
Naufal dan Nadira kini berjalan beriringan menuju tempat parkir untuk mengambil motor sang ketua osis. Keduanya sepakat untuk menemani Fauzan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, dan sekarang mereka hendak menjemput Fauzan dari tempat penitipan anak.
"Aku membaca berkas yang sampai di mejaku, aku melihat kedua temanmu mendaftar untuk menjadi kandidat tim promosi. Apakah mereka sungguh-sungguh?" Saat membaca daftar nama yang terdata, Naufal menemukan nama Tina dan Farhan di sana. Sontak hal itu membuatnya teringat akan kejadian semalam, dan jujur saja ia malas untuk mengikutsertakan keduanya ke dalam seleksi nanti. "Aku takut mereka hanya bermain-main, dan memperpanjang proses seleksi saja. Entah mereka dapat memenuhi kualifikasi yang disyaratkan atau tidak."
Mendengar hal itu Nadira menjadi kesal. Ia tidak terima apabila teman-temannya diremehkan seperti itu. "Aku yang merekomendasikan keduanya untuk ikut menjadi kandidat, dan itu aku lakukan bukan semata-mata karena mereka teman dekatku saja, melainkan karena aku meyakini adanya potensi dalam diri mereka kedua. Apabila memang di pandanganku mereka tidak mampu, aku pasti sudah lakukan tindakan nepotisme untuk mengikutsertakannya dalam tim promosi, dan tidak perlu membuatmu kerepotan menyeleksi mereka."
Naufal seketika peka apabila perkataannya berhasil melukai sekretarisnya. Ia melihat bagaimana wajah kesal gadis itu mengusir secara kasar seri-seri yang semula menghiasi irasnya. "Aku tidak bermaksud merendahkan kedua temanmu, Ra. Aku hanya merasa kurang yakin karena mereka adalah teman dekatmu. Aku berpikir apakah mereka hanya sekadar ingin membersamaimu saja di sepanjang acara atau bagaimana."
Nadira semakin dibuat panas dengan jawaban Naufal yang demikian. "Maksudmu membersamaiku saja itu apa? Ayolah, Naufal, mereka berdua bukanlah anak kecil. Mereka sudah memiliki beban sosial yang mereka tanggung masing-masing, dan jika dirimu menganggap mereka hanya akan bermain-main saja di sana nanti, pasti mereka akan terlukai apabila mendengar hal ini."
"Jika ini karena Farhan, aku mohon maaf atas namanya. Dia berhak atas kesempatan untuk mencoba mengikuti seleksi seperti siswa dan siswi yang lainnya. Untuk itu cobalah lebih bijak, jangan dirimu bawa permasalahan pribadi ke dalam organisasi," ucap Nadira lagi.
"Maafkan aku, Nadira. Aku keliru dalam hal ini. Tidak seharusnya aku seperti itu." Naufal menyesal. Lelaki itu tertampar dengan penuturan Nadira yang selalu saja tepat. Perbuatannya tidak dapat dibenarkan meski dirinya dan Farhan memiliki permasalahan pribadi yang urung terselesaikan dengan baik.
"Terima kasih karena telah mengerti, Naufal. Meski kita dekat, dan dirimu memiliki masalah dengan Farhan, jujur aku tidak mungkin meninggalkan dia. Kami telah lebih dulu bersahabat, selama ini dia selalu ada di saat diriku sedang dilanda masalah. Aku tidak dapat memihak kepadamu sepenuhnya dan meninggalkan Farhan begitu saja meski ia yang bersalah. Aku akan tetap berada di sisinya untuk menasihatinya, karena aku tahu betul jika dia tidaklah seburuk yang dirimu kira sekarang." Seakan mengerti dengan isi pikiran Naufal, Nadira kembali membuat sang ketua osis itu merasa tertampar. Nadira benar-benar menjaga persahabatannya dengan Farhan meski rasa nyamannya telah semakin menjadi-jadi ketika berdekatan dengan sang ketua osis.