
"Keadaanmu sudah jauh lebih baik dari kemarin, aku jadi ingin tahu bagaimana perasaanmu sekarang?"
Sembari menunggu waktu masuk kelas, Tina memilih untuk berbincang-bincang dengan Farhan yang pada hari ini tampak lebih ceria dari hari kemarin. Ia pun sebenarnya menunggu kedatangan Nadira, sebab malam kemarin gadis itu mengabarkan kepadanya agar tak menjemputnya pada hari ini.
"Aku merasa lebih ikhlas sekarang. Aku pun yakin bahwa akan mampu mewujudkan impianku sebab pada saat ini kondisi Ibuku pun sudah jauh membaik. Kami menghabiskan sarapan pagi bersama-sama, dan mengobrol untuk saling menguatkan satu sama lain." Walaupun luka kehilangan tak berhasil sembuh sepenuhnya, setidaknya. "Kami harus tumbuh dan terus hidup dengan baik, demi satu sama lain."
Tina tidak bisa untuk tidak terenyuh dengan jawaban Farhan barusan. Ia melihat sahabatnya itu hadir di hadapannya dengan ketegaran yang tiada tandingannya. Apakah ia harus belajar hal itu dari Farhan? Apakah Tina harus meniru kelapangan dada lelaki itu atas garis takdir kehidupannya? Jika iya, maka harus sekeras apa usaha Tina untuk menerjang getir yang diciptakan keluarganya sendiri?
"Tina, aku tahu kita tidak bisa memilih alur kehidupan kita harus seperti apa. Namun, setidaknya kita memiliki daya untuk berupaya menata kehidupan yang dilalui saat ini, esok, lusa, bahkan sampai kehidupan para keturunan kita nanti. Kita tidak bisa memaksa apa yang tidak ditakdirkan untuk kita, meski itu hak kita sekalipun."
Sontak Tina tertampar dengan penuturan Farhan. Ia yang selama ini begitu menuntut dan memaksa kepada Tuhan serta kedua orang tuanya untuk dipenuhi hak-haknya sebagai seorang anak. Berulang kali ia protes atas perjalanan hidupnya yang tak semestinya, yang tak sama dengan anak-anak lainnya.
"Banyak anak-anak yang hidup lebih susah dari kita. Banyak anak yang dibuang oleh kedua orang tuanya tanpa ada niatan untuk dicari kabarnya. Banyak anak-anak yang mengubur mimpinya demi bekerja keras untuk sekadar menyambung nyawa. Jelas dengan mengingat itu aku malu, Tina." Tatapan Farhan dan Tina bertemu, mereka seolah saling berbagi sendu, sebab merasa jika satu sama lain akan saling mengerti dan tahu. "Aku malu jika suaraku mengeluh lebih keras dari mereka yang hidupnya jauh lebih menderita daripada aku."
"Kamu berangkat bersama Naufal?" tanya Tina kepada Nadira. "Karena berangkat sama dia, kamu mengabariku malam-malam agar tak menjemputmu pagi ini?"
"Kami akan sering bersama untuk akhir-akhir ini karena ada beberapa hal perlu dibahas bersama. Jadi, apakah dirimu tidak keberatan, Tina?" tanya Naufal.
Tina tak langsung bersuara untuk menjawab ucapan Naufal. Ia hanya merasakan sesuatu yang tidak enak dengan kedekatan sahabatnya tersebut dengan sang ketua osis, kendati hal itu merupakan buah dari saran serta usulannya sendiri.
"Ya, kami memperbolehkannya," jawab Farhan menyela. "Asalkan dirimu tidak terlalu lama menyita sahabat kami untuk bersamamu saja. Kami juga memerlukan kehadirannya di sini. Bersama kami," imbuhnya.
Naufal melemparkan senyumnya kepada Farhan. Entah mengapa dengan mendengar kepedulian lelaki itu dan juga Tina kepada Nadira, ia merasa yakin bahwa sekretarisnya tersebut adalah gadis yang sangat baik. Naufal pun jadi ingin memiliki posisi spesial di dalam hidup Nadira, agar memiliki kesempatan serta izin untuk mengkhawatirkannya dan memintanya untuk berada di sisinya seperti yang baru saja ia dengar dari dua orang di hadapannya itu.