
"Kesya!" Arif memekik, menghentikan langkah Kesya yang lajunya tak seberapa itu sebab ia terlihat lunglai dan payah menahan bobot tubuhnya.
Mendengar panggilan itu sontak Kesya berbalik badan. Sekuat tenaga berjalan menghampiri sang sahabat yang sampai saat ini belum memaafkan kesalahannya. Namun, Kesya lelah untuk mengulang permintaan maafnya, ia tak cukup kuat untuk banyak bicara sekarang, sebab dayanya telah habis kala ia gunakan untuk berdebat di ruang osis.
"Aku minta maaf," ucap gadis itu singkat.
Arif pun tak mengulur waktu untuk lekas menganggukkan kepalanya. Ia dapat dengan mudah memaafkan Kesya, karena ia sangat mencintainya. Akan tetapi, bukan hal itu yang ingin ia bahas sekarang. "Aku akan mengantarmu pulang dengan selamat, Kesya. Keadaanmu terlihat tidak baik-baik saja." Dengan cepat Arif mengambil tubuh Kesya untuk memapahnya menuju tempat parkir motornya.
Kesya lega, maafnya telah diterima setelah berulang kali mengatakannya. Kini, tubuhnya berada sangat dekat dengan Arif, hingga sesekali dirinya mencuri pandang terhadap lelaki itu saking bahagianya. "Sewaktu istirahat dirimu pergi ke mana?" tanya gadis itu memecah hening.
Arif hanya memandang Kesya dengan singkat, kemudian menjawab, "Aku harus berlatih untuk turnamen minggu depan."
"Pantas saja dirimu tidak tahu jika aku pingsan di ambang pintu. Padahal, aku berharap dirimu yang menolongku meski pada saat itu Naufal yang datang membopongku," ucap Kesya dengan senyumnya yang tersungging di bibirnya.
Kesya telah duduk di atas jok motor Arif dengan helm yang terpasang melindungi kepalanya. Semua itu Arif yang lakukan, lelaki itu membantunya dengan baik sekali. "Dia membantuku hanya atas dasar kemanusiaan, dia pun uring-uringan setelah aku tahu dia menolongku." Kesya meraih tangan Arif untuk digenggamnya serta dielusnya dengan lembut. "Aku tahu aku akan lebih senang jika dia yang menolongku, bahkan aku tidak marah sekalipun dia berkata hal buruk tentangku. Namun, kenyataannya jika saat sakit seperti ini yang aku butuhkan adalah kepedulian penuh darimu. Buktinya saja meski aku telah merasa sangat senang sebab ditolong oleh Naufal, keadaanku tak lekas membaik. Berbeda sekali saat bersamamu seperti ini." Kesya mengatakan hal yang sebenar-benarnya. Wajah pucatnya kini perlahan merona merah entah karena malu kepada lelaki dihadapannya atau sungguh karena keadaannya berangsur membaik. "Maafkan aku karena selalu menempatkan dirimu dengan istimewa di saat aku sedang susah. Aku berjanji, aku akan berusaha untuk membuka hati untukmu, Arif. Namun, ini mungkin akan sedikit lama, aku mohon bersabar, ya?"
Arif merasa seperti berada di dalam mimpi. Mendengar kesediaan Kesya untuk mencoba mencintainya sudah sangat membuatnya berbunga-bunga dan serasa terbang ke angkasa. Arif tidak menyangka jika pada akhirnya Kesya akan berkenan menerimanya lebih dari seorang sahabat kendati tak serta-merta terjadi sekarang.
"Apa dirimu siap mengubur cintamu terhadap Naufal dalam-dalam?" tanya Arif.
"Mungkin belum sepenuhnya, tetapi jujur saja aku telah mulai muak mengejarnya tanpa kemajuan," terang Kesya tanpa dusta. "Dia semakin menyebalkan dan perlahan terlihat bodoh saat bersama Nadira. Mungkin juga sekarang aku perlahan membenci keduanya dan akan membuat perhitungan kepada mereka."
Nyatanya Kesya tetaplah sama. Dia beserta kejahatannya mungkin akan berpisah, tetapi sangat sebentar. Ia tak lega jika tak membuat ulah. Jadi, lihat saja apa yang akan gadis itu lakukan setelah tubuhnya benar-benar sehat.