Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 110



"Ayo kita pulang, Fauzan." Naufal tidak tega melihat adiknya yang merengek tanpa dipedulikan sama sekali. Ia segera meraih tubuh Fauzan dan dibawanya ke dalam gendongan.


"Di luar masih hujan deras, Kak. Tidak mungkin kita naik motor sambil hujan-hujanan, atau nanti kita akan sakit," jawab bocah itu sembari memberontak dari gendongan Naufal agar dapat kembali menghampiri Nadira yang masih bungkam.


"Benar apa yang adikmu katakan, Naufal. Dia akan jatuh sakit apabila dirimu membawanya hujan-hujanan. Cobalah untuk memikirkan segalanya dengan baik-baik." Mesti kesal dengan sang ketua osis sebab perkataan lelaki itu yang secara jelas menyinggungnya, tetap saja ia tidak tega dengan Fauzan. Ia tidak ingin anak itu jatuh sakit hanya karena ego kakaknya yang tak terkendali sama sekali.


"Asal dirimu tahu jika aku tidak sebodoh itu. Aku membawa mantel di tasku yang dapat aku gunakan bersama Adikku," jawab Naufal ketus. "Ayo kita pulang sekarang, atau Kakak yang pergi sendiri," imbuhnya memberi ancaman yang tertuju kepada Fauzan.


Mendengar hal itu mau tidak mau Fauzan terpaksa menurut. Ia menerima gendongan kakaknya dengan berat hati sebab dirinya akan meninggalkan Nadira yang masih enggan menjawab perkataannya. Bocah tersebut khawatir apabila sore itu menjadi hari terakhir kebersamaannya dengan Kak Na kesayangannya.


"Tolong maafkan aku atas keributan yang terjadi lagi hari ini. Aku pamit." Setelah mengucapkan itu Naufal pergi bersama Fauzan yang terlihat tidak rela dengan perpisahan yang amat tidak baik-baik saja itu. Ia yang begitu menjunjung harga dirinya pun tampak tidak sudi meminta maaf kepada orang yang telah dimakinya.


***


"Sebentar. Aku akan mengantarmu," jawabnya sembari menyeruput habis minumannya tersebut.


"Terima kasih, tetapi aku rasa tidak usah." Kesya lekas mengemasi buku-bukunya serta laptopnya ke dalam tas. Ia akan pulang bersama taksi yang kemungkinan akan ia temukan di jalan. "Aku akan pulang sendiri." Setelah membereskan semuanya, Kesya segera bangkit dari duduknya dan berlalu. Namun.


"Kenapa?" Dengan sigap Arif mencekal lengan gadisnya. Mana mungkin ia membiarkan kekasihnya tersebut pulang sendirian di saat hari hampir gelap. "Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri dengan keadaan seperti ini. Tidak ada yang bisa menjamin dirimu akan baik-baik saja."


"Aku tidak peduli dengan apa yang dirimu katakan, Arif. Aku ingin pulang sendiri, dan aku akan lakukan itu meski dirimu melarangku." Kesya lekas menarik tangannya dengan kasar. Namun, cekalan Arif yang begitu kuat tak membuatnya berhasil melepaskan diri dari lelaki itu.


"Tolong maafkan segala perkataanku yang telah menyakitimu. Aku tidak akan mengulanginya lagi, tidak akan mengungkitnya lagi, dan tidak akan ikut campur dalam segala hal yang berkenaan dengan perasaan dendam dirimu terhadap Naufal dan Nadira." Arif tidak ingin Kesya berpaling darinya hanya karena permasalahan tersebut. Ia tidak ingin kapal asmaranya yang baru saja berlayar harus menepi begitu saja. "Tetapi tolong, jangan mencoba menghindariku seperti ini."


Kesya sama sekali tidak bermaksud untuk menghindar. Ia hanya ingin menyendiri beberapa waktu untuk meredakan perasaan kesalnya terhadap Arif. "Berjanji kepadaku, ini akan menjadi kesalahanmu yang terakhir. Aku mohon jangan pernah lukai aku lagi." Karena Kesya tak segan untuk benar-benar pergi nanti.