Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 68



Arif masih mempertahankan pandangannya pada punggung Jihan yang perlahan-lahan menghilang. Acara makan sore barusan berlalu dengan kecanggungan yang teramat, karena sebab ucapan Kesya, Arif dan Jihan serempak tak kembali bicara setelahnya, kecuali sebatas untuk berpamitan pulang.


"Apa maksudmu, Kesya? Aku tidak senang dengan perkataanmu kepada Jihan tadi. Seharusnya dirimu tidak berkata seperti itu," omel Arif tidak senang. Ia kesal dengan celetukan Kesya yang membuat suasana menjadi aneh secara mendadak.


"Memangnya di mana letak kesalahannya? Kalian berdua memang lah cocok. Kalian memiliki hobi yang sama, untuk itu sudah pasti kalian berdua akan bahagia apabila bersama," jawab Kesya.


"Tahu apa kamu dengan kebahagiaanku, Kesya? Jika dirimu tahu, jelas bukan hal seperti ini yang dirimu lakukan kepadaku." Arif menatap Kesya dengan kecewa. Kali ini ia menerima luka yang lebih menyakitkan daripada yang sebelum-sebelumnya. "Jika dirimu tidak ingin menerimaku, sungguh itu bukan masalah. Namun, jangan pernah sekalipun menawarkan kepadaku hati yang lain, hati yang tidak aku inginkan," tegasnya menutup percakapan sore itu.


***


Nadira sampai di kamar tidur Fauzan, dan ia melihat dua orang laki-laki berbeda generasi berada di sana. "Hai," sapanya seraya melangkahkan kakinya masuk ke kamar tersebut.


Sontak Naufal menoleh, menyunggingkan senyumnya ke arah Nadira. "Apakah sudah melakukan teleponnya? Bagaimana kata kedua orang tuamu? Apakah dirimu diperkenankan untuk tinggal di sini beberapa waktu?"


Nadira mengangguk. Ia pun merasa senang berada di rumah Naufal untuk beberapa waktu. Selain karena dapat berinteraksi dengan Fauzan, ia pun menjadikan keberadaan Naufal di sekitarnya sebagai alasan. "Ibuku memperbolehkan aku berada di sini, asalkan sebelum hari menjelang malam. Jadi, aku akan pulang sekitar jam enam nanti."


Naufal melihat jam dinding sejenak, dan ia menaksir sisa waktu yang dimiliki Nadira untuk berada di rumahnya yakni satu jam lagi. "Nanti biarkan aku yang mengantarmu pulang. Sekarang aku minta tolong kepadamu untuk temani Adikku sebentar, sebab aku harus menyiapkan makanan sebelum dirimu pergi," ucapnya.


"Aku hanya akan menyiapkan makanan yang sangat sederhana untuk kita bertiga nikmati bersama. Lagi pula, tadi Fauzan berkata kepadaku bahwa dia ingin dirimu menemaninya makan. Jadi, aku mohon kepadamu jangan menolak, ya?" bujuk sang ketua osis itu.


"Bagaimana, Kak Na? Aku ingin Kakak makan bersamaku. Apakah Kakak tidak merasa keberatan?" tanya Fauzan.


Nadira tak memiliki alasan untuk menolak, hingga anggukan kepalanya menjadi jawabannya menyetujui ajakan adik dari sang ketua osis itu.


***


Sepanjang perjalanan, Arif dan Kesya tak terlibat sedikitpun obrolan. Arif masih merasa kesal dengan Kesya, dan gadis itu kini tengah bergelut dengan perasaan bersalah atas apa yang telah ia lakukan kepada lelaki yang sedang memboncengnya itu.


Sampai di depan gerbang rumah Kesya, Arif menghentikan motornya tanpa mengeluarkan sepatah katapun kepada gadis yang diantarnya itu.


"Terima kasih karena telah membawaku pergi berjalan-jalan, makan, lalu mengantarku pulang," ucap Kesya seraya turun dari motor Arif, kemudian berdiri tepat di sisi lelaki itu. "Dan maafkan aku atas ucapanku tadi. Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu. Aku hanya ingin dirimu memiliki dan dimiliki oleh hati lain, hati yang jauh lebih baik dariku," imbuhnya.


Arif tak memberikan jawaban atas penjelasan Kesya barusan. Ia hanya bergerak untuk mengambil helmnya di tangan Kesya, kemudian melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya.