"Kak." Fauzan menghampiri keberadaan kakaknya setelah terbebas dari kamarnya yang mampu ia buka sendiri kuncinya dengan kunci cadangan. "Meminta maaf tidak akan membuat Kakak terlihat lebih buruk dari teman-teman Kak Na. Kakak harus melakukannya demi memperbaiki hubungan kalian."


Sesaat Naufal menatap adiknya lekat-lekat. Di hari itu, ia telah beberapa kali mendapati kalimat-kalimat bijak Fauzan, yang seharusnya mampu membuatnya kagum dan bangga. Namun, alih-alih memberikan pujian atas perkembangan adiknya tersebut, Naufal justru menghukumnya serta menentangnya secara terang-terangan.


Tanpa ragu Fauzan menganggukkan kepalanya. "Meminta maaf bukanlah perbuatan yang salah, justru itu yang akan memperbaiki suatu kesalahan. Kakak lebih tua dan lebih besar dari Fauzan. Apakah hal sesederhana itu Kakak tidak mengetahuinya?"


***


Setelah membersihkan tubuhnya, Nadira termenung di hadapan cermin yang memantulkan sosok dirinya sendiri dalam keadaan yang tidak lebih baik daripada dirinya di hari-hari kemarin. Dalam diamnya, gadis itu berusaha memahami perasaannya yang amat mengganggu sejak perpisahannya dengan Naufal di halte siang tadi. Dia merasa kehilangan. Merasa bersalah, dan tidak tenang.


Sejenak pandangan Nadira yang sayu terpaku pada pena putih miliknya. Ia ingat bahwa beberapa hari yang lalu, Naufal mendatanginya hanya sekadar untuk mengembalikan benda sepele itu. Namun, entah mengapa ia sempat menganggap lebih perhatian lelaki itu meski pada akhirnya ia pun berusaha menampiknya.


"Nadira, apa yang sedang dirimu lakukan di dalam?" Panggilan Yuliana itu sontak membuat Nadira terkesiap. "Jika sempat, tolong temui Naufal di ruang tamu. Lelaki itu ingin bertemu untuk menyampaikan sesuatu. Ibu harap, kamu tidak terlalu sibuk untuk sekadar menjamu dan menemuinya sebentar," imbuhnya.


"Iya, Bu. Tolong katakan kepadanya untuk menungguku sebentar." Nadira membutuhkan waktu untuk melakukan sesuatu. Masih di tempatnya, gadis itu tampak sibuk menata apa pun yang melekat di tubuhnya. Kemudian, ia menyita beberapa waktu untuk menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya sebagai upaya membenahi perasaan sebelum bertemu dengan lelaki yang telah sangat lancang mengusik pikirannya.