Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 134



"Ayolah, Naufal. Ini bukan permasalahan yang perlu dibesar-besarkan. Lagi pula, masih ada dirimu, Wildan, dan juga Nadira yang bisa memegang kegiatan ini." Arif ingin menghentikan perdebatan tersebut dengan segera, sebab ia takut jika Kesya menjadi mangsa amukan sang ketua osis itu nantinya. "Bisa aku pergi untuk menjalankan tugasku?"


Naufal sama sekali tidak menggubris pertanyaan Arif. Pandangannya kini menjurus tajam ke arah Kesya yang bergeming dibalik tubuh kekasihnya. "Kalian berdua itu hampir tidak berguna sama sekali. Lebih dari lima puluh persen persiapan event ini telah diatasi olehku bersama Nadira, dan kalian?" Naufal melangkah semakin mendekat ke arah Arif dan Kesya. "Kalian hanya beban yang mendapatkan pemakluman cukup banyak dari kami semua. Jadi, apakah kalian masih cukup berani memasang muka di jajaran organisasi setelah pernyataan ini?"


"Apa maksudmu?" tanya Arif yang mulai menegang tatkala mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Naufal.


"Akan aku adukan permasalahan ini kepada Bu Iis," jawab Naufal.


"Apa yang akan dirimu lakukan, Naufal?" tanya Kesya yang tak lagi memiliki ketenangan setelah mendengar jawaban Naufal barusan.


"Membuat kalian didepak dari organisasi dengan secepatnya."


***


"Silakan selanjutnya!" perintah Nadira setelah usai menyeleksi kandidat yang sebelumnya.


"Poin apa yang akan kamu jelaskan kepada pembeli, jika mereka menyatakan produk yang sedang ditawarkan memiliki harga yang relatif tinggi?" tanya Nadira tertuju kepada Tina yang menjadi kandidat selanjutnya. Ia berharap besar kepada sahabatnya itu agar mampu menjawab dengan lugas.


"Tentu kualitasnya." Tina berusaha sekuat tenaga untuk menahan perasaan grogi yang telah menyerangnya bahkan sesaat sebelum masuk dalam ruangan itu. "Saya akan membuat perbandingan antara produk yang sedang saya tawarkan dengan produk serupa yang telah beredar banyak dipasaran. Selain itu, menjelaskan mengenai merek yang menaungi produk tersebut juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pembeli."


***


"Jangan gila kamu, Naufal! Sangat tidak etis jika dirimu berusaha mengeluarkan kami hanya karena masalah kecil-"


"Itu masalah besar, Arif!" potong Naufal dengan cepat. Saat ini ia sedang kalut. Masalah demi masalah menghampirinya, tetapi enggan untuk diselesaikan. Andai saja sang ketua osis itu tahu bahwasanya yang menjadikan hari-harinya kacau adalah keegoisan serta keotoriteran sendiri. Dia sukar untuk mendengar atau bahkan sekadar meminta penjelasan yang sebenarnya.


"Aku tahu keterlambatan ini adalah hal yang salah." Kesya membuka suara. Ia ingin segalanya lekas terselesaikan pada detik itu juga. "Ralat. Adalah hal yang sangat-sangat salah. Namun, apakah di kamusmu tidak ada pemakluman untuk kami yang sungguh-sungguh memiliki kepentingan meski itu tidak dapat dijelaskan secara gamblang?" 


"Mengapa dirimu tidak dapat menjelaskannya? Apakah itu karena dirimu mengada-ada? Kalian sengaja mengulur-ulur terlalu banyak waktu, karena kalian malas mengurusi kegiatan yang jelas-jelas telah menjadi tanggung jawab kalian?" cecar Naufal tanpa jeda. Lelaki itu benar-benar kehilangan wibawa serta kebijaksanaannya setelah semua yang dikatakannya.